Pulau Komodo Inspirasi Itang Yunasz Angkat Tenun Sumba

Reporter : Cynthia Amanda Male
Senin, 2 April 2018 15:23
Pulau Komodo Inspirasi Itang Yunasz Angkat Tenun Sumba
Setelah Pulau Komodo dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia, Itang Yunasz tertarik ekplore kain tenunnya.

Dream - Setelah lebih dari 30 tahun berkarya, Itang Yunasz terlihat semakin matang melahirkan karya baru. Melalui label utamanya, 'Itang Yunasz' mempersembahkan koleksi yang diadaptasi dari motif tenun ikat Sumba.

Dalam gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, dipamerkan 10 articles bertema 'Tribalux'. Disesuaikan dengan salah satu tema besar IFW tahun ini, yang ingin mengangkat The Heritage of Ancient Komodo.

Itang memiliki alasan khusus untuk menggunakan kain etnik dari Sumba tersebut. Setelah Pulau Komodo dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia, Itang mengaku tertarik untuk mengeksplore kekayaan budaya khas Nusa Tenggara Timur.

Itang Yunasz/ Cynthia Amanda Male-Dream.co.id

“ Karena ada komodo, makanya dicanangkan. Bahkan, saya tidak menyangka bisa pameran di San Fransisco selama empat bulan. Ternyata, hijab dengungnya mendunia. Dua tahun ini, desainer dunia Dolce & Gabana serta Maxmara pasti selipkan dua orang yang berhijab di tiap koleksi,”ungkap Itang di Jakarta Convencion Center, Jumat lalu.

Koleksi Tribalux dituangkan ke dalam potongan blus, tunik, rok, gaun, celana, legging, kulot, jumpsuit, kaftan dan kimono. Terlihat elegan dalam kombnasi warna indigo, cokelat kopi dan marun.

Itang Yunasz/ Cynthia Amanda Male-Dream.co.id

“ Koleksi Itang Yunasz Private Collection, semuanya pakai natural fabric. Sutra, satin silk, chiffon silk, cotton. Sesuatu yang diambil dari alam lah pokoknya,” ujar desainer yang pernah diundang ke The Young Museum, San Fransisco itu.

Pemakaian natural fabric, diharapkan dapat membuat material pakaian awet dan memudahkan perawatan. Bahan-bahan itu juga diklaim lebih ringan dan nyaman, untuk dikenakan muslimah aktif yang tinggal di daerah tropis.

“ Tenun ikat asli mudah luntur, karena semua dikerjakan dengan tangan dan harganya mahal. Tenun asli adalah heritage, harus disimpan, tidak boleh dipotong. Makanya, saya print di atas kain yang lebih flowy,” tuturnya.

Itang Yunasz/ Cynthia Amanda Male-Dream.co.id

Meski memilih menggunakan natural fabric, ditegaskan Itang tetap tertarik dengan tenun ikat asli yang dibuat dengan cara ditenun dan disulam

“ Ada dua pengerjaan yang nggak semua negeri bisa mengerjakan. Pasti ada filosofinya, jadi saya tidak mau menggunting. Semakin mahal, semakin lama juga membuatnya. Bisa lebih dari 4 tahun. Panjangnya bisa melebihi kain biasanya dan punya sebuah cerita, seperti dari mulai manusia hidup sampai mati," ujar Itang.

Beri Komentar