Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyatakan bahwa sejumlah wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada April 2019. Tapi nyatanya, hingga akhir bulan ini hujan masih kerap turun.
Hingga Selasa, 30 April 2019, BMKG memprediksi hujan lebat di sejumlah wilayah. Termasuk di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, menyebut, penyebab cuaca ektrem yang saat ini melanda Indonesia dipengaruhi aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO). MJO merupakan gelombang atmosfer yang membawa massa udara basah.
" MJO yang tumbuh dan berkembang di Samudera Hindia sejak beberapa hari lalu memberikan dampak berupa perningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat," kata Mulyono, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 30 April 2019.
Tetapi, Kepala Bidang Humas BMKG, Taufan Maulana, mengatakan bahwa fenomena MJO merupakan siklus yang normal dan alami.
" Dilihat dari aspek iklim, saat ini misalnya wilayah Jabodetabek masih dalam periode akhir musim hujan. Dan dari aspek dinamika atmosfer saat ini di atas wilayah Indonesia sedang ada gelombang atmosfer MJO, gelombang atmosfer dari Samudera Hindia yang membawa banyak uap air, sehingga pertumbuhan awan hujan di Indonesia semakin intens," ucap Taufan.
BMKG terus mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap cuaca ekstrem pada pekan-pekan ini. Sebab MJO memiliki durasi rata-rata dari 30 hingga 60 hari.
" Jadi dugaan kami, kondisi sangat aktifnya MJO yang didukung oleh adanya pusaran angin di Barat Daya Sumatera (yang sekarang jadi TC LORNA) yang menjadikan terbentuknya pertemuan angin di atas Jawa Barat, adalah pemicu hujan lebat yang menjadikan banjir kemarin," ujar Taufan.
Sumber: Liputan6.com/Yopi Makdori
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya