Dandhy Laksono Dilepas Polisi, Status Tersangka

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 27 September 2019 10:51
Dandhy Laksono Dilepas Polisi, Status Tersangka
Atas tuduhan ini, creator `Sexy Killers` diciduk polisi.

Dream – Aktivis Dandhy Laksono ditangkap Polda Metro Jaya saat berada di rumahnya di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat semalam. Penangkapan yang terjadi pada Kamis jelang tengah malam, 26 September 2019 dijalankan pada pukul 23.00 WIB atas tuduhan dugaan penyebaran informasi bernada provokasi.

Dikutip dari Liputan6.com, Jumat 27 September 2019, kepolisian menuding Dandhy membuat unggahan kebencian terkait isu Papua di akun media sosialnya.

Dandhy ditangkap beberapa jam setelah sampai di rumahnya sekitar pukul 22.30 WIB. 

Awalnya, terdengar ada tamu yang menggedor-gedor pagar rumah. Dandhy kemudian membukaan pintu pagar.

Aparat membawa surat penangkapan dan sedikit menjelaskan unggahan Dandhy di media sosial mengenai Papua. 

Polisi yang berjumlah empat orang itu lalu membawa Dandhy dengan Fortuner bernomor polisi D 216 CC. Dandhy kabarnya dibawa ke Polda Metro Jaya.

" Penangkapan disaksikan oleh dua satpam RT," ujar salah satu kerabat Dandhy melalui telepon seluler.

(Sumber: Liputan6.com/Andry Haryanto)

1 dari 5 halaman

AJI Desak Polisi Segera Bebaskan Dandhy Laksono

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bereaksi atas penangkapan Dandhy. Organisasi profesi jurnalis itu mendesak polisi untuk membebaskan Dandhy Laksono.

Dalam keterangan tertulis, AJI menyatakan berdasarkan informasi dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Dandhy pada mulanya tiba di rumah sekitar pukul 22.30 WIB. Selang 15 menit kemudian datang polisi menggedor-gedor rumah Dandy membawa surat penangkapan.

Polisi menangkap Dhandy karena cuitannya soal Papua yang diduga telah menimbulkan rasa kebencian, permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Dandhy dijerat dengan Padak 28 Undang-undang Informasi Transaksi dan Elektronik (UU ITE).

AJI menegaskan penangkapan Dhandy tidak berdasar dan bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Juga bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi Indonesia.

2 dari 5 halaman

Sudah Dibebaskan dengan Status Tersangka

Merdeka.com memberitakan Dandhy dibebaskan setelah diperiksa selama lima jam di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Tetapi, status Dandhy ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian.

Dandhy keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 03.54 WIB, Jumat (27/9). Dia sebelumnya ditangkap di kediamannya di kawasan Pondokgede, Bekasi, sekitar pukul 23.00 WIB, Kamis (26/9).

" Saya ditanyai terkait posting di Twitter, motivasi, maksud, siapa yang menyuruh, ya standard proses verbal saya pikir," kata Dandhy.

 Dandhy Laksono ditangkap polisi.Dandhy Laksono ditangkap polisi. © Merdeka.com

Saat dijemput polisi, Dandhy mengaku terkejut. Menurut dia, penangkapan seseorang biasanya didahului dengan pemanggilan pemeriksaan.

" Jadi saya pikir saya kooperatif, saya ikutin, dari sini saya justru penasaran ingin tahu terkait apa yang disangkakan kepada saya. Saya ingin benar-benar tahu substansi masalahnya seperti apa," kata Dandhy.

3 dari 5 halaman

Cuitan Ujaran Kebencian

Kuasa hukum Dandhy, Alghiffari Aqsa menjelaskan, cuitan Twitter yang disangkakan kepolisian adalah yang diunggah pada 23 September 2019. Tulisan tersebut berisi mengenai kondisi soal kerusuhan yang terjadi di Wamena dan Jayapura Papua.

Alghiffari menjelaskan, kliennya dijerat pasal ujaran kebencian terhadap individu atau suatu kelompok sesuai pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 A ayat 2 UU ITE.

Selama pemeriksaan, kata Alghiffari, Dandhy dicecar 14 pertanyaan dengan 45 turunan pertanyaan. Usai diperiksa, status Dandhy resmi menjadi tersangka ujaran kebencian.

" Status tersangka, hari ini beliau dipulangkan tidak ditahan dan beliau menunggu proses selanjutnya. Namun meski jadi tersangka beliau tidak ditahan," kata Alghiffari.

4 dari 5 halaman

Inikah Cuitannya?

Alghiffary menyebut cuitan Dandy yang dipersoalkan ada satu. Cuitan tentang Papua ini diunggah di akun Dandhy pada 23 September 2019.

 

 Cuitan Dandhy Laksono.Cuitan Dandhy Laksono. © Akun Twitter @Dandhy_Laksono

 

Berikut ini isinya.

“ JAYAPURA (foto 1) Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas.

WAMENA (foto 2)
Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak,” begitu isinya.

5 dari 5 halaman

Tak Relevan?

Alghiffary menilai, pasal itu tidak relevan dikenakan terhadap Dandhy. " Menurut kami, ini pasal yang tidak relevan, terlebih lagi yang dilakukan Bung Dandhy adalah bagian dari kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat. Menyampaikan apa yang terjadi di papua," ujarnya.

Untuk diketahui, bunyi pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut: Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

" Pasal yang dikenakan tidak berdasar. Karena (unsur) SARA-nya di mana," imbuhnya.

Alghiffari juga sempat memprotes tindakan polisi yang melakukan penangkapan terhadap Dandhy. Seharusnya Dandhy dipanggil sebagai saksi terlebih dahulu atau pemanggilan sebagai tersangka.

“ Kenapa malam-malam dia ditangkap. Pihak kepolisian beralasan ini karena soal SARA dan ini bisa membuat keonaran,” kata dia.

Saat ini, kuasa hukum dan Dandhy menunggu proses selanjutnya yang akan dilakukan pihak kepolisian.

" Status Dandhy tersangka. Beliau dipulangkan, tidak ditahan dan kami menunggu proses selanjutnya. Yang diajukan surat penangkapan, tapi tidak ada penahanan. Bukan ditangguhkan," kata Alghiffari.

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis