Nadiem Makarim: Tutup dan Buka Sekolah Sama-Sama Disalahkan, Enggak Apa-Apa

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 29 September 2021 07:00
Nadiem Makarim: Tutup dan Buka Sekolah Sama-Sama Disalahkan, Enggak Apa-Apa
Nadiem lebih mengkhawatirkan dampak buruk PJJ, terutama bagi anak usia PAUD dan SD.

Dream - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, mengaku mendapat banyak kritikan soal kebijakannya menutup dan membuka kembali sekolah akibat pandemi Covid-19. Dia pun menanggapi kritikan tersebut dengan santai.

" Tutup sekolah kan saya disalahkan, sekarang buka sekolah saya disalahkan, enggak apa-apa," ujar Nadiem dalam diskusi virtual di Youtube bertema Bangkit Bareng.

Nadiem mengatakan, mendapat banyak dukungan saat memutuskan menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Dukungan tersebut jauh banyak dibandingkan mereka yang menentang.

" Mayoritas 80 sampai 85 persen dari masyarakat kita menginginkan kita kembali tatap muka, itu jadi pegangan saya," kata Nadiem.

1 dari 4 halaman

PTM Terbatas Pernah Dilakukan

Nadiem pun menjelaskan sebelum varian Delta menyebar, sudah cukup banyak sekolah yang menggelar opsi PTM terbatas. Saat itu, jumlah sekolah yang melaksanakan PTM terbatas mencapai 30 persen.

Sayangnya, masyarakat seperti lupa PTM terbatas pernah dijalankan. Sehingga, ketika PTM digelar kembali, muncul banyak kritikan.

" Jadi ini orang-orang tuh suka lupa gitu lho, suka pula bahwa ini sudah kita laksanakan sebelumnya," ucap Nadiem.

2 dari 4 halaman

Khawatirkan Dampak Jangka Panjang PJJ

Nadiem mengungkapkan kekhawatirannya jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) terus dijalankan. Ada sejumlah risiko yang bisa terjadi, mulai learning loss hingga dampak kejiwaan pada anak.

" Ini yang saya wanti-wanti ke setiap kepala daerah," terang dia.

Belum lagi jika risiko tersebut melanda peserta didik di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). Dia menilai dampak yang timbul bisa bersifat permanen sehingga PTM terbatas menjadi opsi yang harus dijalankan.

" Bagaimana yang mayoritas murid kita di bawah umur 12 tahun tidak bisa divaksin dan merekalah yang paling punya risiko terbesar dalam pelaksanaan PJJ," ucap dia.

3 dari 4 halaman

Menteri Nadiem Sampai Mohon PTM Dijalankan: `Anak-Anak Kita Alami Learning Loss`

Dream - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, meminta semua pihak, khususnya kepala daerah, untuk mendukung pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Permohonan disampaikan mengingat angka anak putus sekolah di Indonesia mengalami peningkatan akibat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

" Kami mohon sekali kepada daerah untuk menyelamatkan anak-anak kita yang mengalami learning loss. Generasi ini akan sangat sulit untuk mengejar ketertinggalan," ujar Nadiem.

Nadiem kembali mengingatkan sekolah di daerah PPKM level 1 hingga 3 dapat melaksanakan PTM terbatas. Apalagi jika guru dan tenaga kependidikan di suatu sekolah sudah divaksinasi, maka sekolah wajib memberikan opsi PTM dan PJJ.

" Orangtua tetap berhak menjadi penentu metode pembelajaran terbaik bagi anaknya," kata Nadiem.

Nadiem mengungkapkan sejauh ini baru 45 persen satuan pendidikan di daerah yang sudah menggelar PTM terbatas. Dia menilai angka ini masih jauh dari harapan lantaran masih banyak satuan pendidikan belum memberikan opsi PTM terbatas.

Sebagian besar satuan pendidikan tersebut terkendala izin dari pemerintah daerah. Dia pun mengingatkan dampak buruk PJJ yang bisa timbul secara permanen dan membuat anak-anak Indonesia tertinggal serta tak mampu mengejar.

4 dari 4 halaman

Angka Putus SD 2020 Cukup Tinggi

Nadiem menyinggung hasil riset yang digelar INOVASI dan Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbudristek. Rata-rata, pendidikan di Indonesia telah kehilangan 5-6 bulan pembelajaran per tahun.

Kemudian, riset Bank Dunia menyebut angka putus sekolah di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 1,12 persen. Peningkatan tersebut 10 kali lipat dibandingkan dengan Angka Putus SD 2019.

Diperkirakan anak usia SD di Indonesia pada 2020 tidak bersekolah sebanyak 118 ribu anak. Jumlah ini meningkat lima kali lipat dibandingkan 2019.

" Kami harap percepatan penuntasan vaksinasi PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) bisa menjadi dorongan untuk mengembalikan anak ke sekolah secara terbatas," kata Nadiem, dikutip dari Merdeka.com.

Beri Komentar