Diterima Trump di Gedung Putih, Ini Target Dubes RI untuk AS M Lutfi

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 19 September 2020 09:51
Diterima Trump di Gedung Putih, Ini Target Dubes RI untuk AS M Lutfi
M Lutfi resmi bekerja sebagai Dubes RI untuk AS menggantikan Mahendra Siregar.

Dream - Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Amerika Serikat yang baru, M Lutfi menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penugasn baru di Negeri Paman Sam. Lutfi diterima Trump di Ruang Ouval, Gedung Putih, pada Kamis, 18 September 2020 waktu setempat.

Dengan penyerahan surat kepercayaan tersebut, M Lutfi yang menggantikan posisi Dubes sebelumnya Mahendra Siregar resmi bertugas sebagai Dubes RI untuk AS. Sebelumnya M Lutfi dilantik Presiden Joko Widodo pada Senin, 14 September 2020 lalu.

Dalam pertemuan dengan Presiden Trump, M Lutfi menyampaikan salam hangat dari Presiden RI Joko Widodo dan rakyat Indonesia kepada Trump dan rakyat AS.

 

1 dari 3 halaman

Target Lutfi Selama Jadi Dubes

Mantan Menteri Perdagangan Mendag sekaligus mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), itu mengatakan telah memiliki program prioritas selama mengemban tugas barunya sebagai Dubes. Lutfi memastikan bahwa AS memperpanjang persetujuan fasilitas pembebasan tarif bea masuk (generalized system of preference/GSP) ke Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, Lutfi juga akan memulai pembicaraan untuk negosiasi terkait perjanjian dagang bebas terbatas atau limited trade deal  dengan AS.

“ Saya akan mendorong dan memastikan bahwa persetujuan GSP diperpanjang. Lalu, memulai pembicaraan negosiasi daripada limited trade deal, yaitu barang-barang di AS yang pajaknya kurang dari 5% bisa di nol persenkan tanpa melalui kongres. Kita memulai negosiasi itu segera, itu prioritas,” ujar Lutfi.

Indonesia diketahui berada di urutan ketiga negara yang banyak memanfaatkan fasilitas GSP AS. Sekitar 14,9 persen ekspor Indonesia ke AS memanfaatkan fasilitas tersebut. Saat ini, Indonesia tengah menunggu hasil review yang dilakukan pemerintah AS melalui United States Representiative (USTR) terkait pemberian fasilitas GSP.

Lutfi memastikan diplomasi ekonomi dengan Negara Paman Sam akan diperkuat ke depannya. Seiring era baru perdagangan internasional, lanjut Lutfi, pihaknya menyadari bahwa bila ingin menjual barang atau produk ke pasar AS, Indonesia juga mesti membeli produk AS.

“ Saya juga ingin memastikan produk-produk AS bisa berkompetisi di pasar Indonesia. Karena pasar kita besar dan prospektif, saya akan memastikan bahwa AS mengetahui bahwa Indonesia selalu memperbaiki iklim investasi,” ungkapnya.

 

2 dari 3 halaman

Jadikan RI Tujuan Investor AS

Lebih lanjut, Lutfi bertekad untuk memastikan bahwa investor-investor AS mengetahui dengan baik perbaikan iklim investasi di Tanah Air dan menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi dari perusahaan-perusahaan asal negara Adidaya tersebut.

Minat investor AS untuk menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi telah tercermin dari langkah Kimberly-Clark Corporation, pionir produk konsumen global yang bermarkas di Texas, AS. Kimberly mengumumkan akan mengakuisisi Softex Indonesia dengan nilai transaksi tunai US$1,2 miliar, dari sekelompok pemegang saham termasuk CVC Capital Partners Asia Pacific IV.

“ Pada akhir era-70an mereka salah satu perusahaan pertama yang investasi besar di Indonesia. Sekarang mereka sudah mulai lagi. Dengan modalitas baru, dengan membuka pasar kita ternyata banyak investasi masuk. Mudah-mudahan mereka membuka pasar baru sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi,” papar Lutfi.

 

3 dari 3 halaman

Karier Lutfi di birokrasi memang sudah memiliki jejak cukup panjang. Pria kelahiran Jakarta pada 1969 dari pasangan Firdaus Wadjdi dan Suhartini ini mengawali karirrnya sebagai pengusaha bersama beberapa rekannya, Erick Tohir (kini Menteri BUMN), Wishnu Wardhana, dan Harry Zulnardy. Mereka berinisiatif mendirikan Mahaka Group. 

Di usia 29 tahun, Lutfi dipercaya menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia untuk Jakarta Yang Lebih Baik (HIPMI JAYA) periode 1998 - 2001. Empat tahun berikutnya, Lutfi diberi kepercayaan lebih besar menjadi Ketua Nasional HIPMI.

Mengantongi gelar sarjana di bidang Economics dari Purdue University, Amerika Serikat, Lutfi ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk masuk ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu pada 2005. Posisi yang ditempati Lutfi di kabinet tersebut sebagai Kepala BKPM. Saat itu usianya masih 36 tahun dan Lutfi tercatat sebagai Kepala BKPM termuda yang pernah dimiliki negeri ini.

Di masa kepemimpiannya, BKPM membawa Indonesia masuk dalam 25 Daftar Teratas Tempat Tujuan Investasi versi ATKearney pada edisi nomor 21. Di bawah kendali Lutfi, Indonesia bahkan diakui oleh Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) sebagai salah satu negara berkembang terbaik.

Pada 2008, Lutfi mendapat penghargaan sebagai Pemimpin Muda yang Berpengaruh oleh The World Economic’s Forum’s Young Global Leaders. Lutfi juga menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana, yaitu salah satu penghargaan tertinggi di Indonesia yang diberikan untuk anggota masyarakat sipil.

Beri Komentar