7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Desti, Bocah 10 Tahun Saat Antarkan Adiknya, Bimo, Berobat (pusat.baznas.go.id)
Dream - Usianya masih 10 tahun. Gadis kecil itu yang seharusnya menikmati masanya sebagai anak-anak dengan banyak bermain tak bisa lagi dinikmati.
Dia harus mengurus dua adiknya, Delta, 7 tahun dan Bimo, 2 tahun, lantaran kedua orangtuanya pergi keluar kota untuk bekerja.
Sang ayah merupakan seorang tukang bangunan. Sementara ibu hanya buruh cuci. Keduanya baru pulang dan berkumpul bersama ketiga anak ini sekali dalam sepekan.
Alhasil, Desti dan kedua adiknya terpaksa tinggal bersama neneknya di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Meski begitu, masalah tidak hilang. Rumah yang mereka tempati sangat reot.
Di dalamnya hanya terdapat tikar tipis dan kasus. Sang nenek kerap tidur di lantai dengan alas tikar tipis usang tersebut. Padahal, sang nenek sedang dalam kondisi kurang sehat akibat tekanan darah yang tinggi serta sering merasa pusing.
Sementara Desti dan ketiga adiknya tidur di atas kasur. Meski begitu, kasur tersebut sebenarnya tidak layak menjadi alas tidur. Kondisi kasur sangat basah lantaran terendam banjir beberapa hari sebelumnya.
Untuk urusan makan, setiap hari Desti menyiapkan makanan. Dia kerap bergantian dengan sang nenek memasak makanan yang akan dinikmati empat orang itu. Parahnya, mereka memasak menggunakan tungku kayu.
Setiap pagi, jika anak-anak seusia dibangunkan orangtua, Desti bangun sendiri dan bergegas menyiapkan sarapan serta membersihkan rumah. Begitu urusan rumah selesai, dia segera mandi dan berangkat sekolah.
Meski hidup yang dia jalani cukup berat, Desti ternyata bukan anak yang mudah menyerah. Dia tetap bersemangat untuk bersekolah. Dia bahkan mampu mengukit prestasi dengan mempertahankan posisi tiga besar di kelasnya.
Kondisi Desti membuat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) tergerak. Para pengurus BAZNAS Provinsi kemudian menyalurkan bantuan berupa tempat tidur, kompor, lemari serta sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
" Eee... apinya biru," kata Desti takjub saat menyalakan kompor gas barunya.
Beban Desti mungkin sedikit berkurang. Tapi, Desti masih harus menghadapi kendala berupa biaya sekolah bagi dia dan kedua adiknya. Seperti anak-anak lain, Desti masih punya mimpi dan ingin mewujudkannya.
(Sumber: pusat.baznas.go.id)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?