Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Sering Langgar Aturan, Pengendara di Indonesia Sudah `Sakit`?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 24 September 2018 16:43
Sering Langgar Aturan, Pengendara di Indonesia Sudah `Sakit`?
Pelanggaran lalu lintas kerap dianggap hal yang biasa oleh sebagian pengendara di Indonesia.

Dream – Di Indonesia, tak tertib berlalu lintas seolah sudah menjadi budaya. Kurang rasa empati serta melanggar aturan dan rambu-rambu di jalan dianggap hal yang biasa oleh sebagian pengendara.

Dilansir dari Otosia, Senin 24 September 2018, ketidakpatuhan terhadap aturan lalu lintas telah mengakar kuat dan selalu terjadi berulang-ulang. Pemerintah juga kerap dituding belum berperan maksimal untuk menyadarkan dan menekan angka kecelakaan.

Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengatakan indikator perilaku “ sakit” pengguna kendaraan bermotor di Indonesia adalah sengaja selalu tak tertib.

Tipe pengendara ini selalu mencoba menggunakan kesempatan untuk mengambil hak-hak orang lain, seperti melewati bahu jalan dan melawan arah.Pelanggaran ini terjadi setiap hari.

1 dari 3 halaman

Apa Contohnya?

Jusri mencontohkan kasus pengemudi yang memaksa mengambil bahu jalan dan mengalami kecelakaan. Kasus ini menunjukkan pengemudi tidak tertib, tak paham, dan tidak menunjukkan empat.

“ Dia mengambil bahu jalan yang seharusnya bukan miliknya,” kata dia.

Contoh lainnya, ada bus yang menabrak truk di Tol Jagorawi. Usai melewati kendaraan lain di bahu jalan, bus ini menghantam truk, lalu terbakar. Puluhan orang penumpang bus terkena jilatan api.

“ Kecelakaan seperti ini sering. Mudah-mudahan kecelakaan iti mengingatkan kita yang suka mengambil bahu jalan untuk tidak melakukan hal yang sama. Setiap mengambil bahu jalan itu melanggar aturan. Konsekuensinya adalah kecelakaan,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Pelanggaran Lalu Lintas

Jusri mengatakan hampir 100 persen kecelakaan diawal dari pelanggaran lalu lintas. Selain rambu-rambu, ada juga beberapa aspek lain, seperti kondisi fisik dan psikis pengendara serta tak ada empati. Dia berkata orang-orang berpikir menerobos lampu merah adalah pelanggaran.

“ Padahal, melewati bahu jalan, melewati batas kecepatan seperti 60 km, tapi dia bawa lari 80 km per jam. Misal, dia sakit, paksa bawa mobil. Dia sedang capek, paksa bawa mobil. Itu pelanggaran. Itu ada undang-undangnya,” kata dia.

Jusri mengatakan pengemudi seharusnya sadar kondisi yang paling aktual sebelum menjalankan kendaraan.

Kalau ingin mengendarai, harus dipastikan keadaan jasmani dan rohanni dalam keadaan baik, termasuk kondisi teknis kendaraan dan kelengkapan surat.

3 dari 3 halaman

Justru Memaksakan Diri?

Sayangnya, dari banyak kasus kecelakaan di Indonesia, justru banyak pengendara yang memaksakan diri. Mereka tak menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan diri dan orang lain.

Meskipun sudah dilakukan upaya-upaya untuk menyadarkan dari sejumlah institusi pemerintah, swasta, dan individu, kecelakaan dari ego pribadi kerap terulang.

“ Ketika bawa kendaraan, keadaan jasmani dan rohani harus dalam keadaan sehat. Yang bisa mengukur sakit itu adalah orang itu,” kata dia.

Jusri mengatakan, misalnya, ada orang yang sakit flu, tapi tetap berkendara. Obat flu yang dikonsumsi ini bisa mempengaruhi nilai konsentrasi dan staminanya.

“ Ketika dia kena obat, konsentrasinya turun. Dia sakit, kondisi staminanya turun. Jadi, dia harus sadar betul dan tidak boleh memaksakan,” kata dia. (ism)

Beri Komentar