Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pramugari Maskapai Penerbangan
Dream - Spesialis teknologi informasi (TI) dan komunikasi angkutan udara (SITA) meramalkan para penumpang pesawat tak lama lagi akan disambut pramugari-pramugari cantik berkacamata Google Glass saat melakukan boarding.
SITA bersama sejumlah maskapai penerbangan dan pengelola bandara memang tengah mewacanakan penggunaan teknologi kacamata ajaib buatan Google itu. Kepala SITA Lab, Renaud Irminger seperti dikutip dari laman Gulfnews, Sabtu, 21 Juni 2014, mengklaim bahwa Google Glass akan menjadi cara maskapai penerbangan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan pelayanan.
Beberapa awak kabin maskapai penerbangan, termasuk Etihad Airways, sudah menggunakan teknologi tablet SITA (SITA CrewTablet) di atas pesawat. Alat ini digunakan untuk mengakses data penumpang dan data operasional. Namun maskapai penerbangan saat ini memang masih membatasi penggunaan teknologi tersebut.
Sebelumnya, SITA telah menguji coba Google Glass bersama staf Virgin Atlantic di Bandara Heathrow London. Selain menggunakan Google Glass, awak darat Virgin Atlantic juga memakai jam tangan pintar buatan Sony untuk proses check-in penumpang. Selain di Inggris, SITA juga baru saja melakukan uji coba Google Glass di bandara Copenhagen, Denmark.
SITA menolak memberi tahu kapan tepatnya mulai menggulirkan teknologi itu secara massal mengingat perusahaan pembuatnya, Google, masih membatasi ketersediaan Google Glass di seluruh dunia. Saat ini, SITA memiliki 10 perangkat Google Glass di SITA Lab.
Irminger menegaskan bahwa SITA telah menghabiskan hampir US$ 20 ribu untuk membeli perangkat yang dijual Google seharga US$1500 per bijinya.
Google diklaim 'terkesan' dengan percobaan SITA dan telah menawarkan untuk memproduksi Google Glass untuk perusahaan tersebut.
Penggunaan wearable technology dan perangkat mobile lainnya kemungkinan akan mempermudah layanan penumpang dan juga menurunkan biaya penerbangan. Selama ini penerbangan memakai hard copy manifesto untuk setiap penerbangan yang berisi rincian data para penumpang. Penggunaan teknologi portabel bisa menghapus kebutuhan akan hal tersebut. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya