5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Otak Anak (Foto: Shutterstock)
Dream - Dalam hal pengasuhan, sebagian besar masyarakat cenderung menerapkan pola asuh yang lebih halus dan lembut pada anak perempuan. Sementara pada anak lelaki lebih tegas dan disiplin. Tapi jika dilihat dari kondisi otak dan psikologisnya, ternyata anak lelaki butuh dukungan emosi yang lebih besar dari orangtuanya dibandingkan anak perempuan.
Hal tersebut terungkap dalam studi yang dilakukan seorang psikiater, Sebastian Kraemer bertajuk " The Fragile Male" pada tahun 2000. Menurutnya, saat masih dalam kandungan otak bayi lelaki lebih reaktif pada kondisi stres dan depresi yang dialami ibu.
Lalu setelah dilahirkan kondisi otak bayi laki-laki tertinggal dibandingkan bayi perempuan selama enam minggu penuh. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak laki-laki memiliki kadar
kortisol lebih tinggi (hormon stres) setelah kelahiran traumatis di mana mereka terpisah dari ibu mereka.
" Otak bayi perempuan memiliki kelebihan di awal yang tetap stabil setelah dilahirkan, sementara otak anak laki-laki sedikit tertinggal perkembangannya dan mereka harus 'berjuang' dan butuh lebih banyak dukungan," ungkap Kreamer.
Seiring bertambahnya usia anak laki-laki ini akan terus berjuang agar kemampuan otaknya lebih baik dan stabil, begitu juga kondisi emosi dan psikologisnya. Jika anak laki-laki tak mendapat dukungan emosional yang mumpuni maka bisa berdampak buruk.
" Beberapa penelitian juga menemukan kaum pria lebih rentan terhadap disleksia dan sulit membaca dan serta belajar bahasa, hal ini membuat aktivitas sekolah dan belajar menjadi sulit. Anak laki-laki juga lebih cenderung berisiko memiliki masalah ADHD daripada anak perempuan," ungkap Kraemer.
Ia juga mengungkap kalau mengasuh anak laki-laki pada umumnya lebih sulit. Hal ini karena kondisi otaknya memang agak tertinggal dari anak perempuan dan sangat rapuh. Untuk itu justru mereka butuh lebih banyak dukungan emosi baik dari orangtua, guru maupun pengasuhnya.
" Kita memiliki stereotip budaya yang berbahaya yang memandang anak laki-laki sebagai pihak kuat. Orangtua kadang hanya memberikan pengasuhan emosional intensif apada anak perempuan tapi tidak pada anak laki-laki, padahal justru anak laki-laki lebih membutuhkannya," ujar Kraemer.
Sumber: Huffingtonpost.com
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman