8 Fakta Mengerikan Krisis Corona di Ekuador, Jasad Berserakan di Jalanan

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Selasa, 21 April 2020 15:20
8 Fakta Mengerikan Krisis Corona di Ekuador, Jasad Berserakan di Jalanan
Banyak jasad terlantar, berikut 8 Fakta Krisis Corona Covid-19 di Ekuador

Dream - Pandemi Corona Covid-19 membuat banyak negara kewalahan menghadapi efek krisis virus tersebut. Contoh nyata terlihat di negeri Amerika Selatan, Ekuador yang tengah menghadapi krisis Corona karena ketidaksiapan dan minimmnya tenaga dan perlengkapan medis. 

Ekuador sebagai salah satu negara yang ikut terpapar virus corona covid-19, dilaporkan Worldometers.info, memiliki jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 10.128 kasus hingga Senin, (21/4/2020). Total kematian dilaporkan mencapai 507 orang dan 1.150 pasien sembuh.

Pemandangan mengerikan tampak di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador. Kota ini merupakan pusat industri perikanan dan manufaktur di negara Ekuador, Amerika Latin. Ekuador mengkonfirmasi kasus pertama corona Covid-19 pada 29 Februari lalu. Kasus pertamanya adalah seorang wanita Ekuador berusia 71 tahun yang kembali ke Guayaquil dari Spanyol pada Hari Valentine.

Sejak saat itu penyebaran Covid-19 di Guayaquil semakin meningkat dan melonjak. Dilansir dari BBC, jumlah korban jiwa dari satu provinsi menunjukkan ribuan orang telah meninggal dunia. Pemerintah mengatakan, 6.700 orang tewas di provinsi Guayas dalam dua minggu pertama April, jauh lebih banyak daripada 1.000 kematian di sana dalam periode yang sama. Bahkan kasus Corona di kota ini mencapai sekitar 70 persen dari total Ekuador, jauh melebihi jumlah kasus di Quito, ibukota Ekuador.

Krisis Corona Covid-19 di Ekuador sangat mengkhawatirkan. Banyak jasad di negara tersebut terlantar. Berikut fakta - fakta krisis corona Covid-19 di Ekuador.

1 dari 8 halaman

Jasad Terlantar di Jalan

Akibat pandemi Corona Covid-19, pemandangan di ekuador tampak menyeramkan. Banyak jasad terlantar. Kain putih, plastik hitam dan ragam kresek berukuran besar jadi andalan menutupi pemandangan mengerikan dalam beberapa hari terakhir.

Jasad-jasad warga yang terinfeksi Virus Corona COVID-19 bergelimpangan di jalanan, luar rumah atau rumah sakit dan bahkan kamar mayat juga rumah duka.

“ Tubuh itu terbungkus plastik terpal, bengkak, dan sudah dihinggapi lalat. Mayat itu adalah tetanggaku” ungkap Rosangelys Valdiviezo, seorang migran Venezuela melaporkan kondisi di wilayah kota Guayaquil.

“ Sekarang mayat itu berbaring di depan rumahnya, mayat itu hanyalah salah satu dari jumlah mayat yang bergeletakan di jalan-jalan Guayaquil.”

Valdiviezo, merupakan seorang pekerja makanan laut berusia 30 tahun. Dia mengatakan mayat tersebut telah di luar selama enam hari.

" Saya sangat takut," kata Valdiviezo melalui telepon. " Aku takut sekarat begitu jauh dari rumah."

2 dari 8 halaman

Kurangnya Tes COVID-19 dan RS Penuh

Jasad-jasad diduga pasien meninggal virus Corona di Wuhan, China© Jasad-jasad diduga pasien meninggal virus Corona di Wuhan, China

Dalam laporan New York Times, dari informasi dokter mengatakan tidak ada cukup tes di negara ini. Sehingga lebih sulit untuk mengidentifikasi dan mengisolasi orang sakit. Ekuador juga hanya memiliki sedikit tempat tidur dan ventilator rumah sakit untuk mencoba menghentikan penyebaran corona COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus.

Kota terbesar Ekuador, pusat komersial yang dihuni hampir 3 juta orang, muncul sebagai pusat penyebaran Virus Corona baru di Amerika Latin.

Dalam akun berita lokal, video yang dibagikan di media sosial dan wawancara telepon, pejabat, pekerja bantuan, dan lainnya di kota metropolitan yang miskin melaporkan banyak jasad bergelimpangan dihinggapi lalat di trotoar. Termasuk jenazah yang ditinggalkan di dalam rumah selama berhari-hari.

Tidak jelas berapa banyak dari orang yang meninggal karena corona COVID-19. Banyak keluarga mengatakan orang yang mereka cintai memiliki gejala virus, sementara yang lain hanya tahu bahwa yang sakit tidak dapat dirawat di rumah sakit Guayaquil karena sudah penuh.

" Kami telah menunggu selama lima hari," kata Fernando Espana dalam sebuah video, ketika ia mengeluh tentang perjuangan untuk meminta pihak berwenang menjemput anggota keluarganya.

" Kami lelah menelepon 911 dan satu-satunya hal yang mereka katakan adalah menunggu, mereka sedang bekerja untuk menyelesaikan ini," lanjut Fernando Espana seperti dikutip dari CNN.

3 dari 8 halaman

Lonjakan Jenazah

Menurut salah seorang pemilik rumah duka di Guayaquil, Merwin Teran, 61 tahun, pada Selasa 7 April ada 149 jasad sedang menunggu penguburan atau kremasi. Padahal biasanya para pekerja hanya mengurusi sekitar 30 jenazah dalam sehari,

Teran mengatakan banyak rumah duka tidak beroperasi, sementara mereka yang harus mengirim pekerja untuk mengambil jasad tanpa perlindungan yang memadai. Menurut hukum, katanya, rumah duka tidak dapat mengambil jasad sampai seorang dokter menandatangani pada penyebab kematian, tetapi karena begitu banyak dokter merawat pasien, jasad-jasad itu terakumulasi di kamar mayat. Sehingga memicu penumpukan.

Tidak semua orang yang terpapar akibat virus corona Covid-19 hanya mengalami gejala ringan hingga sedang, seperti demam dan batuk. Orang dewasa yang lebih tua dan mereka yang memiliki masalah kesehatan lainnya akan merasakan gejala pneumonia bahkan kematian.

Dalam beberapa hari terakhir juga muncul gambar-gambar mengerikan dan permohonan dari keluarga di media sosial, menunjukkan orang-orang yang dicintai terbungkus plastik atau kain, menunggu dievakuasi. Sementara kru televisi merekam gambar jasad bergelimpangan dan peti mati yang tersisa di trotoar.

" Baunya sangat menyengat," kata Merwin Teran, ia mengatakan melihat 50 orang tewas dalam satu kamar mayat sendirian.

4 dari 8 halaman

Militer Bersihkan Jasad di Jalan

Fakta-fakta Mayat Dalam Drum di Bogor, Korbannya Ternyata...© MEN

" Saat ini, situasi di Guayaquil mengerikan," kata Tati Bertolucci, direktur untuk Amerika Latin dan Karibia di organisasi bantuan bencana CARE. " Ada jasad di jalanan, dan sistem kesehatan kewalahan, jadi tidak semua orang yang memiliki gejala dapat dites atau dirawat."

Operasi gabungan polisi-militer telah membersihkan sekitar 30 mayat per hari dari jalanan. Menurut Jorge Wated, koordinator satuan tugas pemerintah yang ditugaskan untuk mengatasi krisis.

" Jam malam yang ketat di seluruh kota mempersulit upaya pekerja kamar mayat dan rumah duka untuk memindahkan jenazah," Wated mengatakan dalam pidato yang disiarkan secara nasional minggu ini.

 

 

5 dari 8 halaman

Kekurangan Peti Mati

Melonjaknya jumlah kematian akibat Virus Corona baru di kota Guayaquil Ekuador telah menyebabkan kekurangan peti mati. Akibatnya penduduk terpaksa menggunakan kotak kardus, kata pemerintah kota, Minggu 5 April.

Pihak berwenang di kota pelabuhan Pasifik mengatakan mereka telah menerima sumbangan 1.000 peti kardus yang dipres dari produsen lokal, dan mengirimkannya untuk digunakan di dua pemakaman lokal.

Laporan The Guardian menyebut kemudian pihak berwenang di kota terbesar Ekuador mendistribusikan ribuan peti mati kardus dan membantu keluarga untuk evakuasi jasad dari rumah mereka.

Guayaquil muncul sebagai hotspot regional untuk Virus Corona COVID-19, dan rumah sakit dan kamar mayat telah kewalahan, memaksa beberapa keluarga untuk menyimpan jenazah di rumah.

" Seperti rumah sakit zona perang. Hal-hal yang telah kita saksikan mirip film horor," kata seorang dokter di rumah sakit Teodoro Maldonado Carbo, salah satu fasilitas kota terbesar, kepada The Guardian.

“ Istri saya tidak ingin saya pergi bekerja. Tetapi jika saya tidak melakukannya, lebih banyak pasien akan mati." tambahnya.

6 dari 8 halaman

Harga Peti Mati Melonjak

Peti mati korban tewas Covid-19 menumpuk di krematorium dan kamar mayat.© World of Buzz

Pengusaha Santiago Olivares, yang memiliki usaha peti mati untuk rumah duka, mengatakan perusahaannya tidak dapat memenuhi permintaan.

" Saya menjual 40 buah yang saya miliki di cabang pusat kota, dan 40 lainnya dari kantor pusat. Saya harus memesan 10 lagi di akhir pekan dan mereka sudah kehabisan stok," kata Olivares.

Peti mati termurah saat ini harganya sekitar US$ 400 atau sekitar Rp 6,4 juta.

 

7 dari 8 halaman

Narapidana Bikin Peti Mati

Olivares mengatakan jam malam selama 15 jam di kota itu berkontribusi pada kekurangan bahan baku dasar untuk pembuat peti mati seperti kayu dan logam.

Pemerintah meminta pasukan untuk mengambil 150 jasad dari jalan-jalan dan rumah-rumah awal pekan ini, setelah pekerja kamar mayat di kota itu tidak dapat lagi menyimpan jenazah.

" Peti mati kardus " akan sangat membantu dalam memberikan pemakaman yang bermartabat bagi orang yang meninggal selama darurat kesehatan ini," tulis kantor wali kota Guayaquil di Twitter.

Sekitar 100 narapidana di 6 penjara di Ekuador membantu membuat peti mati dari kayu untuk pasien yang meninggal karena Covid-19.

8 dari 8 halaman

Wapres Ekuador Minta Maaf

Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Mayat di Dalam Lemari di Mampang© MEN

Wakil Presiden Ekuador, Otto Sonnenholzer, meminta maaf kepada negara awal bulan ini atas tanggapan lambat pemerintah terhadap pandemi.

" Kami telah melihat gambar-gambar yang seharusnya tidak pernah terjadi, dan sebagai pelayan publik saya, saya minta maaf," kata Sonnenholzer.

Guayaquil berpenduduk padat dan memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi, dengan banyak penduduk yang tinggal berdekatan.

Pihak berwenang sejak pekan lalu mulai mendistribusikan ribuan peti mati kardus di Guayaquil. Saluran bantuan khusus juga disiapkan untuk keluarga yang membutuhkan jenazah yang dipindahkan dari rumah mereka.

Jorge Wated, kepala unit kepolisian yang dibentuk untuk mengatasi masalah tersebut, mengatakan awal pekan ini bahwa 771 mayat telah dipindahkan dari rumah-rumah di kota.

Menurut angka pemerintah, 14.561 orang telah tewas di provinsi Guayas sejak awal Maret karena semua sebab. Provinsi ini biasanya melihat 2.000 kematian per bulan rata-rata.

Ekuador secara keseluruhan telah memiliki 8.225 kasus yang dikonfirmasi dari virus corona sampai saat ini, menurut Johns Hopkins University, meskipun kurangnya pengujian yang meluas berarti kemungkinan jumlahnya bisa lebih banyak dari angka yang telah diumumkan.

(sah, Sumber: Liputan6)

Beri Komentar