6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Dr. Yumiko Kadota (Foto: Facebook)
Dream - Menjadi seorang dokter spesialis memang harus melewati proses yang tidak mudah. Kesibukan di rumah sakit, membuat laporan, belum lagi belajar untuk ujian dan menghadapi 'tugas' dari para dokter-dokter senior.
Apa yang dialami dr. Yumiko Kadota (31) seakan membuka fakta kalau dokter kerap menjalani 'kerja rodi'.
Dikutip dari World Of Buzz, Kadota menceritakan pengalamannya saat bekerja di Bankstown-Lidcombe Hospital, Austria pada Februari 2018.
Selama tiga bulan bekerja di RS tersebut, setiap hari mulai pukul 07.30 sudah harus siaga, tak ada libur. Setiap saat harus menerima panggilan dari rumah sakit.
" Dalam satu bulan aku hanya punya waktu 4 malam untuk bisa tidur tanpa ditelepon RS, hari-hari berikutnya tak bisa diprediksi. Dokter IGD bisa menghubungiku meski tak ada permasalahan serius dan saat aku komplain, ia mengatakan berhentilah menjadi seorang wanita yang emosional," ungkap Kadota.
Hidup Kadota sangat tidak teratur. Makanan yang dikonsumsinya sebagian besar makanan praktis dan tidak sehat.
Puncak dari kesengsaraan terjadi pada Kadota di bulan April. Kondisi tubunya memburuk.
Hasil pemeriksaan menunjukan jika Kadota mengalami stres, dehidrasi nutrisi buruk, kurang tidur dan masalah usus.
" Dokter yang memeriksaku tahu riwayat kesehatanku sejak kecil karena dokter keluarga. Ia tahu kalau aku mengalami kelelahan fisik dan mental. Akhirnya pada 1 Juni aku mengundurkan diri," ungkap Kadota.

Padahal saat itu pilihan mengundurkan diri akan sangat berdampak buruk bagi kariernya sebagai dokter bedah.
Tapi hal itu harus dilakukannya. Ia bahkan harus menjalani perawatan karena insomnia dan post-traumatic selama 3 minggu.
Setelah mengundurkan diri, kini Kadota memilih aktivitas yang lebih sehat bagi tubuh dan pikirannya. Ia melakukan yoga dan bahkan menjadi instruktur, kondisinya pun jauh lebih baik dan menginspirasi banyak orang untuk melakukan keputusan tepat bagi kesehatan fisik dan jiwa.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
