Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Sel Kanker (Foto: Shutterstock)
Dream - Kanker disebut sebagai penyakit paling mematikan karena memiliki daya sebar yang cepat. Tanpa disadari, kanker mampu menjangkau seluruh tubuh manusia bagian mana pun, termasuk sistem kelenjar getah bening (limfe).
Kanker yang menyerang sistem kelenjar getah bening ini disebut dengan Limfoma Hodgkin (LH). Meskipun terbilang langka jika dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, LH juga tidak kalah berbahaya.
Di Indonesia, ada sekitar 1.168 kasus LH dengan angka kematian sebesar 678 pada tahun 2012. Angka ini diprediksi akan meningkat pada 2020 dengan kasus baru sebesar 1.313 dan angka kematian sebesar 811.
Lalu apa pemicu kanker getah bening?
" Limfoma Hodgkin terjadi akibat sel darah putih dalam kelenjar getah bening yang berlipat ganda secara abnormal sehingga bermutasi menjadi sel kanker. Sel ini justru membunuh sel-sel sehat sehinga menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi," ujar dr. Arry Reksodiputro, Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik di Kuningan, Jakarta, Rabu 17 Desember 2018.
Limfoma hodgkin ditandai dengan pembengkakan di area kelenjar seperti leher, ketiak dan pangkal paha. Gejala ini sering disalahartikan sebagai gondok dan TBC kelenjar. Hal yang membedakannya adalah, LH disertai dengan demam, keringat, kelelahan, gatal-gatal, batuk, hilang nafsu makan hingga berat badan menurun sebesar 10 persen lebih.
Penyakit ini lebih banyak ditemui pada pria, yakni sebanyak 60 persen. Sementara 1/3 penderitanya berada pada rentang usia 15-30 tahun. Deteksi dapat dilakukan dengan cara biopsi, yakni pengambilan sampel dari sel tubuh.
Sedangkan pengobatannya hanya dapat dilakukan dengan metode terapi ataupun prosedur pencangkokan sumsum tulang belakang.
" Kendati demikian, angka harapan hidup di Indonesia masih berkisar 30 - 40 persen. Sementara 30 persen dari pasien yang sembuh beresiko kambuh," ujar dr. Arry.
(Sah/Laporan Annisa Mutiara)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya