Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Anak Membiasakan Hidup Ramah Lingkungan. (Source: Shutterstock)
Dream - Penerapan gaya hidup ramah lingkungan semakin banyak terlihat di media sosial. Tidak sedikit yang membagikan tips dan trik untuk bisa menjalani hidup lebih ramah lingkungan. Meski begitu, ternyata masih banyak orang yang tidak peduli terhadap lingkungan.
" Data BPS mengkonfirmasi sebanyak 72 persen masyarakat tidak peduli dengan sampah. Padahal sampah plastik tidak bisa diurai. Dan semakin banyak jumlahnya, akan semakin buruk. Apalagi, jika tidak ditangani," ujar Khrisma Fitriasari, Head of Corporate & Government Affairs Mondelez Indonesia dalam webinar 'Bijak Plastik Sejak Dini', Jumat 19 November 2021.
Banyaknya jumlah masyarakat yang belum peduli dengan lingkungan juga bukan tanpa alasan. Pasalnya, menjalani gaya hidup tersebut tidak semudah kelihatannya.
Maka dari itu, setiap orang perlu mempelajari sekaligus membiasakan gaya hidup ramah lingkungan untuk bisa memberikan kehidupan yang nyaman bagi generasi selanjutnya.
Semua orang bisa memulainya dengan langkah kecil seperti meminimalisir penggunaan plastik dan mencoba mendaur ulang sampah. Orangtua juga disarankan untuk memberikan contoh dan edukasi terhadap anak agar terbiasa menjalani gaya hidup ramah lingkungan.
" Membangun kesadaran saat dewasa akan lebih rumit dan mudah terkontaminasi hal lain. Membangun kesadaran sejak dini akan lebih baik lagi. Anak akan terbiasa dan lebih terbuka pikirannya untuk peduli terhadap lingkungan," kata Saskhya Aulia Prima, Psikolog & Co-founder Rumah Psikologi TigaGenerasi.

Melakukan hal tersebut pada anak pun tidak instan dan perlu dilakukan sesuai dengan usianya. Orangtua bisa memperlihatkan kebiasaan membawa tas atau menyediakan kontainer sendiri saat berbelanja.
Selain itu, orangtua juga bisa memperlihatkan kebiasaan memilah sampah serta memberikan konten ramah lingkungan yang bisa dipahami oleh anak sesuai dengan usianya.
" Jadi nggak cuma pengetahuan, tapi perilakunya juga ditunjukkan. Keterlibatan orangtua di rumah itu perlu. Bisa dengan membuat games bersama, kategorisasi sampah sesuai warna tempat sampahnya, atau melakukan operasi semut," ujarnya. (mut)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam