Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sumber : Wikipedia
DREAM.CO.ID - Papua terkenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan kuliner beragam. Salah satunya adalah hidangan tradisional yang semakin menarik perhatian wisatawan berupa sate ulat sagu.
Meski penampakannya terbilang tak lazim untuk masyarakat dari daerah lain, sate ulat sagu ini telah menjadi makanan khas warga Papua di wilayah pesisir dan hutan sagu.
Dilansir dari laman Wikipedia, makanan yang terdengar ekstrem bagi sebagian orang ini telah lama menjadi sumber protein penting bagi masyarakat Papua.
Ulat sagu yang digunakan biasanya diambil dari pohon sagu yang sudah tua. Setelah dibersihkan, ulat ditusuk menggunakan tusuk sate lalu dibumbui sederhana atau langsung dibakar tanpa tambahan bumbu.
Aroma gurih langsung tercium saat sate ini mulai dipanggang, menandakan lelehnya lemak alami yang menjadi ciri khas ulat sagu. Teksturnya lembut di bagian dalam dan sedikit renyah di bagian luar setelah dibakar.
Dengan rasanya yang gurih dan adanya pemanis alami, sate ulat sagu ini menjadi hidangan yang unik namun mudah dinikmati. Tidak sedikit wisatawan yang mengaku terkejut karena rasanya jauh lebih enak dari dugaan awal.
Bagi masyarakat Papua, ulat sagu bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya dan cara hidup yang selaras dengan alam.
Kehadiran sate ulat sagu di pasar tradisional maupun acara adat menunjukkan betapa pentingnya peran makanan ini dalam keseharian warga setempat.
Terlebih lagi, ulat sagu menjadi unsur penting dalam ritual perayaan oleh Suku Asmat. Sebuah ritual makanan yang disiapkan oleh Suku Kamoro dalam pemberian nama anak laki-laki mereka.
Di tengah meningkatnya minat terhadap kuliner tradisional dan makanan bergizi, sate ulat sagu semakin sering menjadi sorotan. Dengan kandungan protein tinggi dan cara penyajian yang sederhana, hidangan ini menjadi salah satu bukti kekayaan kuliner Nusantara yang patut dicicipi.
Sate ulat sagu dari Papua bukan hanya menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi, kearifan lokal, dan kedekatan masyarakat dengan alam.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya