Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Diskusi Di Gedung MUI (Dream/ Maulana Kautsar)
Dream - Islam tidak mengajarkan teror. Sehingga, aksi terorisme yang dilakukan oleh beberapa kelompok orang, yang mengataskan agama, sejatinya tidak mencerminkan ajaran Islam.
Demikian disampaikan Ketua Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Yusnar Ilyas, di Jakarta, Kamis kemarin. “ Kalau ruh keagamaannya digunakan, maka mereka seharusnya tidak seperti itu,” ucap Yusnar.
Dia meragukan pemahaman agama dari kelompok-kelompok yang melakukan sejumlah tindak kekerasan. Menurut dia, jika pengetahuan agamanya kuat, seorang Muslim tak akan melakukan aksi teror.
“ Apakah benar orang-orang yang melakukan teror itu agamanya kuat? Bagaimana dengan sholatnya? Bagaimana dengan Tahajudnya?” tanya dia.
Oleh karena itu, dia manambahkan, umat Muslim sangat penting untuk melihat keyakinan berbangsa. Sebab, seringkali aksi teror yang muncul didasarkan pada upaya merombak sistem kenegaraan yang telah dibangun.
“ Kalau mereka (teroris) menyadari keberadaan bangsa itu, harusnya mereka tidak melakukan tindakan semacam itu,” ucap Yusnar.
Sementara itu, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal Polisi Hamidin, mengatakan, munculnya gerakan radikal di dunia mengubah pandangan terhadap kaum Muslim di Indonesia. Muncul stigma di tengah masyarakat.
Dan itulah yang berusaha diubah oleh BNPT. Bagi lembaga ini, masalah utama dari penanganan terorisme ialah adanya upaya penanaman paham-paham radikal dalam masyarakat.
“ Mau jenggot kek atau mau celana cingkrang, bukan itu yang kami lihat. Yang berbahaya ialah munculnya radikalisasi dalam suatu kelompok komunitas yang mengarah pada aksi teror,” kata Hamidin.
Di era modern ini, tambah dia, segala aspek teknologi mampu menjadi celah masuknya paham radikal. Orang-orang yang tertarik akan masuk ke dalam kelompok tertentu, dibaiat, hingga diajak ‘berjihad’, namun jalannya tak sesuai ajaran Islam.
Untuk mencegahnya, BNPT terus melakukan pendekatan kultural pada bekas tokoh-tokoh kelompok radikal. “ Salah satunya dengan mendekati keluarga mereka. Karena banyak dari keluarga pelaku teror, terlantar hidupnya,” ucap dia.
Upaya ini dilakukan karena ternyata aksi teror yang terjadi kerap berasal dari masalah non-keagamaan. “ Dalam beberapa kasus ada motif sosial, balas dendam, ekonomi dan lain sebagainya.”
“ Untuk itu, pemahaman masyarakat, jika teroris itu Islam, harus diubah. Islam itu bukan teroris. Para teroris itu hanya menggunakan Alquran dan hadis sebagai pembenar tindakan mereka,” tambah Hamidin.
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia



Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya