Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Country Manager MMA Indonesia Shanti Tolani (paling Kanan) Bersama Sejumlah Board Member MMA Indonesia. Liputan6.com/Agustin Setyo Wardani
Dream - Indonesia menjadi target pemasaran merek-merek besar di dunia. Data Nielsen menunjukkan, belanja iklan di Indonesia mencapai Rp38 triliun. Setelah ada iklan di platform digital, angka ini meningkat jadi Rp40 triliun.
Untuk potensi besar itu, Mobile Marketing Association (MMA) meresmikan cabang pertamanya di Indonesia. Sebelumnya, MMA hadir di Indonesia dalam bentuk MMA Forum dan Smarties Award, forum dan penghargaan untuk brand dan pengiklan di Indonesia.
MMA merupakan satu-satunya asosiasi perdagangan global yang menyatukan seluruh ekosistem pemasar, agensi iklan, dan penjual teknologi. Country Manager MMA Indonesia, Shanti Tolani, mengatakan, kehadiran MMA di Indonesia untuk mempercepat transformasi dan inovasi pemasaran media seluler di Tanah Air.
"MMA hadir untuk membantu menciptakan lanskap pemasaran seluler yang berkelanjutan di Indonesia," tutur Shanti, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 28 Februari 2019.
Indonesia, kata Shanti, memiliki potensi iklan gawai besar. Peluang ini tidak terlepas dari meningkatnya pengguna gawai dan keaktifan warganet Indonesia.
Shanti menambahkan, Indonesia merupakan mobile first market. Artinya, pengguna internet lebih banyak yang terkoneksi melalui perangkat mobile ketimbang komputer.
Ada 80 persen pengguna internet terkoneksi melalui perangkat mobile dan 75 persen pembelian dilakukan melalui ponsel pintar dan perangkat mobile lainnya.
Melihat banyaknya pengguna mobile di Indonesia, kata Shanti, diperlukan transformasi iklan dari iklan tradisional di televisi atau media cetak ke platform mobile.
"Transformasi sangat dibutuhkan unuk melihat ke masa depan dan membangun visi dan strategi ke sana, kami bermaksud menjaga tema global #shapethefuture hingga 2019 dan telah merancang serangkaian program untuk pasar Indonesia," kata dia.
Untuk mendukung asosiasi, di Indonesia, MMA juga memiliki 9 orang dewan direksi dari ekosistem marketing mobile.
Kesembilan orang tersebut antara lain adalah CEO/ Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, Hemant Bakshi; Country Director Facebook Indonesia, Sri Widowati; Presiden Direktur Nestle Indonesia, Dharnesh Gordhon.
Selain itu, ada juga CEO dan Founder KLY, Steve Christian; CEO Havas Group Indonesia, Anwesh Bose; CCO Gojek, Antoine de Carbonnel; CEO GroupM Indonesia, Himanshu Shekhar; CEO KG Media, Andy Budiman; dan Direktur Eksekutif Media Nielsen, Hellen Katherina.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan

Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya


Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?

Hobi Membuat Kue Ternyata Punya 7 Manfaat bagi Kesehatan, Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

El Niño Diprediksi Menguat, Harga Beras Dunia Terancam Melonjak dan Jutaan Orang Bisa Terdampak

Sering Bikin Lelah secara Emosional? Kenali 8 Tanda Anda Berhadapan dengan Energy Vampire