Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Masyarakat Buleleng, Bali, dihebohkan suara ledakan pada Minggu, 25 Januari 2021. Ledakan terdengar cukup kencang pada pukul 10.00 WITA atai 09.00 WIB.
Sensor pada Server Pusat Gempa Bumi Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Regional III Denpasar, menangkap adanya anomali sinyal pada jam tersebut. Bersamaan dengan diterimanya laporan masyarakat mengenai terdengarnya bunyi ledakan.
" Kami mendapatkan laporan dari masyarakat ada suara ledakan di wilayah Buleleng. Saat kami cek, itu adalah anomali sinyal yang terekam pada sinyal milik BMKG yang berada di Singaraja," ujar Staf pada Server Pusat Gempa Bumi Regional III Denpasar, Indira, dikutip dari Merdeka.com.
Indira memastikan ledakan tersebut bukan indikasi terjadinya gempa. Karena, kata dia, ledakan hanya tertangkap satu sensor saja yang berada di Singaraja.
" Sementara dua sensor sinyal terdekat adalah Seririt dan Kintamani tidak mendeteksi adanya suara tersebut," ucap Indira.
Dia melanjutkan getaran yang muncul pada layar seismik hanya berlangsung selama 20 detik. Tidak bisa diketahui luasan getaran dirasakan.
" Kalau ukuran getarannya 1,1 magnitudo dan ini hanya terekam di satu sensor sinyal di wilayah Singaraja saja, karena ini bukan sinyal gempa," kata Indira.
Sumber: Merdeka.com/Dewi Divianta.
Dream - Gempa bumi berkekuatan besar kembali mengguncang bumi Nusantara. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa dengan magnitudo 7,1 terjadi di perairan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Berdasarkan informasi pada akun @infobmkg, gempa terjadi pada Kamis, 21 Januari 2021 pukul 19.23 WIB. Pusat gempa ada di kedalaman 154 Km dekat Kepulauan Talaud.
Lokasi gempa berjarak 134 km arah timur laut Melonguane, 259 km timur laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, 334 km timur laut Ondong, Kepulauan Sitaro, 465 km timur laut Ternate, Maluku Utara, dan 2598 km timur laut Jakarta.
" Gempa ini tidak berpotensi tsunami," demikian pernyataan BMKG.
Getaran gempa dirasakan hingga Melonguane dengan MMI IV, Tahuna IV, Ondong IV, Manado III, Bitung III, Bolaang Uki II, Gorontalo II-III, Halmahera Utara II-III, dan Galela II-III.
Lihat postingan ini di Instagram
Dream - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadinya peningkatan aktivitas gempa bumi signifikan yang guncangannya dirasakan masyarakat di awal tahun 2021. Baru berjalan 20 Januari 2021, Indonesia sudah diguncang gempa sebanyak 52 kali..
“ Wilayah Indonesia saat ini tampaknya memang sedang mengalami peningkatan aktivitas gempa bumi signifikan yang guncangaannya dirasakan oleh masyarakat,” kata Daryono, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
Menurut keterangan dalam unggahan Instagram @daryonobmkg, Rabu 20 Januari 2021, hampir setiap hari terjadi gempa yang dirasakan warga. Terkecuali dua hari, yaitu pada 10 dan 17 Januari lalu, gempa yang dirasakan itu absen.
Namun pada 14 Januari 2021, Daryono mencatat terjadi guncangan gempa yang dirasakan oleh masyarakat di wilayah Indonesia hingga 8 kali.
Kondisi seperti saat ini, menurut Daryono, tidak lazim. Dibandingkan dengan data gempa yang dirasakan pada Januari 2020, tercatat 54 kali dalam sebulan. Fenomena peningkatan aktivitas gempa kuat itu belum dapat diketahui sebabnya.
Adapun gempa bumi merupakan proses pelepasan energi secara tiba-tiba pada sumber gempa setelah mengalami akumulasi medan tegangan yang sudah berlangsung sejak lama.
“ Gejala meningkatnya aktivitas gempa pada waktu-waktu tertentu masih sulit diterangkan,” kata dia.
Dugaannya terjadi perubahan pola tegangan secara global, regional, bahkan lokal yang terkait dengan gejala peningkatan gempa kuat.
Walau begitu, menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana mengenali dan membedakan berbagai ragam kejadian bencana gempa yang terjadi.
Pengetahuan itu penting untuk bahan kajian bahaya dan risiko gempa untuk tujuan mitigasi. Utamanya menghindari korban manusia dan mengurangi dampak kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur.
View this post on Instagram
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan