7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Shutterstock
Dream - Ketika membeli produk skincare terbaru, pasti banyak orang yang tidak sabar untuk mencoba menggunakannya. Namun, hal ini juga pasti membuat banyak orang khawatir apakah produk tersebut bakal cocok atau tidak di kulit mereka.
Untuk itu, sebaiknya melakukan patch test setiap kali ingin mencoba produk skincare baru. Walaupun sering diacuhkan, metode ini penting untuk menghindari kulit dari potensi reaksi yang tidak diinginkan.
Untuk mengetahui tentang cara dan pentingnya melakukan patch test, simak ulasan berikut ini yang Dream rangkum dari skincare.com.

Patch test merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui apa kulit alergi atau bereaksi terhadap bahan kimia atau bahan tertentu saat bersentuhan dengan kulit. Hal ini dilakukan dengan mengoleskan sedikit produk ke area kulit dan menunggu beberapa hari untuk melihat apakah kulit mengalami semacam reaksi.
Menurut dermatolog Dr. Lisa Nyanda-Manalo, jika kulit menjadi merah, gatal, atau menonjol ketika diaplikasikan di area yang diuji, bisa jadi menandakan respons alergi terhadap bahan dalam produk tersebut.
Kamu bisa melakukan patch test dengan dokter kulit, ataupun melakukannya sendiri di rumah.
Untuk melakukannya, oleskan produk pada sedikit area kulit, direkomendasikan di bagian dalam lengan karena lebih tidak mungkin tergores atau termanipulasi setelah diaplikasikan. Kemudian, diamkan produk dengan waktu yang ditentukan produk tersebut.
Dr. Lisa mengungkapkan bahwa reaksi kulit mungkin tidak terjadi secara langsung, oleh karena itu disarankan untuk melakukan patch test dua kali sehari selama tujuh hari.
Jika terdapat reaksi, langsung bersihkan area kulit yang diuji dengan air dingin. Namun jika tidak ada reaksi sampai 7 hari, kemungkinan reaksi kulit rendah.

Walaupun terlihat buang-buang waktu, melakukan patch test penting untuk mengevaluasi kemungkinan kepekaan termasuk alergi pada kulit. Hal ini dapat mengetahui produk dan bahan apa saja yang bisa kamu pakai dan harus dihindari.
Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita
(Sumber: Skincare)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?