Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sejak Maret 2020, sekolah ditutup dan seluruh murid mulai dari playgroup hingga tingkat Universitas diminta belajar dari rumah. Pandemi Covid-19 mengubah sistem pembelajaran secara drastis dalam sekejap.
Sekolah dilakukan secara jarak jauh dan mau tak mau orangtua harus turun tangan mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Terutama pada anak yang masih butuh pendampingan.
Sebagian orangtua kewalahan menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ), karena tak biasa menghadapi anak saat belajar dan menerima materi. Salah satu cara untuk membuat PJJ efektif adalah mengetahui gaya belajar anak. Tiap anak memang memiliki gaya belajar yang berbeda sesuai dengan kepribadiannya.
Penting bagi orangtua mencari tahu gaya belajar anak agar proses belajar menjadi lebih efektif. Yuk, kenali tipe gaya belajar anak.
1. Visual (spatial)
Gaya belajar visual ditandai dengan preferensi anak belajar dengan menggunakan gambar, grafik, warna, imajinasi visual, dan spasial. Bila anak lebih cepat paham saat melihat bagan, grafik bisa jadi ia merupakan orang dengan gaya belajar visual.
Media belajar yang cocok adalah mengembangkan mindmap, menggunakan flashcard bergambar, atau melalui video. Mulailah membuat catatan dengan warna yang menarik dan beberapa contoh gambar, agar bisa melatih kreativitas dan belajar dengan efektif.
© Dream
Gaya belajar auditory ditandai dengan kemudahan dalam memproses informasi dengan baik dari berbagai sumber suara, seperti penjelasan guru, pidato, rekaman suara, dan lain-lain. Biasanya, orang yang cocok dengan gaya belajar aural atau auditory ini lebih senang mendengarkan materi di kelas atau duduk diam mendengarkan audio book.
Orang dengan gaya belajar aural juga memiliki kecenderungan untuk sukses di bidang musik, karena mempunyai sense yang baik terhadap nada dan ritme. Pada anak pembelajar aural, gunakanlah bantuan musik dalam aktivitas belajar. Bisa menggunakan rekamanan audio materi pembelajaran.
© Dream
Gaya belajar verbal ditandai dengan preferensi untuk menggunakan kata-kata, baik dalam membaca maupun menulis dalam memahami pelajaran. Pelajar verbal nyaman dengan banyak membaca, berbicara, dan menulis saat belajar. Mereka juga cenderung menyukai permainan kata, puisi, pantun, menemukan arti kata.
Jika anak adalah pelajar verbal, cari berbagai cara untuk selalu mengaitkan materi pelajaran dengan tulisan dan bacaan. Bisa juga menggunakan teknik mnemonik, membuat buat akronim, dan tuangkan dalam bentuk tulisan. Ulang materi pelajaran dengan membacakannya secara lantang, atau membuat permainan kata bersama teman-teman.
© Dream
Nah, kalau gaya belajar kinestetik biasanya ditandai dengan cepatnya menerima dan mengolah informasi dari hal-hal fisik. Misalnya saja sentuhan, kehadiran alat peraga, dan partisipasi diri sendiri dalam proses belajar. Anak cenderung merasa perlu untuk mengalami sesuatu secara langsung untuk benar-benar memahami suatu hal. Anak juga punya sense yang baik tentang tekstur atau bentuk. Biasanya, anak dengan gaya belajar kinestetik menyukai kegiatan fisik seperti olahraga.
Agar lebih memahami pelajaran, dapat membuat alat-alat peraga, misalnya saat belajar materi katrol Fisika, bisa membuat alat peraga seperti alat timba sumur, agar paham bagaimana katrol itu bekerja untuk mengurangi jumlah gaya yang digunakan untuk mengangkat beban.
© Dream
Anak yang logical biasanya akan cepat menyadari suatu bentuk pola, dan melihat keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya yang biasanya tidak disadari banyak orang. Mereka juga bisa memahami sesuatu dengan menyambungkan koneksi-koneksi dari berbagai detil dan menyusunnya dengan terorganisir, seperti bermain puzzle. Pelajaran yang bersifat problem solving skill, sistematis, dan tidak perlu mengandalkan hafalan adalah keunggulannya.
Selengkapnya baca di Ruang Guru.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya