'Sihir' Evan Dimas Menembus La Liga

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 18 Februari 2016 21:43
'Sihir' Evan Dimas Menembus La Liga
Ia mendapat kesempatan berlaga di kerasnya kompetisi sepakbola negeri matador.

Dream - Kelihaian lelaki berpostur mungil mengolah si kulit bundar begitu menyihir. Kakinya gesit melakukan juggling. Tak kalah dari pemain kelas dunia seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Seperti dilapisi lem, bola selalu 'menempel' di kedua kakinya. Tak pernah jatuh ke tanah. Sesekali ia tahan dengan kepala dan dada. Penonton makin terkesima.

Belum selesai. Pemuda itu kembali unjuk kemampuan. Kali ini lewat tendangan kencang terukur dari luar kotak penalti. Bola sepakannya menghujam mulus ke jala gawang. Bravo!!

Pagi itu, 9 Februari lalu, pemuda asal Indonesia bernama lengkap Evan Dimas Darmono sukses membuat jagat sepakbola negeri Matador terpukau.

Evan baru saja menjalani rutinitas latihan perdana di klub Espanyol B. Aksi mantan kapten timnas Indonesia U-19 itu langsung diunggah akun twitter resmi La Liga yang berbahasa Inggris.

 Sihir Evan Dimas Menembus La Liga© Twitter

" @Evan_DD showing his skills!" tulis akun @LaLigaEN di caption foto.

Sejak kedatangan di Spanyol, 3 Februari 2016, Evan langsung menjadi sorotan. Televisi resmi La Liga lebih dulu melakukan wawancara ketika tiba di Stadion Cornella El Prat, markas klub RCD Espanyol, Bercelona.

Arek Surabaya ini merantau jauh ke benua biru. Demi menggapai mimpinya. Menjadi pemain sepakbola profesional. Evan akan berada lima bulan di negeri itu. Mengikuti program pengembangan bersama Espanyol B.

Kesempatan besar ini didapat Evan Dimas, bukan tanpa sebab. Performa apiknya sudah sejak lama dipantau. Pencari bakat dari Spanyol diam-diam mengawasi perkembangannya.

Gelandang 20 tahun itu juga memiliki kesempatan bergabung dengan tim utama Espanyol B jika mampu mencuri perhatian pelatih Lluis Planaguma.

" Kalau bisa lolos Alhamdulillah. Tapi, sebenarnya bukan itu intinya. Saya ingin belajar dulu, menimba ilmu yang banyak," tutur Evan.

Tanah Spanyol bukan kali ini dijejakan Evan. Ini kedua kalinya Evan tampil di klub Spanyol. Tahun lalu Evan pernah mengikuti trial di klub Divisi Dua Liga Spanyol, UE Llagostera.

Namun ketika itu, Evan gagal mendapatkan kontrak dari klub asal Catalan tersebut. Kini, Evan bertekad tak gagal lagi dan siap menjalani proses di klub Espanyol.

1 dari 2 halaman

Bekal Alquran dan Sarung

Salah satu persiapan terpenting bagi Evan Dimas saat hendak ke Spanyol adalah perlengkapan salat, seperti baju koko, sajadah, dan juga Alquran.

" Semua pakaian sepakbola saya bawa semua. Tapi yang tidak kalah penting adalah perlengkapan salat, yaitu baju koko, sarung dan Alquran. Tentunya agar saya tetap rajin salat di sana (Spanyol)," kata Evan.

Selain sebagai pesepakbola berbakat, Evan Dimas memang sosok religius. Di kala waktu senggang, Evan lebih banyak mengaji. Membuka helai demi helai ayat-ayat suci Alquran.

Sisi religius dipertontonkannya juga di lapangan hijau. Tiap kali mencetak gol, Eval selalu melakukan selebrasi sujud syukur. Siapa sangka, kebiasaan itu menular sampai Timnas Senior.

Sebelum berkemas, keluarga besar sempat mengadakan tasyakuran agar di Spanyol nanti Evan bisa kerasan dan lancar dalam mengikuti latihan bersama Espanyol.

2 dari 2 halaman

Sepatu Pertama Hasil Jualan Sayur

Tak mudah bagi Evan Dimas menjadi pemain bola. Apalagi kalau cuma berasal dari keluarga jelata. Tak banyak fasilitas yang didapat mudah apalagi gratis. Sepatu pertamanya saja merupakan hasil sang ayah berjualan sayur keliling.

Evan Dimas hanya berasal dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya, Condro Darmono bekerja sebagai petugas keamanan. Sedangkan ibunya, kini lebih banyak berada di rumah mengurusi keluarga dan karier Evan.

Tinggal di Desa Ngemplak RT 3 RW 5, Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Surabaya Barat, Jawa Timur, Evan dan keluarga harus hidup pas-pasan.

Toh itu bukan penghalang buat keluarga Condro Darmono dan Ana bermimpi besar. Mereka tetap menyulut bara semangat untuk mendidik Evan dan ketiga adiknya. Tak pernah putus doa dan dukungan bagi Evan menggapai cita-citanya menjadi pemain sepakbola.

Ibunda Evan masih ingat betul bagaimana pertama kali Evan meminta dibelikan sepatu sepakbola. Ketika itu umur Evan masih 9 tahun. Kelimpungan dan pusing karena tak punya uang untuk melangkah ke toko sepatu. Maklum buat kehidupan saban hari saja pas-pasan.

Tapi, sang ayah yang kala itu penjual sayuran keliling, berusaha menyisahkan penghasilan demi sepatu bola anak sulungnya itu.

" Saya ingat dulu sepatu yang dibelikan orangtua terlalu besar sehingga harus saya masukkan kain agar bisa pas. Umur sepatu itu tidak lama, kira-kira 3 minggu karena sepatunya sangat murah (Rp20.000) sehingga cepat rusak," kata pemuda kelahiran 13 Maret 1995 mengenang.

Kondisi serba terbatas itu justru membuat Evan terpacu untuk lebih bersemangat dan lebih baik.

Evan mengaku, pertama kali menekuni sepakbola saat kelas 4 SD. Ia sempat menimba ilmu di SSB Sasana Bhakti. Bakatnya semakin terasah, ketika bergabung dengan SSB Mitra Surabaya pada 2007, saat itu Evan masih berusia 12 tahun.

Kariernya makin moncer setelah dipanggil memperkuat Timas U-17 pada 2012 . Dan berlanjut dipanggil timnas U-19 untuk mengikuti Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013.   

Di kejuaraan ini Evan menjadi pencetak gol terbanyak untuk Indonesia dengan 5 gol dan menjadikan timnas menjuarai Piala AFF untuk pertama kalinya.   

Dua minggu setelahnya, timnas U-19 bertanding di Kualifikasi Kejuaraan U-19 AFC 2014. Di pertandingan penentuan grup melawan Korea Selatan (12 Oktober 2013), Evan berhasil mencetak hat-trick yang membuat Indonesia lolos untuk ke-16 kalinya.  

Setelah penampilan impresifnya bersama timnas U-19, pelatih Timnas Indonesia Senior, Alfred Riedl memasukkan namanya ke dalam daftar skuad Piala Suzuki AFF 2014. Debut bermain dan golnya di timnas senior adalah saat melawan Timor Leste.  

Namun sayang, usaha Evan dan pemain muda berbakat lainnya mengasah bakat harus terhenti. Kompetisi liga vakum setelah FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia.   

Di tengah kondisi sepakbola Nasional yang carut-marut, secercah harapan datang menghampiri Evan. Ia mendapat kesempatan berlaga di kerasnya kompetisi sepakbola Spanyol.  

Patut disimak bagaimana akhir dari petualangan Evan Dimas nanti. Apakah hanya terhenti dalam hitungan bulan, atau bisa berlanjut dan pada akhirnya sukses menaklukkan kerasnya La Liga.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup