Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Syahroni (Foto: Istimewa)
Dream - Para pengendara mobil ambulans harus memiliki kelihaian mengendarai mobil di atas rata-rata. Di saat harus berpacu dengan waktu mengantar pasien ke rumah sakit, para pengendara ini harus bisa menyelip di antara mobil kala kondisi lalu lintas tengah macet.
Selain kemampuan mengemudi, salah satu modal lain untuk bertahan sebagai sopir ambulans adalah semangat dan keyakinan pada kemampuan diri sendiri.
Kedua hal itulah yang ditunjukan seorang pengendara mobil ambulans bernama Syahroni.
Di saat banyak pengendara hidup dengan kesempurnaan alat tubuh, lelaki asal Pandegelang, Banten, harus mengemudikan mobil ambulans dengan satu kaki palsu. Namun kondisi ini tak membuat kemampuannya berkendara diragukan.
Syahroni merupakan penyandang disabilitas yang mengalami kecelakaan fatal saat bekerja di tahun 2000 silam. Dia harus kehilangan kaki kirinya ketika mengalami kecelakaan.
Dalam kondisi kritis, Syahroni mengalami koma selama tiga hari dan menghabiskan hingga 36 kantong darah. Tak hanya itu, beban Syahroni sempat besar karena harus menanggung biaya pengobatan hingga Rp65 juta.
Cobaan tersebut tak membuatnya patah semangat. Setelah berjalannya waktu, Syahroni mulai berdamai dengan kondisi tubuhnya. Hidup dengan kaki palsu.
Berjalan dengan kaki palsu tak lantas membuatnya jadi orang yang menyerah dengan keadaan. Dia tetap bisa mengendarai mobil ambulans dengan baik seperti orang normal pada umumnya. Meski perjuangan saat pertama kali menjadi sopir dilaluinya secara tak mudah.
Syahrono awalnya harus menggunakan mangkok yang diletakkan di pedal kopling agar tak lepas dari pijakan kaki palsunya. Perlahan-lahan setelah bisa menguasai badannya, Syahroni bisa berkendara dengan menggunakan kaki palsunya langsung.
" Tadinya saya pakai mangkok, kopling saya akalin supaya jangan lepas, tapi sekarang saya buka," ungkapnya.
Kelihaiannya dalam mengendarai mobil tak perlu diragukan lagi. Syahroni sudah bolak-balik ke Lampung sebanyak dua kali. Perjalanan dalam dan luar kota sudah lagi tak terhitung.
Bahkan mobil ambulans yang dikendarainya kerap digunakan untuk keperluan lain, misalnya membawa rombongan ziarah.
" Alhamdulillah, pakai mobil ini saya sudah ke Lampung dua kali, kalau ke Jakarta itu tiap pekan, ke Bandung, ke Cikampek, kemarin saya bawa rombongan ziarah," ujarnya.
Syahroni bersyukur karena dalam keterbatasannya, ia masih dapat beraktivitas dan membantu orang lain. Ia berharap, apa yang dilakukannya dapat mendatangkan keberkahan bagi dirinya dan keluarga.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya