Ilustrasi (Hindustan Times)
Dream - Kondisi langka dialami oleh balita dari India. Meski baru berusia satu tahun, dia sudah mengalami masa puber. Akil baligh usia dini.
Vaibhav –bukan nama sebenarnya. Organ seksualnya telah berkembang layaknya orang dewasa. Kondisi ini disebut juga dengan pubertas prekoks atau pubertas dini.
Orangtua Vaibhav semula bingung dengan yang terjadi pada anak mereka. Saat masih berusia 6 bulan, terlihat perubahan fisik pada bayi itu.
Tak hanya tubuhnya yang lebih tinggi dari kebanyakan anak berusia 6 bulan. Kelamin Vaibhav juga mulai berkembang tidak normal.
“ Kami mengira dia mungkin hanya bayi yang berukuran besar,” kata sang ibu, sebagaimana dikutip Dream dari Hindustan Times, Rabu 1 Juni 2016.
Namun, orangtuanya kemudian merasa aneh. Sebab, melihat pertumbuhan Vaibhav yang semakin hari semakin aneh.
“ Ibu mertuaku yang merawat banyak anak-anak di keluarga, mengatakan pertumbuhan [Vaibhav] tidak alami. Oleh karena itu kami membawanya ke dokter,” tambah sang ibu.
© Dream
Vaibhav dibawa ke dokter pada usia 18 bulan. Kala itu tingginya sudah 95 sentimeter. Atau 10 hingga 15 sentimeter dari tinggi rata-rata balita seusianya.
Tak hanya tinggi badan. Saat itu, bulu-bulu di badan dan wajah, yang biasa menandakan seorang pria sudah akil baligh, mulai tumbuh. Suaranya juga mulai pecah, dan organ seksualnya berkembang seperti orang dewasa.
“ Tingkat testosteronnya tingi, seperti pria berusia 25 tahun, itu sebabnya dia mengalami perubahan fisik,” kata Vaishakhi Rustagi, dokter yang merawat Vaibhav di Max Super Speciality Hospital, Shalimar Bagh.
“ Karena dia masih terlalu muda, dia tidak bisa memahami apa yang terjadi. Dia juga mengalami dorongan seksual,” tambah Rustagi.
© Dream
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tingkat testoteron Vaibhav 500 hingga 600 nanogram perdesiliter (ng/dl). Padahal, pada usia setahun, rata-rata tingkat tertoteron biasanya 20 ng/dl.
Pubertas dini merupakan kondisi yang langka, khususnya pada usia sedini Vaibhav. Menurut Rustagi, hanya satu banding 100.000 kelahiran yang mengalami kondisi ini.
Sementara itu, peluang lebih besar kondisi seperti ini terjadi pada bocah pria dengan usia delapan hingga 10 tahun, yaitu dengan perbandingan dua berbanding 100.000.
“ Ini kasus langka. Pubertas prekoks traumatis bagi anak seusianya,” kata Rustagi.
“ Bayi tidak bisa mengungkapkan perasaannya atau memahami apa yang terjadi padanya, sementara orangtuanya hanya bisa bingung,” tambah dia.
© Dream
Pemeriksaan lebih lanjut pada Vaibhav tak menunjukkan penyebab lain terhadap peningkatan hormon testosteron. Dan Vaibhav pun menjalani rawat jalan.
Balita ini memerlukan suntikan sebulan sekali untuk mencegah efek hormon testosteron. Tapi, dosis itu akan berkurang dengan periode tiga bulan sekali, hingga usia 10-11 tahun. Butuh biaya Rp 2,2 juta setiap bulannya.
“ Jika anak seperti ini tidak mendapat perawatan, mereka akan brutal. Perubahan fisik tidak akan cocok untuk usia mereka,” kata Rustagi.
“ Mereka juga akan berhenti tumbuh setelah beberapa tahun dan berhenti saat tingginya mencapai 1 hingga 1,2 meter,” imbuh dia.