Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Unta Dan Hewan-hewan Keluarga Unta Diyakini Bisa Lawan Virus Covid-19 (Foto : Unsplash)
Dream - Pandemi virus corona covid-19 masih menjadi sebuah ancaman kesehatan bagi penduduk di seluruh penjuru dunia. Lonjakan kasus akibat Covid-19 masih terus terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Beragam upaya untuk menyembuhkan pasien Virus Coona Covid-19 pun terus dilakukan kalangan medis di berbagai negara.
Hingga saat ini banyak peneliti di seluruh dunia berbondong-bondong untuk menemukan obat atau vaksin guna melawan pandemi Virus Covid-19.
Di samping itu, kabar baik datang dari negara Belgia. Negara Cokelat ini mengklaim darah Unta atau hewan satu famili dengan Unta (famili Camelidae) seperti Ilama dan Alpaca memiliki antibodi yang bisa membantu menetralkan Virus Corona Covid-19.
Ini berarti, darah unta dapat digunakan untuk membuat obat atau vaksin virus covid-19:

Ilustrasi (Foto : unsplash)
Peneliti dari Vlaams Institute for Biotechnology di Ghent, Belgia telah melaporkan molekul dalam darah hewan llama, dapat berfungsi sebagai terapi yang berguna untuk melawan wabah virus corona baru atau Covid-19.
Para peneliti menyebut, antibodi itu telah terbukti efektif melawan virus corona lainnya seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di masa lalu.
Dilansir dari Express, berdasarkan penelitian yang dilakukan, ukuran antibodi yang kecil memungkinkan mereka untuk menargetkan virus mikroskopis dengan lebih efektif. Ini dikenal sebagai teknologi nanobody.
Antibodi itu pertama kali digunakan dalam penelitian HIV pada tahun 1980an. Adapun, sifat antibodi yang ditemukan dalam darah unta (unta, llama, dan alpaka) pertama kali ditemukan oleh Brussels University, Belgia pada 1989.
Sebuah laporan yang ditinjau oleh Sunday Times melalui laman Express menyebut, kelayakan menggunakan antibodi llama terkait virus covid-19 yang telah menyebabkan pandemi global perlu diselidiki lebih lanjut.
Namun, antibodi dari unta ini tetap digunakan sebagai alat yang berguna untuk mengevaluasi kemanjuran pengobatan antivirus dan vaksin pencegahan covid-19.

Ilustrasi (Foto : unsplash)
Unta bukan satu-satunya hewan yang terbukti bermanfaat dalam pengembangan pengobatan untuk virus corona.
Sebuah studi di Korea Selatan yang dilaporkan dalam jurnal Cell Host dan Microbe melalui Express, mereka menemukan bahwa hewan musang yang terinfeksi Covid-19 memiliki antibody yang bermanfaat bagi pasien covid-19.
Studi mengklaim, musang bisa menjadi informasi dan alat yang berguna untuk mengevaluasi kemanjuran dari obat dan vaksi covid-19 yang sedang dikembangkan.
Para peneliti di Hong Kong juga menggunakan hamster Suriah sebagai bahan percobaan terhadap Covid-19. Hasilnya, mereka menemukan delapan hamster kehilangan berat badan mereka, lesu, mengembangkan bulu yang acak, postur tubuh membungkuk, dan pernapasan yang tidak stabil setelah terinfeksi virus covid-19.
Sementara itu, University of Oxford telah melakukan uji coba vaksin terhadap hewan di laboratorium. Tes vaksin virus corona eksperimental itu menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.
Vaksin tersebut dilaporkan berasal dari simpanse, yang disuntik dengan virus corona untuk menghasilkan antibodi yang dapat digunakan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Tim meyakini, hewan-hewan itu dapat membawa manfaat bagi pengembangan obat dan vaksin covid-19.

Ilustrasi (Foto : Unsplash)
Akan tetapi, para pejabat kesehatan masyarakat mengatakan pengembangan vaksin masih membutuhkan waktu, sekitar 12 hingga 18 bulan mendatang untuk sepenuhnya memvalidasi keamanan dan keefektifan vaksin pada manusia.
Program vaksin Oxford pun telah merekrut 510 orang, berusia antara 18 dan 55 tahun, untuk percobaan pertama mereka.
Sarah Gilbert, seorang profesor vaksinasi dari University of Oxford mengakui bahwa kerangka waktu tersebut sangat ambisius. Maksudnya, ada kemungkinan waktu yang dibutuhkan lebih lama dari itu karena berbagai hal.
Namun bagaimana pun, pemerintah, perusahaan, universitas, dan ilmuwan di seluruh dunia sedang bergerak cepat untuk membuat vaksin yang bisa mengobati dan mencegah penyakit Covid-19 semakin merajalela di seluruh dunia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya