Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Apa yang dilakukan pria asal Siberia, Rusia ini mungkin bisa disebut sebagai definisi sesungguhnya dari cinta. Keputusannya menikah membuat banyak orang terharu.
Seorang pria memutuskan melamar wanita saat di persidangan. Padahal, wanita itu adalah orang yang berusaha membunuhnya dengan kapak.
" Selama persidangan, pria itu melamar terdakwa dan mereka menikah," kata kantor kejaksaan wilayah Tomsk dalam siaran pers.
Dikutip dari The Moscow Times, pria meminta pengadilan untuk tidak memenjarakan pasangannya.
Kantor kejaksaan menjelaskan secara rinci terjadinya insiden tersebut. Menurut Kejaksaan, insiden itu terjadi pada 2019, lantaran pelaku dan korban berada di bawah pengaruh alkohol.
Terdakwa yang sekarang berusia 67 tahun sempat berdebat dengan pacarnya yang kala itu berusia 38 tahun. Perdebatan disebabkan si pria enggan menjaga apartemen yang mereka tinggali tetap bersih dan teratur.
" Dia muncul di belakang pria yang sedang sibuk menonton televisi dan memukulnya dengan kapak beberapa kali di kepala, tulang rusuk, dan lehernya," kata pernyataan tersebut.
Pria yang tidak disebutkan namanya itu mencoba meyakinkan petugas medis dan polisi bahwa dia terluka akibat jatuh secara tidak sengaja. Pria itu ingin melindungi sang kekasih.
Pengadilan distrik Tomsk memutuskan wanita itu bersalah atas luka fisik tersebut. Tetapi, karena pernikahan dadakan diadakan, pengadilan memberinya hukuman masa percobaan selama tiga tahun.
Padahal, KUHP Rusia menetapkan hukuman penjara maksimum 10 tahun untuk kejahatan itu. Kantor kejaksaan mencatat hukuman tersebut belum berlaku dan pasangan ini masih bisa mengajukan banding.
(Laporan: Elyzabeth Yulivia)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya