Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Hajatan pernikahan di Desa Wonorejo, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berubah jadi kesedihan dan kekhawatiran. Mempelai wanita berinisial L, 28 tahun, meninggal usai melaksanakan ijab kabul beberapa hari sebelumnya.
Tragisnya, ayah dan ibu dari L juga menyusul sang anak. Penyebabnya, satu keluarga ini terinfeksi Covid-19 dari hasil tes usap (swab test) PCR.
Kepala Desa Wonorejo, Edi Subagio, mengatakan akad nikah antara L dengan mempelai pria, AI, 29 tahun, berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2020. Pasangan ini berencana menggelar resepsi ngunduh mantu di kediaman orangtua AI di Wonogiri, dikutip dari Merdeka.com
Mengingat kondisi kesehatan L terus menurun, rencana hajatan itu dibatalkan. L pun harus dilarikan ke RSUD dr Moewardi karena pingsan saat dalam perjalanan menuju Wonogiri.
L sempat dirawat intensif selama beberapa hari. Kemudian pada Kamis malam, 5 November 2020, L dinyatakan meninggal dunia.
Edi mengatakan L yang memiliki KTP dan berdinas di salah satu puskesmas di Jakarta Timur punya riwayat penyakit bawaan. Sebelum menikah, L sempat periksa ke dokter dan disarankan menjalani rawat inap.
Tetapi karena akan menikah, L tidak menjalankn saran tersebut. Dia tetap pulang ke Sragen dan melangsungkan pernikahan.
Setelah L meninggal, ayah dan ibunya mengalami penurunan kondisi kesehatan. Sang ibu dibawa ke RSUD Ngipang namun meninggal pada Jumat sore, 6 November 2020, sementara sang ayah meninggal pada Senin, 9 November 2020.
" Kalau yang pengantin itu punya riwayat penyakit asma. Kalau kedua orang tuanya itu punya penyakit gula. Tiga-tiganya itu terkonfimasi Covid-19," kata Edi.
Petugas kesehatan langsung melakukan tracing dan menjalankan swab test kepada 122 kontak pasien.
Dari jumlah tersebut 113 orang merupakan kontak dekat dan sembilan sisanya adalah perangkat desa.
Meski ratusan warga dan sebagian perangkat desa menjalani swab, mereka masih beraktivitas normal dan tidak ada penutupan akses. Tetapi untuk kegiatan hajatan, Edi menyatakan masih dilarang.
" Enggak ada penutup, cuma kita tekankan agar warga memakai masker. Untuk hajatan memang sekarang banyak mengajukan, kita larang, tidak boleh dulu. Kumpul-kumpul juga tidak boleh," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya