'Close Bill' Kopi Jessica Disebut Tak Wajar, Ini Kata Psikolog

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 19 September 2016 12:20
'Close Bill' Kopi Jessica Disebut Tak Wajar, Ini Kata Psikolog
Psikolog Dewi Taviana Walida mengatakan seharusnya uji psikologis tidak dilakukan di kantor polisi, karena pasien bisa tertekan.

Dream - Psikolog Universitas Indonesia, Dewi Taviana Walida, mengatakan terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang. Beberapa metode tersebut seperti observasi, wawancara, dan tes psikologi.

Ahli yang diajukan oleh terdakwa, Jessica Kumala Wongso, ke persidangan ini mengatakan ketiga metode tersebut dapat dijalankan secara bersamaan untuk mendapatkan sejumlah data yang diperlukan dalam analisis kepribadian seseorang.

" Multi data kita bisa langsung membuat kesimpulan, misal kalau kita kakukan observasi kita juga harus melakukan konfirmasi melalui wawancara dan juga ditambah dengan tes psikologi," kata Dewi dalam persidangan kasus kopi sianida di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin 19 September 2016.

Menanggapi keterangan Dewi, pengacara Jessica, Otto Hasibuan, menanyakan keterangan ahli psikologi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Antonia Ratih, pada sidang sebelumnya.

" Pada waktu close bill, saya sudah lakukan observasi, nah umumnya, sebenarnya ukuran yang dipakai untuk umumnya lazimnya itu apa sih?" tanya Otto.

Dalam persidangan sebelumnya, ahli Antonia Ratih menyebut tindakan Jessica membayar tagihan kopi yang dipesan di awal sebagai tindakan yang tidak wajar. Menurut dia, lazimnya, pelanggan melakukan close bill di akhir.

Menurut Antonia, close bill di awal lazimnya dilakukan jika seseorang memesan untuk diri sendiri. Namun, jika berkumpul bersama teman-teman atau kolega, close bill lazimnya dilakukan setelah pertemuan dilangsungkan

1 dari 1 halaman

Jawaban Dewi

Menjawab pertanyaan Otto, Dewi menjelaskan ada beberapa parameter yang digunakan. Pertama, harus dilakukan perbandingan dengan perilaku terperiksa dalam situasi dan konteks yang berbeda.

Kedua, parameter statistika pengukuran survei. " Karena menyangkut budaya, jadi harus melakukan penelitian," ucap dia.

Ketiga, parameter dalam menentukan cerdas terhadap seseorang. Parameter ini mengandung norma psikologi yang berlaku, yang sebelumnya dilakukan dalam penelitian psikologi.

" Kalau kita pakai ukuran kelaziman, itu bisa banyak, kita teliti orang ini melakukan berapa kali, kemudian kita ukur," ujar dia.

Selanjutnya, dikatakan Dewi, tempat pemeriksaan untuk melakukan penelitian psikologi harus netral. Penelitian tidak boleh dilakukan di kantor polisi.

" Di tempat polisi itu bisa dikatakan tidak benar, jadi orang terperiksa merasa tertekan. Tidak boleh seperti itu," kata Dewi.

Sidang kasus kematian Wayan Mirna Salihin ini sudah digelar sebanyak 22 kali. Saat ini, giliran Jessica yang menghadirkan saksi dan ahli.

© Dream
Beri Komentar