Cuma Pakai Sendok, Dua Napi di Madura Kabur

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 4 Oktober 2019 18:01
Cuma Pakai Sendok, Dua Napi di Madura Kabur
Matrowi bisa melepas borgol tanpa alat.

Dream - Aksi dua narapidana penghuni Rumah Tahanan Kelas II B Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur membuat terkejut penjaga lembaga pemasyarakatan. Dua narapidana itu menggunakan sendok sebagai alat untuk meloloskan diri.

" Dua tahanan itu sudah ditempatkan di ruang sel isoloasi. Padahal tangan keadaan diborgol serta kedua kaki dirantai ke tiang pintu, tapi masih bisa kabur," kata Kepala Rutan Kelas II B Sumenep, Beni Hidayat, diakses dari Liputan6.com, Jumat, 4 Oktober 2019.

Beni mengatakan, dari dua narapidana, Matrawi menjadi sorotan karena dia mampu melepas rantai pengikat kedua kakinya serta merusak borgol yang menjeratnya.

Padahal besi pengikat tangan dan kaki tak bisa dengan mudah saja dilepas.

 

1 dari 6 halaman

Pernah Percobaan Lari

Beni mengatakan, kedua napi yang meloloskan diri itu itu melancarkan aksinya pada 29 September pukul 04.05 WIB. Matrawai yang lolos, segera mengajak Baidi untuk melarikan Baidi.

" Dari ruangan Baidi itu, keduanya keluar dan melompat pagar. Sehingga mereka bisa melarikan diri," kata Beni.

Matrawi dan Baidi telah menjadi perhatian serius pihak lapas sejak beberapa bulan lalu. Matrawi pada Juli pernah melarikan diri, namun berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian daerah setempat.

" Sampai sekarang Matrawi itu sudah tiga kali kabur. Dulu pada tahun 2008 juga pernah kabur dari tahanan," kata dia..

Saat ini polisi sedang meneliti pelarian Matwari. Sosik Matrawi merupakan terpidana kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan narkoba.

" Kami sedang menyelidiki kejadian ini. Apakah ada keterlibatan petugas Rutan atau tidak. Sampai saat ini belum ada temuan keterlibatan petugas Rutan, tapi kami tidak akan berhenti begitu saja, tetap akan menyelidiki sampai diketahui penyebab larinya tahanan tersebut," katanya.


(Sah, Sumber: Liputan6.com/Mohamad Fahrul)

2 dari 6 halaman

Dikabulkan Hakim, Penjara AS Wajib Setarakan Fasilitas untuk Napi Muslim

Dream - Lembaga pemasyarakatan di Richmond, Virginia, Amerika Serikat (AS) mengakhiri program berjuluk God Pod. Penghentian program yang tak menguntungkan minoritas Muslim itu dilakukan setelah muncul tuntutan dari narapidana Muslim.

Dilaporkan Orlando Sentinel, narapidana Muslim, yang diwakili Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), menuntut penghentian program ini dan dikabulkan pengadilan setempat.

Hakim Pengadilan Alexandria mendengar argumen Dewan Hubungan Amerika-Islam pada Jumat, 20 September 2019. Salah satu argumen yang muncul yaitu pelanggaran konstitusi terhadap kebebasan beragama narapidana Muslim.

Para napi mengatakan mereka yang berada di " God Pod" akan mendapat fasilitas dan `kemewahan` sel. Semisal, penggunaan televisi dan microwave.

3 dari 6 halaman

Tidak Terikat Pada Satu Agama?

Ilustrasi© Pixabay

Para pejabat penjara mengakui program itu dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kitab agama tertentu. Meski begitu, pengacara pendeta di program penjara, Deborah Kane, mengatakan program Pelajaran Hidup yang disampaikan terbuka untuk semua agama.

" Hanya karena itu berdasarkan Alkitab tidak berarti itu mengarah pada keterikatan agama ini," kata dia.

Pendeta yang menjalankan program, bekerja untuk Good News Jail dan Penjara Kementerian yang berbasis di Richmond. Di situs webnya, Good News mengatakan misinya adalah untuk `menyebarkan agama ke para narapidana`.

Gadeir Abbas, pengacara CAIR, mengatakan, ada bukti yang menunjukkan hanya umat agama tertentu yang bisa menikmati fasilitas ini.

Diskriminasi yang dirasakan narapidana Muslim diantaranya, gagalnya otoritas penjara menyediakan makanan tepat waktu untuk narapidana Muslim selama Ramadan.

4 dari 6 halaman

Pakai Burkini, Muslimah Diusir dari Kolam Renang

Dream - Seorang muslimah yang berenang di kolam renang di West Wave Pool, Henderson, Selandia Baru mendapat perlakuan tak baik. Perempuan yang tak disebut namanya itu diusir dari area kolam renang karena memakai burkini.

Saksi mata mengatakan insiden tersebut terjadi ketika kolam renang ramai pengunjung.

" Perempuan itu di kolam dengan anak-anaknya dan ketika itu dia diminta keluar dan diusir penjaga kolam," kata seorang perempuan, dilaporkan The Guardian, Rabu, 24 Juli 2019.

Manajer dewan rekreasi, Jane Aickin mengatakan, pakaian yang dikenakan perempuan itu tidak dianggap sebagai burkini, yang terbuat dari bahan yang sesuai dengan berenang.

Laman kolam renang itu mengatakan, pakaian renang yang dikenakan perempuan itu tak pantas. Sejumlah pakaian memang tak diizinkan untuk digunakan berenang, semisal, celana dalam dan celana pendek denim.

" Kami menerima bahwa ini kadang membingungkan dan bekerja keras untuk mencoba menjelaskan aturan ini untuk semua orang," kata Aickin.

Juru bicara Dewan Wanita Islam Selandia Baru, Anjum Rahman meminta West Wave Pools untuk mempertimbangkan kebijakan mengenai pakaian renang yang digunakan.

" Sangat penting semua anggota masyarakat memiliki akses ke kolam renang umum untuk rekreasi," kata Anjum.

Aickin telah meminta maaf atas peristiwa yang insiden yang terjadi. Dia mengatakan, akan menyambut muslimah yang mengenakan burkini.

5 dari 6 halaman

Pengalaman Pahit Hijaber Didenda Rp7 Juta karena Burkini

Dream - Bersyukurlah perempuan berhijab yang hidup di Indonesia. Kamu takkan susah berenang di kolam renang umum meski menggunakan pakaian renang khusus wanita berhijab. Pengalaman itulah yang sulit dinikmati hijaber di negara minoritas muslim. 

Pengalaman pahit itu dirasakan Fadila. Liburan keluarga yang seharusnya menjadi momen menyenangkan berubah menjadi menjengkelkan. Fadila yang mengenakan hijab dikenakan denda karena berenang menggunakan pakaian renang berhijab atau burkini.

Di sana, Fadila bersama keluarganya tinggal di sebuah private residence dilengkapi fasilitas kolam renang di La Ciotat, Bouches-du-Rhone, Marseille, Perancis sekitar akhir Juli lalu. Fadila langsung memutuskan mencebur ke kolam itu. 

Rasa senangnya berubah menjadi penuh kejengkelan saat seorang staf pengelola penginapan meminta para tamu lainnya untuk meninggalkan area kolam renang.

Pemilik private residence juga meminta Fadila dan suaminya tidak lagi menggunakan kolam renang selama sisa liburan mereka.

Shutterstock© dream.co.id

Dilansir Allure, pasangan itu semakin terkejut saat mereka diminta membayar biaya pembersihan kolam renang sebesar 490 euro, setara Rp 7,8 juta. Pemilik beralasan dia harus harus mengosongkan dan membersihkan kolam setelah Fadila berenang mengenakan burkini.

Fadila mengatakan kepada badan amal United Againts Islamophobia di Perancis, " Saya tercengang karena tidak ada yang menghentikan saya atau mengatakan apapun sama sekali. Saya kecewa, terkejut, terluka oleh fakta bahwa seseorang bisa sangat munafik dan jahat karena burkini."

6 dari 6 halaman

Bayar Denda

Shutterstock© dream.co.id

Pasangan itu menolak membayar denda dan tidak ada faktur atas tuduhan tersebut. Sayangnya, masalah semakin membesar lantaran ada seseorang yang melapor ke otoritas setempat ada orang berburkini masuk ke dalam kolam dan menolak diusir. 

Padahal, burkini tidak berkaitan sama sekali dengan masalah kesehatan. Itu hanya sebuah pakaian sopan yang dirancang untuk para perenang perempuan. Sehingga banyak orang yang mengecam perlakuan yang dialami Fadila.

(Sah)

Beri Komentar