Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Peretas
Dream - Sebuah kelompok peretas asal Rusia dikabarkan telah mencuri sekitar 1,2 miliar data pengguna internet. Kabar ini menyusul laporan yang dirilis perusahaan keamanan komputasi asal Amerika Serikat, Hold Security yang menyebut miliaran data pribadi pengguna internet dunia telah dicuri.
Laporan itu termasuk sejumlah informasi rahasia dari 420 ribu situs, 1,2 miliar username dan password serta lebih dari 500 juta alamat email. Serangan itu bukan hanya menyasar sejumlah perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga situs yang kerap dikunjungi korban.
Mengutip laman Business Insider, Kamis, 7 Agustus 2014, para peretas ini diketahui tidak menjual setiap informasi yang diperoleh secara online. Aksi para peretas ini lebih pada upaya menyebarkan spam.
Meski diketahui berasal dari Rusia, dipastikan para peretas ini tidak ada kaitannya dengan pihak pemerintah. Aksi ini diprediksi melibatkan sekitar 12-20 peretas yang menjadikan sebuah kota kecil di selatan Rusia, wilayah yang diapit Kazakhstan dan Mongolia sebagai pusat komando operasi mereka.
" Ada pembagian kerja dalam kelompok peretas ini. Ada yang menulis bahasa pemrograman hingga mencuri data," ucap Founder and Chief Information Officer Hold Security, Alex Holden.
Senada dengan itu laporan yang dirilis harian The New York Times mengatakan tim dari Hold Security diketahui telah melakukan penelusuran siapa peretas yang bertanggung jawab atas aksi pencurian miliaran data ini. Mereka bahkan mengklaim sudah mengetahui siapa saja pengguna yang username dan password-nya berhasil dicuri kelompok peretas yang mengusung nama 'CyberVor'.
Tim Hold Security menyebut aksi para peretas ini dilakukan sejak tahun 2011 yang kala itu menjadi amatir penyebar spam, yang membeli database curian mengenai informasi personal pengguna internet di pasar ilegal. Pada April silam, grup ini kian aktif menggunakan beragam tehnik dan alat untuk meretas informasi pengguna internet. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya