Sukses (2): Mie Ayam bagi Lulusan Terbaik, Puteri Buruh Tani

Reporter : Edy
Senin, 12 Januari 2015 18:21
Sukses (2): Mie Ayam bagi Lulusan Terbaik, Puteri Buruh Tani
Sempat makan nasi dengan garam. Menolak menyerah. Jadi alumnus universitas tersohor dengan nilai tertinggi.

Dream - Hari masih gelap. Azan subuh baru setengah jam lalu berkumandang. Namun kesibukan sudah tampak di rumah Supriyanto, buruh tani berusia 45 tahun itu. Usai salat subuh bersama istrinya, Sugiyanti, dia sudah berpakaian rapi. Tentu bukan hendak pergi ke sawah.

Ini hari istimewa, bagi keluarga yang tinggal di Desa Cibuk Lor 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Puteri bungsu  mereka,  Angga Dwi Tuti Lestari, 22 tahun, hari itu akan diwisuda menjadi sarjana  di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Satu-satunya sarjana di keluarga sederhana itu.

Seorang tetangga, bermurah hati mengantar keluarga itu. Dia pinjamkan mobil sekaligus mengemudikannya. Nenek Angga yang berusia 60 tahun ikut dalam rombongan kecil itu. Jelang terbit matahari, rombongan berangkat ke Solo.

Mereka sampai di Aula Gedung B Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (MIPA) UNS sejam kemudian. Penanggalan di telepon seluler Angga menunjuk hari Senin, 16 Juni 2014. Setiba di kampus, Angga bergabung bersama rombongan mahasiswa lainnya.

Sementara orang tuanya masuk lewat pintu undangan. Supriyanto minder melihat penampilan orang tua mahasiswa lainnya yang rapi. Ia pun mengajak rombongan kecilnya memilih bangku paling pojok di barisan paling belakang. Nyaris tak terlihat.

Tepat pukul 09.00 WIB prosesi wisuda dimulai. Angga diberi kesempatan memberi sambutan mewakili mahasiwa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, yang diwisuda. Mendengar nama anaknya disebut, wajah Supriyanto dan istri tampak bangga.

Saat itu Angga mengucapkan terimakasih pada pihak Dekanat yang banyak membantu dalam studi hingga biaya kuliah. Maklum, Angga adalah mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, sebuah  bantuan biaya pendidikan yang hanya ditujukan untuk calon mahasiswa miskin sejak tahun pertama kuliah, 2010 lalu.

Tibalah saat sambutan Dekan Fakultas MIPA UNS,  Prof. Ir. Ari Handono Ramelan, MSc (Hons), PhD. Sang dekan sempat mengulas sambutan Angga. Dan yang lebih mengejutkan, Dekan mengumumkan wisudawan terbaik UNS 2014. “ Dia adalah  Angga Dwi Tuti Lestari, mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA dengan perolehan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3.98.”

Suara tepuk tangan memenuhi Aula, siang itu. Supriyanto dan istri pun langsung mengucapkan syukur. Di tengah gemuruhnya tepuk tangan, Dekan meminta orang tua Angga berdiri.

Tubuh Supriyanto dan Sugiyanti gemetar. Susah payah mereka berusaha berdiri ketika sekitar seribuan pasang mata memandang ke arah mereka. Saat melihat sosok pasangan itu, tepuk tangan makin bergema dan berlangsung panjang.

Kedua orang tua Angga sungguh terkejut. Karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan dari universitas bahwa anak mereka menjadi wisudawan terbaik. Mereka tak mampu menahan haru. Di tengah tepuk tangan yang membahana, keduanya menangis tersedu. Melihat orang tuanya menangis bahagia, di atas panggung, Angga juga ikut menangis terharu.

Usai acara, Supriyanto mendatangi Angga. Ia berkata pada anaknya: “ Kalau bapak tahu kamu jadi lulusan terbaik, bapak akan pakai baju yang lebih baik,” ujarnya seperti yang dituturkan ulang oleh Angga pada Dream.co.id dengan suara tercekat, Sabtu 10 Januari 2014.

Ritual belum selesai....

1 dari 2 halaman

Mie Ayam Jadi Ritual Kecil

Ritual belum selesai. Seusai menghadiri wisuda bersama mahasiwa fakultas lain di Auditorium Kampus UNS, dan meladeni wawancara dengan belasan wartawan media massa, rombongan kecil ini pulang ke Yogya. 

Saat itu sudah hampir jam sembilan malam. Rombongan kecil itu kemudian berhenti di Cebongan, Mlati, Sleman. Tepatnya dekat lembaga pemasyarakatan Cebongan. Di sana ada sebuah gerobak mie ayam yang masih buka di pinggir jalan. Di sanalah mereka berhenti. Lalu menikmati mie ayam seharga Rp 5.000 per porsinya.

“ Tradisi ini sudah lama. Sejak kelas 1 SD saat jadi juara kelas saya selalu dibelikan bapak mie ayam. Saat saya jadi wisudawan terbaik pun, hadiah dari bapak tetap mie ayam.” ujar Angga.

Angga sendiri merasa bahagia pada ritual kecil itu. Pada saat ia duduk di kelas 1 sampai 5 SD, dia biasanya hanya dibelikan mie ayam sekali setahun. Karena saat itu pendapatan ayahnya yang cuma tamatan SMP itu memang pas-pasan. Barulah setelah kelas 6 SD sampai kelas 3 SMA, dia ditraktir ayahnya setiap semester, saat dia selalu menyabet juara satu.

Angga sendiri memandang serius makna mie ayam hadiah ayahnya itu. “ Arti mie ayam itu luar biasa. Membuat saya tidak melihat segala sesuatu dengan uang. Yang penting bagaimana bisa berguna bagi orang tua dan membantu orang, itu sudah luar biasa.”

Sebagai anak seorang buruh tani, Angga pun sempat merasakan saat-saat pahit. Itu terjadi saat ia mau naik kelas 6 SD. Saat itu, sawah garapan ayahnya gagal panen. Ayahnya lalu bekerja jadi kuli bangunan. Tapi itu pun dia ditipu sehingga tak membawa uang ke rumah. Akibatnya Angga dan kakak laki-lakinya yang usianya terpaut dua tahun di atasnya, Eka Galih Purnama, terpaksa hanya makan nasi beserta garam.

Tapi kesulitan itu tak membuat ayah atau ibunya yang cuma bersekolah sampai kelas 2 SD, menyetop sekolah Angga dan kakaknya. Bagi ayah dan ibunya pendidikan tetap nomer satu. “ Hidup susah tidak apa-apa, yang penting pendidikan nomer satu,” kata ayahnya seperti dikutip Angga, lagi-lagi dengan suara tercekat.

Itulah juga yang membuat ibunya rela berhutang bagi biaya sekolah saat Angga duduk di TK. Saat itu ibunya meminjam uang  ke rentenir Rp 100 ribu. Lalu Rp 300 ribu. Namun karena hidup tengah susah, utang itu tak mampu terbayar. Akhirnya utang itu sampai tahun 2014 membengkak sampai Rp 10 juta karena terus berbunga.

Kesulitan hidup itu juga yang membuat kakak Angga, Eka Galih Purnama, memilih bekerja setelah menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Padahal, kata Angga, kakaknya lebih pintar dari dirinya. Ia adalah lulusan terbaik nomer dua di SMK itu. Sehingga saat dia lulus SMK empat tahun lalu, dia langsung direkrut dan bekerja di PT Trakindo Balikpapan, Kalimantan Timur. Kakaknya juga yang mencicil utang ibunya. Dan utang Rp 10 juta itu baru lunas akhir tahun kemarin.

Saat memilih bekerja, Eka sempat berpesan pada Angga, “ Biar saya yang bekerja, kamu yang tetap sekolah,” ujar Angga mengenang dengan suara parau nyaris menangis. Menurut Angga, pengorbanan kakaknya itu pula yang memacu dirinya untuk mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga.

Saat kuliah...

2 dari 2 halaman

Kemiskinan Itu Bukan Takdir

Saat kuliah, Angga menerapkan pola hidup sederhana seperti yang dilakukan orangtuanya. Dia juga tak mau membebani ayah dan ibunya yang cuma buruh tani. Hanya dengan bekal uang Rp600 ribu per bulan dari beasiswa Bidikimisi dan uang saku Rp50 ribu per bulan dari orangtua, Angga mampu menyelesaikan kuliahnya dalam tempo empat tahun.

Angga juga merintis usaha kecil-kecilan. Begitu dia mendapat beasiswa Bidikmisi, beasiswa tersebut dia gunakan untuk merintis usaha jus organik. Pelan namun pasti, usaha jus organik yang dirintis di kampung halamannya, yaitu di Yogya berjalan cukup sukses.

" Setiap bulan saya menabung Rp100 ribu. Setelah terkumpul Rp1 juta saya gunakan untuk buka usaha itu. Bahkan saya mampu menyewa tempat kecil-kecilan di depan SMP 1 Godean," ujar wanita berhijab ini.

Berkat jus organik juga, Angga terinspirasi membuat makalah “ One Student One Tree.” Hingga akhirnya, Angga mendapatkan kepercayaan penuh mewakili Indonesia bersama dua mahasiswa lainnya dalam pertemuan World Student Environment Summit yang diikuti 34 negara di Jerman pada 2013 lalu.

Selepas lulus dari kuliah, Angga Dwi Tuti Lestari kini bersiap untuk melanjutkan studi ke Belanda. Karena memiliki nilai IPK tinggi, hijaber anak buruh tani ini memang mendapatkan tawaran beasiswa dari Lembaga Pengelola Lembaga Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Tak ingin beasiswa yang diberikan sia-sia, Angga terus belajar keras meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris yang diisyaratkan untuk menempuh studi di negeri kincir angin tersebut. 

Sambil mempersiapkan diri, ia juga mengisi kegiatan dengan mengajar di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di desanya setiap akhir pekan. Seperti saat dihubungi Dream.co.id, Sabtu petang kemarin, Angga meminta wawancara diundur malamnya karena dia tengah sibuk mengajar Iqra di TPA tersebut.

“ Dalam program beasiswa S2 saya mengambil Jurusan Plant Biology and Natural Product,” kata gadis yang bercita-cita menjadi dosen ini.

Cerita tentang Angga barangkali adalah sebuah kisah tentang kegigihan di tengah keterbatasan. Walau sejak kecil terperangkap oleh kesulitan ekonomi, Angga dan keluarga tak pernah menyerah dalam keterbatasan. 

Justru keterbatasan dijadikan Angga sebagai cambuk untuk maju. Dan, usaha keras Angga kini berbuah manis. Ia menjadi wisudawan terbaik universitas tersohor dengan nilai tertinggi. Kemiskinan dan keterbatasan karenanya bukan takdir. Ia selalu bisa dilawan. Selama asa masih di kandung badan...

Beri Komentar