Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kondisi emosi anak-anak cenderung belum stabil. Saat emosinya meninggi, mereka bisa mengamuk, menangis, berteriak, menendang bahkan mengeluarkan kata-kata kebencian. Hal ini tentu saja membuat situasi jadi 'panas' dan tak terkendali.
Sangat sulit bagi orangtua, baik ayah dan ibu, berusaha tenang dalam kondisi ini. Respons yang sering muncul justru emosi orangtua juga terpancing. Apalagi jika anak berteriak 'aku benci
ibu/ayah' atau ketika mengungkap 'ibu/ayah sangat menyebalkan'.
" Biasanya hal itu terjadi saat anak tak bisa mengungkapkan keinginannya dengan jelas, tak dibiasakan menyampaikan emosi yang dirasakannya. Bisa juga karena orangtua tak bisa diajak
berdiskusi atau berkompromi," ujar Dayna Ray, seorang pengajar dan praktisi pengasuhan anak.
Dayna seringkali menghadapi emosi anak-anak yang sangat tinggi tersebut dan selalu berusaha untuk tidak terpancing. Ia punya mantra khusus untuk menenangkan dirinya dalam
menghadapi anak-anak dengan emosi tinggi.
" Setiap anak-anak berteriak kebencian atau mengatakan mereka benci padaku aku menggantinya di kepalaku dengan 'aku butuh ibu'. Mereka belum bisa mengontrol dan mengungkapkan emosinya dengan baik dan sangat membutuhkanku, itu merupakan kondisi nyata kalau anak-anak tersebut benar-benar membutuhkan ayah dan ibu untuk menenangkannya," ungkap Dayna.
Alih-alih memberi hukuman atau merespons emosi anak dengan kemarahan juga Dayna lebih sering mengungkapkan perasaannya. Ia biasanya berusaha mengerti yang dirasakan anak-anak
dengan mengatakan 'aku tahu kamu membenciku dan merasa seperti itu, tapi aku tetap sayang kamu'.
" Anak-anak akan merasa kalau orangtua berusaha mengerti perasaan frustasinya dan tak membenci serta tetap menyayanginya. Otaknya akan mempelajari kondisi tersebut, di mana ketika emosi negatif muncul tak lantas membuat orang jadi saling membenci," ujar Dayna.
Sumber: Lemon Lime
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari