Bupati Purwakarta Desak Habib Rizieq Minta Maaf

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 26 November 2015 15:45
Bupati Purwakarta Desak Habib Rizieq Minta Maaf
Bupati Purwakarta ini menyatakan plesetan yang dilakukan Habib Rizieq mengganti salam 'Sampurasun' menjadi 'Campur racun' telah melecehkan adat Sunda.

Dream - Bupati Purwakarta yang juga seorang budayawan Sunda, Dedi Mulyadi menyayangkan sikap Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab atas plesetan salam 'Sampurasun' menjadi 'Campur racun'.

Dedi menilai pernyataan Habib Rizieq sangat melukai perasaan masyarakat Sunda. Atas hal itu, Dedi mendesak Habib Rizieq untuk meminta maaf kepada masyarakat Sunda.

" Habib Rizieq harus bertanggung jawab dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat Sunda, atas ucapannya itu," kata Dedi melalui keterangan tertulis diterima Dream, Kamis, 26 November 2015,

Dedi menilai Habib Rizieq tidak sepatutnya menyampaikan pernyataan seperti itu di forum keagamaan. Apalagi keberadaan Islam di Tanah Sunda berkembang pesat beriringan dengan kebudayaan.

" Kita tahu jika Islam di tanah Sunda sangat menyatu dengan kebudayaannya," ujar Dedi.

Lebih lanjut, menurut Dedi, Sampurasun memiliki makna yang sangat mulia. Salam ini berasal dari kata 'Sampuring insun' yang memiliki makna ajakan berbuat kemuliaan dalam hidup, untuk saling memberi kasih sayang sesuai dengan pemahaman orang Sunda yaitu saling asah, asih, asuh.

" Sampurasun mempunyai makna Sampuring ingsun, yang memiliki arti 'sempurnakanlah diri Anda'. Makna itu adalah ajakan agar kita dapat berbuat kemuliaan," lanjut Dedi.

Dedi juga menyatakan sebagai sebuah kewajaran jika masyarakat Sunda marah pada Habib Rizieq. Dia berharap ke depan pernyataan seperti itu harus menjadi pembelajaran agar tidak ada pihak atau kelompok yang tersakiti lagi.

" Atas kejadian tersebut, tentu harus menjadi pembelajaran bagi semua. Agar ke depan tidak ada lagi pihak atau golongan yang tersakiti atas apa yang diucapkan," pungkas Dedi. (Ism) 

1 dari 3 halaman

Dituduh Nikahi Nyi Roro Kidul, Bupati Purwakarta: Di KUA Mana?

Dituduh Nikahi Nyi Roro Kidul, Bupati Purwakarta: Di KUA Mana? © Dream

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, menjawab tudingan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, yang menuduhnya membangkitkan ajaran Sunda Wiwitan dan mengawini Nyi Roro Kidul. Dedi meminta Rizieq tak menilai seseorang dari tampilan. Sebab, soal iman hanya Tuhan yang tahu.

" Keimanan seseorang itu tidak bisa dilihat dari kasat mata, karena keimanan itu adanya di dalam hati, maka hanya Allah yang maha mengetahuinya,” kata Dedi dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 26 November 2015.

Sebelumnya, dalam ceramah di Purwakarta pada 13 November Habib Rizieq menyinggung sejumlah hal. Dia menyoroti masalah salam yang berkembang di masyarakat. Salah satunya `sampurasun` yang dipakai oleh masyarakat Sunda.

Selain itu, Habin Rizieq juga menyebut Dedi Mulyadi berusaha membangkitkan ajaran Sunda Wiwitan. Bahkan, Dedi disebut telah menikahi Nyi Roro Kidul –yang dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

Video ceramah itu diunggah ke laman Youtube pada 14 November. Transkrip pidato itu juga dimuat pada laman resmi FPI, www.fpi.or.id.

Dedi meminta Habib Rizieq membuktikan semua tuduhan itu. Sehingga pernyataan tersebut tidak sekadar fitnah.

“ Barangkali Habib bisa membuktikan saya menikah dengan Nyi Roro Kidul, kalau tahu tunjukkan di Kantor Urusan Agama (KUA) mana?,” ujar Dedi.

Dia menambahkan, seharusnya Habib Rizieq memahami kebudayaan masyarakat dan tidak berbicara dari satu sudut pandang saja. Sebab, Indonesia punya beragam kebudayaan.

“ Harus diingat, dan jangan lupa, bahwa pada saat ini Habib Rizieq tinggal di negara yang memiliki kosmologi budaya, sehingga jangan memandang Indonesia dari satu dimensi,” ujar Dedi.

2 dari 3 halaman

Isi Lengkap Ceramah `Sampurasun` Habib Rizieq

Isi Lengkap Ceramah `Sampurasun` Habib Rizieq © Dream

Sejumlah tokoh pemimpin di kawasan Jawa Barat mendesak Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab untuk meminta maaf. Ini lantaran Habib Rizieq dinilai telah menghina adat Sunda.

Dalam salah satu ceramah, Habib Rizieq mengganti salam Sunda 'Sampurasun' menjadi 'Campur Racun'. Sontak ceramah yang dilakukan pada 24 November 2015 di kawasan Pasar Rebo, Purwakarta ini memicu amarah di kalangan masyarakat Sunda.

Berikut ceramah Habib Rizieq tersebut, yang dimuat dalam laman resmi fpi.or.id:

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat terkenal dan mengandung unsur penghormatan kepada sesama.

Sampurasun sebagai ADAT Sunda yang punya makna sangat baik dan amat bagus, serta boleh digunakan untuk menyapa sebagai penghormatan, selama tidak dijadikan sebagai pengganti SYARIAT " Assalaamu 'Alaikum" .

Jadi, jangan adu domba ADAT dan SYARIAT, karena masing-masing ada tempat dan syarat serta cara penggunaan.

SALAM NUSANTARA

Di masyarakat Indonesia ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Petang dan Selamat Malam merupakan salam pergaulan nasional untuk penghormatan terhadap sesama. Tentu sah-sah saja digunakan oleh masyarakat Indonesia, sebagaimana di masyarakat Arab ada ungkapan " Shobaahul Khoir" di pagi hari dan " Masaa-ul Khoir" di petang hari.

Namun, ketika ada pihak yang ingin menjadikan salam pergaulan nasional sebagai pengganti " Assalaamu 'Alaikum" di tengah umat Islam, dengan alasan karena " Assalaamu 'Alaikum" hanya merupakan Adat dan Tradisi Arab yang tidak ada kaitan dengan ajaran Islam, tentu jadi persoalan yang sangat serius.

ASSALAAMU 'ALAIKUM

Salam masyarakat Arab Jahiliyyah pada mulanya adalah " Wa Shobaahaa" , atau yang sejenisnya, lalu datang Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan " Assalaamu 'Alaikum" sebagai Tahiyyatul Islam yaitu salamnya kaum muslimin.

Sejak itu " Assalaamu 'Alaikum" adalah Salam Islam bukan Salam Arab. Dan Salam Islam menjadi salah satu rukun Shalat yang tidak sah Shalat tanpanya.

Nah, jika " Assalaamu 'Alaikum" mau diganti dengan salam pergaulan nasional, lalu apakah nanti salam Shalat Shubuh jadi Selamat Pagi, dan salam Shalat Zhuhur jadi Selamat Siang, serta salam Shalat Ashar jadi Selamat Sore, kemudian salam Shalat Maghrib jadi Selamat Petang, sedang salam Shalat Isya jadi Selamat Malam ???

Camkan ... !!!

BUPATI PURWAKARTA

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran " Sunda Wiwitan" , sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dia pun mengaku telah melamar Nyi Roro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Roro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Al-Qur'an.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain " Poleng" , yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk " Keindahan" , tapi untuk " Keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

Dedi tidak bangga dengan Islamnya, tapi ia bangga dengan patung, sesajen dan takhayyulnya, yang dikemas atas nama Kearifan Lokal (Local Wisdom).

Saat banyak Ulama dan para Da'i mulai memprotes dan mengkritik peri laku " Syirik" Dedi, maka serta merta Dedi membuat Perbup (Peraturan Bupati) tentang larangan ceramah provokatif yang menentang kebijakannya.

Belakangan, Dedi mulai sering meninggalkan Salam Syariat Islam " Assalaamu 'Alaikum" dan diganti dengan Salam Adat Sunda " Sampurasun" . Dimana saja dan kapan saja, Dedi terus mengkampanyekan aneka budaya " Syirik" nya yang dibungkus dengan nama " Adat" dan " Budaya" , serta dikemas dengan salam santun masyarakat Sunda " Sampurasun" .

Bahkan Dedi dalam salah satu bukunya yang berjudul SPIRIT BUDAYA menyebut bahwa Islam adalah BUDAYA. Padahal, Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq yang bersumber dari WAHYU ALLAH SWT, sedang Budaya bersumber dari akal pemikiran dan perilaku manusia.

Pada halaman latar belakang buku tersebut tertulis : “ Warga Baduy mengajarkan kepada kita untuk tidak melawan alam. Dalam pemahaman saya (Dedi Mulyadi, red) merekalah yang beragama dan yang bertuhan secara benar.”

Selanjutnya di halaman 16 tertulis : “ Kebudayaan itu derajat manusia, persis seperti agama.” Lalu pada halaman 17 : “ Saya sendiri menginginkan Sunda yang sesuai dengan wiwitan atau identitas awalnya, Sunda yang menyerahkan diri terhadap alam yang tidak mengenal simbolisasi penyembahan.”

Akhirnya, banyak kalangan pemuka masyarakat Islam Purwakarta menyebutkan bahwa Dedi bukan sedang memasyarakatkan " Sampurasun" , tapi sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan " Campur Racun" .

Tentu kita setuju, bahwasanya Dedi Mulyadi memang bukan sedang memasyarakatkan kesantunan salam Sunda " Sampurasun" , tapi dia memang sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan " Campur Racun" , yaitu meracuni aqidah umat dengan aneka perbuatan " Syirik" .

Karenanya, kami serukan jaga kesantunan ADAT " Sampurasun" dalam rawatan SYARIAT " Assalaamu 'Alaikum" , sehingga ADAT dan SYARIAT tetap seiring sejalan.

Ayo, selamatkan " Sampurasun" , dan tolak " Campur Racun" .

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ...
Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...

Jawaban Dedi Mulyadi 

Menanggapi pernyataan mantan Ketua FPI itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi meminta agar Habib Rizieq tidak menilai seseorang secara kasat mata. Karena menurut Dedi, keimanan manusia bukan dinilai oleh manusia, tapi hanya Tuhan yang mengetahuinya.

" Keimanan seseorang itu tidak bisa dilihat dari kasat mata, karena keimanan itu adanya didalam hati, maka hanya Allah yang maha mengetahuinya," kata Dedi, dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 26 November 2015. 

Selain itu, Dedi juga meminta pembuktian atas tuduhan yang dialamatkan Habib Rizieq kepadanya yang telah melamar dan menikahi Ratu Pantai Selatan Nyai Roro Kidul.

Bahkan Dedi meminta pembuktian agar Rizieq menunjukan Kantor Urusan Agama (KUA) yang dijadikan tempatnya menikah. Sehingga pernyataan tersebut tidak sekedar fitnah.

" Barangkali Habib bisa membuktikan saya menikah dengan Nyi Roro Kidul, kalau tahu tunjukan di Kantor Urusan Agama Mana?" ujar Dedi. (Ism) 

3 dari 3 halaman

Diserang Habib Rizieq, Bupati Purwakarta Jelaskan `Sampurasun`

Diserang Habib Rizieq, Bupati Purwakarta Jelaskan `Sampurasun` © Dream

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dituding oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab berusaha merusak ajaran Islam dan lebih condong pada pelestarian adat Sunda. Salah satu indikasi yang menjadi dasar tudingan itu adalah imbauan untuk lebih sering mengucapkan salam Sunda 'Sampurasun' daripada salam Islam 'Assalamu alaikum'.

Atas hal itu, Habib Rizieq kemudian mengubah salam tersebut dari 'Sampurasun' menjadi 'Campur racun'.

Terkait tuduhan ini, Dedi kemudian memberikan penjelasan makna 'Sampurasun'. Penjelasan Dedi diunggah di halaman akun Facebook miliknya dengan judul 'Catatan Kecil Sampurasun'.

Berikut penjelasan Dedi. 

CATATAN KECIL TENTANG MAKNA SAMPURASUN

SAMPURASUN berasal dari kalimat " sampurna ning ingsun"  yang memiliki makna " sempurnakan diri Anda" . Kesempurnaan diri adalah tugas kemanusiaan yang meliputi penyempurnaan pandangan, penyempurnaan pendengaran, penyempurnaan penghisapan, penyempurnaan pengucapan yang semuanya bermuara pada kebeningan hati. Pancaran kebeningan hati akan mewujud sifat kasih sayang hidup manusia maka orang Sunda menyebutnya sebagai ajaran siliwangi, silih asah, silih asih, silih asuh.

Ketajaman inderawi orang Sunda dalam memaknai sampurasun melahirkan karakter waspada permana tinggal (ceuli kajaga ku runguna, panon kajaga ku awasna, irung kajaga ku angseuna, letah kajaga ku ucapna yang bermuara pada hate kajaga ku ikhlasna). Waspada permana tinggal bukanlah sikap curiga pada seluruh keadaan tetapi merupakan manifestasi dari sosok perilaku Sunda yang deudeuhan, welasan, asihan, nulung kanu butuh nalang kanu susah nganteur kanu sieun nyaangan kanu poekeun, selalu bersikap tolong menolong pada sesama hidup.

Sikap ini melahirkan budaya gotong royong yang dilandasi semangat sareundeuk saigel sabobot sapihaeuan, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salogak, sistem komunalitas yang bermuara pada kesamaan titik penggerak pada sang Maha Tunggal Penguasa Seluruh Kesemestaan

Memusatkan seluruh energi kemanusiaan pada KemahaTunggalan Allah Penguasa Alam Semesta melahirkan karakter peng-aku-an dalam diri orang Sunda hirup ukur sasampeuran awak ukur sasampayan sariring riring dumadi sarengkak saparipolah sadaya kersaning Gusti Nu Maha Suci, sifat totalitas ini melahirkan sosok yang bernama Rawayan Jati Ki Sunda. (Ism) 

Beri Komentar