Dampak Luar Biasa Penggunaan Kendaraan Listrik di Jabodetabek

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 23 Oktober 2018 19:16
Dampak Luar Biasa Penggunaan Kendaraan Listrik di Jabodetabek
Ketergantungan energi fosil akan berkurang dengan adanya kendaraan listrik.

Dream – Menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), penggunaan kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor, akan menekan konsumsi BBM di Jabodetabek. Kendaraan listrik bisa mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

" Jadi di kelistrikan produksi kita tinggi sehingga kita melihat sektor transportasi bagaimana kita memanfaatan kelistrikan ini untuk menjawab liquid fossil fuel," kata Deputi Bagian Teknologi, Informasi, Energi dan Mineral (TIEM) BPPT, Eniya Listiani, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 23 Oktober 2018.

Dalam 'Outlook Energi Indonesia 2018' yang dikeluarkan BPPT, tercatat bahwa total penghematan BBM pada tahun 2025 hingga tahun 2050 untuk bensin sebanyak 3,8 juta kiloliter (KL) dan untuk solar sebesar 0,3 juta KL. Mobil dan motor listrik diasumsikan mulai digunakan tahun 2025. Pangsa pasarnya sebesar 1 persen dari total penjualan kendaraan baru di Jabodetabek dan meningkat secara bertahap menjadi 100 persen pada 2050.

“ Kami perhitungkan angka dari Kementerian Perindustrian, prediksi kendaraan listrik berapa," kata dia.

Dengan asumsi tersebut, jumlah mobil listrik pada tahun 2025 sebanyak 21 ribu unit, sedangkan motor listrik sebanyak 34 ribu unit. Angkanya meningkat sebanyak 2,10 juta unit mobil listrik dan sebanyak 3,40 juta motor listrik pada tahun 2050.

Konsumsi energi spesifik dari mobil penumpang di Jabodetabek sebesar 8,3 liter per 100 km dan mobil listrik sebanyak 15,58 kWh per 100 km, sedangkan untuk motor sebesar 2 liter per 60 km dan motor listrik sebesar 3 kWh per 60 km.

1 dari 1 halaman

Tekan Konsumsi BBM hingga 22 Persen

Dengan demikian, pemanfaatan kendaraan listrik di Jabodetabek, selain berpotensi mengurangi konsumsi BBM, juga menurunkan tingkat kebutuhan energi mobil penumpang dan sepeda motor dari 86 juta SBM menjadi 67 juta SBM atau menurun sebesar 22 persen pada tahun 2050. Kebutuhan listrik akan meningkat dari 11,5 GWh pada tahun 2025 menjadi 9,14 TWh pada tahun 2050.

“ Tentu saja jawaban dari masalah transportasi ini kalau kita mensubstitusi BBM itu dengan energi yang berkelanjutan,” kata dia.

Dengan dimanfaatkannnya kendaraan listrik (mobil penumpang dan sepeda motor), Eniya mengharapkan PLN dapat mengembangkan 1.000 stasiun pengisian listrik umum (SPLU) tipe fast charging, sehingga memudahkan dalam proses pengisian baterai.

Dia juga berharap pemerintah segera memikirkan penanganan dari limbah baterai yang sudah tak digunakan lagi. Dengan begitu, limbah baterai tak menyebabkan masalah lingkungan.

Tidak kalah pentingnya, pemerintah perlu mendorong pengkajian dan pengembangan baterai kendaraan listrik. Tujuannya, pelaksanaan kebijakan pemanfaatan kendaraan listrik tidak menjadikan Indonesia hanya sebagai penonton masuknya impor beragam produk baterai listrik.

Beri Komentar