Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Positif Corona, 1 Warga Bojong Gede Meninggal

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 19 Maret 2020 16:27
Positif Corona, 1 Warga Bojong Gede Meninggal
Pasien positif virus corona tinggal di Bojong Gede meninggal Rabu malam.

Dream - Bupati Ade Yasin mengungkap adanya kasus kematian pasien terjangkit virus corona di lingkungan Kabupaten Bogor. Pasien itu meninggal pada Rabu malam, 18 Maret 2020.

Ade mengatakan identitas pasien itu berjenis kelamin wanita usia 67 tahun. Pasien itu tinggal di kawasan Kecamatan Bojong Gede namun memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta.

" Memang pada awalnya kami juga belum mendapatkan kabar yang terang, karena memang yang positif ini mereka di Jakarta dan ker-KTP Jakarta sehingga tidak terpantau oleh kami, tapi tinggalnya di Kabupaten Bogor," kata Ade, dikutip dari Pojoksatu.

Menurut Ade, pasien meninggal tersebut tertular virus corona dari anaknya, pria berusia 35 tahun. Setelah dilakukan pelacakan, ternyata pasien pria ini terhubung dengan kasus-1.

Pria tersebut sempat menghadiri acara dansa di Depok yang juga ada Kasus-1. Beberapa hari usai menghadiri acara tersebut, tepatnya pada 26 Februari 2020, pria itu mengalami keluhan kesehatan namun sembuh pada 28 Februari 2020.

 

1 dari 4 halaman

Kronologis Penularan

Keesokan harinya, pria tersebut mengalami masalah dengan alat penciumannya dan tidak bisa mencium bau dengan baik. Tetapi, dia tetap masuk kerja menggunakan transportasi umum.

Pada 7 Maret, pria itu mengalami sesak napas lalu diperiksa darah di RS Persahabatan. Tanggal 12 Maret pasien tersebut dinyatakan positif terjangkit virus corona.

Tanggal 14 Maret diadakan pemeriksaan kembali dan pada 16 Maret pasien tersebut merasakan sakit pada persendian.

Ade melanjutkan, pada 17 Maret 2020, ada advice dari RSHS untuk isolasi mandiri. Pasien tersebut mengikuti saran tersebut.

" Tetapi, walaupun laki-laki tersebut kelihatannya sehat, menular kepada ibunya berumur 67 tahun, yang merupakan karyawati swasta atau konsultan pajak," kata Ade.

 

2 dari 4 halaman

Pasien Tertular Hingga Meninggal

Untuk pasien wanita, Ade menjelaskan, yang bersangkutan sempat diare dan memeriksakan diri ke dokter di Jakarta pada 29 Februari. Selama empat hari setelah itu, pasien tersebut mengonsumsi obat namun tidak juga sembuh.

Pasien tersebut kembali memeriksakan diri ke rumah sakit. Muncul diagnosa menyebutkan pasien itu mengidap typhoid.

" Lalu pada 10 Maret 2020, yang bersangkutan dirawat di rumah sakit. Setelah diuji lab dan rontgen paru, ada infeksi baru dengan diagnosa pneumonia," terang Ade.

Pada 14 Maret, pasien wanita itu dirujuk ke RS Persahabatan. Penyebabnya, sang anak khawatir ibunya terpapar corona.

" Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium Covid SWAP oleh Rumah Sakit Persahabatan keluar hasil tanggal 16 Maret 2020 via telepon oleh Sub Dinkes Jaktim dengan hasil positif," kata dia.

Pasien tersebut akhirnya meninggal dunia. Jenazahnya langsung dimakamkan di Jakarta dan tidak dibawa pulang ke Bojong Gede.

" Dan tidak boleh anaknya, langsung (pulang) yang laki-laki tadi walaupun disarankan isolasi mandiri, tapi kami harus bergerak cepat untuk lindungi warga," kata dia.

3 dari 4 halaman

Presiden Perintahkan Tes Massal Corona

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta tim satuan gugus tugas Covid-19 bisa melakukan tes massal atau rapid tes untuk masyarakat. Jokowi menyebut, tes massal itu dilakukan untuk mencegah dan mendeteksi awal paparan virus corona.

" Segera lakukan rapid tes dengan cakupan lebih besar agar deteksi dini indikasi awal seseorang terpapar Covid-19 bisa dilakukan," ucap Jokowi, dilaporkan Merdeka.com, Kamis, 19 Maret 2020.

Jokowi juga meminta agar alat tes tersebut diperbanyak. Tidak hanya itu, dia juga meminta agar pengetesan melibatkan rumah sakit pemerintah BUMN, pemda, dan TNI/Polri.

" Saya minta alat diperbanyak dan diperbanyak tempat-tempat untuk melakukan tes dan melibatkan RS baik pemerintah, BUMN, pemda RS TNI/Polri, dan swasta, dan lembaga riset yang dapatkan rekomendasi Kemenkes," ucap dia.


Sumber:  Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

4 dari 4 halaman

Pemerintah Kaji Tes Cepat Covid-19

Dream - Juru bicara pemerintah dalam penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan pemerintah akan mengkaji tes cepat, atau rapid test, untuk virus corona di tubuh manusia. Tes cepat ini dilakukan dengan menggunakan sampel darah pasien.

" Tes akan menggunakan spesimen darah, tidak menggunakan apusan tenggorokan, tapi menggunakan serum darah yang diambil dari darah," kata Yuri, Rabu, 17 Maret 2020.

Yuri menyebut, penggunaan pengambilan tes cepat ini memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya, tidak dibutuhkannya laboratorium bio-security level dua.

Dengan begitu, pemeriksaan bisa dilakukan di semua laboratorim kesehatan di seluruh Indonesia. Hanya saja, kata dia, tes cepat ini memerlukan pembanding spesimen dari seorang yang terinfeksi selama sepekan.

" Kita butuh reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu karena kalau belum seminggu terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu, pembacaan immunoglobulin-nya akan menampilkan gambarna negatif," ucap dia.

Kebijakan tes cepat ini diambil sebagai upaya meningkatkan kebijakan isolasi mandiri di rumah. " Karena itu, tanpa kesiapan untuk memahami dan mampu melaksanakan isolasi diri maka kasus positif akan berbondong-bondong ke rumah sakit, padahal belum tentu membutuhkan layanan rawatan rumah sakit," kata dia.

Beri Komentar