Permen Karet (Foto: Shutterstock)
Dream - Mengunyah permen karet memang sangat nikmat. Teksturnya yang kenyal, serta rasanya yang manis membuat permen satu ini jadi favorit banyak orang.
Tapi kita harus berhati-hati, sebab saat memakannya terjadi insiden permen tertelan dan memunculkan kepanikan.
Banyak orang percaya kalau permen karet dapat bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun dan tidak dapat hancur. Namun keyakinan tersebut ternyata mitos belaka.
Hanya komponen sintetis dari permen karet yang tidak dapat dicerna yang tinggal di dalam tubuh. Namun bukan berarti komponen sintetis itu akan berada dalam tubuh selama bertahun-tahun.
Permen karet bahkan jarang sekali bisa bertahan di dalam tubuh manusia lebih dari satu minggu. Hal ini karena perut manusia akan mengosongkan isinya secara berkala dan memindahkannya ke usus kecil.
Menurut penjelasan Fabian Ortega, peneliti Ohio State University, dari usus kecil inilah permen karet kemudian pindah ke usus besar, dan akhirnya keluar saat kita buang air besar.
" Namun beberapa komponen permen karet, seperti pemanis, tetap dicerna oleh tubuh," tulis Fabian untuk yalescientific.org.
Meski ada komponen yang dicerna, sering menelan permen karet bisa memunculkan masalah pada tubuh. " Sering menelan permen karet dapat menyebabkan munculnya bezoar, sebuah material kecil yang tidak dapat dicerna yang berpotensi menyebabkan obstruksi usus atau sulit buang air besar," kata Edwin McDonald, seorang ahli gastrologi (spesialis sistem pencernaan) di University of Chicago.
Sebaiknya, jangan menelan permen karet. Tentunya, agar Sahabat Dream terhindar dari masalah pencernaan.
Dream - Harga murah, rasa nikmat dan penyajian yang mudah membuat mi instan jadi favorit banyak orang. Meski memiliki reputasi buruk bagi kesehatan, nyatanya mi instan masih memenuhi rak dapur ibu rumah tangga hingga anak kos-kosan.

Menurut penelitian, mi instan memiliki kandungan sodium dan karbohidrat rafinasi yang cukup tinggi. Masih asing dengan kata karbohidrat rafinasi?
Karbohidrat rafinasi adalah jenis karbohidrat yang melewati banyak proses pengolahan hingga jadi makanan. Proses tersebut akan menghilangkan berbagai komponen karbohidrat yang dibutuhkan tubuh, seperti serat, vitamin, dan mineral.
Intinya, karbohidrat rafinasi hanyalah butiran halus yang kandungan gizinya semakin menipis akibat pengolahan yang panjang.
Pertama, sebagian besar mi instan mengandung lebih dari 1.100 miligram sodium. Jumlah itu mendekati setengah dari maksimum sodium yang harus dikonsumsi setiap hari. Artinya, jika terlalu banyak mengonsumsi sodium dalam sekali makan mi instan, kamu akan mudah merasa haus.

Kelebihan sodium akan membuat kamu selalu merasa letih dan perut terasa penuh. Kendati perut terasa penuh, tapi kamu sebenarnya tidak merasa kenyang. Hal ini lantaran mi instan mengandung banyak karbohidrat rafinasi.
Karbohidrat rafinasi pada dasarnya hanyalah kalori kosong arena hampir tidak mengandung protein atau serat di dalamnya. Nah, efek buruk terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat rafinasi ini salah satunya adalah menyebabkan kegemukan.
Mengonsumsi karbohidrat rafinasi dapat menyebabkan gula darah melonjak dan kemudian turun drastis. Hal ini membuat kamu cepat lapar dan siap untuk makan mie instan lagi, yang mengarah kepada penambahan berat badan.
Hal yang paling membuat heran adalah mi instan bisa bertahan lama dalam perut dibandingkan jenis makanan yang lain. Braden Kuo, Dokter Massachusetts General Hospital, pernah melakukan penelitian tentang hal ini pada 2012.

Menggunakan kamera seukuran pil, Dr. Kuo merekam saluran pencernaan subjek penelitian yang makan mi instan dan mi segar. Setelah dua jam kemudian, Dr. Kuo memperlihatkan hasilnya melalui video yang diunggah secara online.
Dalam video tersebut, mi segar sudah habis dicerna di dalam usus. Sementara mie instan terlihat masih utuh di dalam usus. Meski tidak menyebutkan efeknya bagi kesehatan, tapi temuan Dr. Kuo ini cukup mengejutkan dan mengkhawatirkan.
Studi lain tentang efek mi instan yang dilakukan Harvard School of Public Health menunjukkan keterkaitan dengan kesehatan yang buruk.
Harvard melakukan penelitian terhadap konsekuensi mengonsumsi mi instan secara jangka panjang di Korea Selatan yang merupakan makanan pokok utama.
Mereka menemukan bahwa subjek, terutama wanita, yang makan mi instan setidaknya dua kali seminggu memiliki risiko 68 persen lebih tinggi mengalami sindrom metabolik.

Sindrom metabolik merupakan kombinasi gejala penyakit yang meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. Sedangkanya subjek yang mengonsumsi makanan alami lainnya secara konsisten tidak mengalami sindrom metabolik tersebut.
Advertisement

WhatsApp Bakal Luncurkan Fitur Chat Lintas Aplikasi, Pengguna Eropa dapat Giliran Pertama

Sadari Damkar Lebih Dipercaya Publik untuk Urusan Darurat, Kapolri Mau Sempurnakan Hotline 110

Dompet Dhuafa Heartventure, Berbagi Bersama Content Creator di Pelosok Samosir

Berawal dari Perasaan Senasib, Komunitas Kuda Klub Eksis 10 Tahun Patahkan Mitos `Mobil Malapetaka`


Sadari Damkar Lebih Dipercaya Publik untuk Urusan Darurat, Kapolri Mau Sempurnakan Hotline 110


Rentetan 9 Gempa Guncang Aceh, BMKG Ingatkan Waspada Aktivitas Seismik di Sekitar Simeulue

WhatsApp Bakal Luncurkan Fitur Chat Lintas Aplikasi, Pengguna Eropa dapat Giliran Pertama

5 Destinasi Wisata di Palangkaraya yang Wajib Masuk Daftar Wishlist

Cegah LPG 3 Kg Langka Selama Nataru, Kuota Subsidi Tahun 2025 Ditambah 350 Ribu Ton
