Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream – Isu soal kesehatan mental kini sedang jadi perhatian. Bukan hanya dialami orang dewasa tetapi juga remaja dan anak-anak. Pemicu gangguan mental biasanya karena peristiwa dalam kehidupan yang berdampak besar pada kepribadian dan perilaku seseorang.
Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan rumah tangga, pelecehan, atau stres berat. Gangguan tersebut bisa mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan. Hal ini dapat memicu keinginan menyakiti diri sendiri. Oleh karena itu, kesehatan mental harus terus dijaga dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Bagi orangtua, tentunya Anda khawatir mengenai kesehatan mental anak. Dikutip dari Parents ada beberapa perilaku anak yang harus diwaspadai orangtua. Jika muncul gejala berikut bisa jadi anak mengalami stres atau masalah mental.
Jam tidur
Setelah fase bayi, seorang anak memiliki jam tidur sepuluh jam setiap harinya. Anak yang mengalami depresi, terkadang sering mengantuk dan mudah tertidur di siang hari. Seseorang yang mengalami Attention Deficit Hyperactivity (ADHD) atau Disruptive Mood Dysregulation Disorder (DMDD) kerap mudah tidur dan bangun tiap malam.
Sakit perut
Keluhan yang sering dikeluhkan anak ialah sakit perut. Tapi, sakit perut ini berbeda, karena tidak disebabkan oleh sembelit atau gangguan makanan. Suatu penelitian mengungkapkan bahwa adanya hubungan GI (Gastroenteritis), suatu infeksi pada usus atau perut yang disebabkan oleh beberapa jenis virus dan bakteri terhadap kecemasan dan depresi seseorang.
Obsesif
Obsesif atau Obsessive Compulsive Disorder (OCD) merupakan gangguan yang ditandai dengan pikiran negatif, membuat penderita merasa gelisah, takut, dan khawatir. Umumnya, anak-anak yang menderita OCD takut akan kuman dan selalu merasa tidak aman. Mereka akan mencuci tangan berkali-kali dan merasa tidak nyaman. Hal ini dapat menganggu aktivitasnya.
Tidak mudah merasa senang
Anak-anak normal pastinya memiliki sebuah keinginan dan kesenangan, tapi berbeda lagi dengan anak yang depresi. Mereka tidak tertarik pada apa pun, termasuk hal yang sebelumnya membuat mereka senang.
“ Umumnya Anda akan melihat ketidaktertarikan anak dalam berbagai hal, termasuk suatu kesenangan. Hal ini pun terjadi kepada sesuatu hal yang dulu ia sukai,” ujar Joan Luby, Direktur Program Pengembangan Emosional Fakultas Kedokteran Universitas Washington, AS.
Sering merasa bersalah
“ Seorang anak yang depresi merasa sangat ketakutan ketika melanggar suatu peraturan atau hal-hal kecil,” ungkap Dr. Luby. Suatu penelitian menunjukkan bahwa pada anak normal area otaknya yang disebut insula depan lebih kecil daripada anak yang depresi. Hal ini pun memengaruhi depresi seseorang.
Mudah marah
Keseharian yang mudah agresi, merusak, dan perilaku-perilaku emosi yang tidak normal dan berlebihan menjadi salah satu gejala dari gangguan mental.
Perilaku ekstrem
Penelitian yang dilakukan Dr. Luby pada anak-anak prasekolah yang mengalami depresi, menemukan bahwa anak depresi cenderung melakukan hal ekstrem. Bahkan mereka menyakiti diri sendiri. Bisa saja anak menyebut dirinya bodoh, jelek atau tak berharga. Kadang disertai membenturkan diri ke meja atau menggores tangan dengan pensil tajam.
Laporan Dina Nazhifah
Sumber: Parents
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest