Dokter Bedah Senior RSUD Sidoarjo Meninggal karena Covid-19

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 29 Juni 2020 18:18
Dokter Bedah Senior RSUD Sidoarjo Meninggal karena Covid-19
Ia sempat menjalani perawatan dan menggunakan ventilator. Sayang, nyawanya tak tertolong.

Dream - Korban jiwa dari kalangan medis karena virus Covid-19 terus berjatuhan. Kali ini kabar duka datang dari RSUD Sidoarjo, Jawa Timur. Salah seorang dokter bedah senior di rumah sakit ini, bernama Soekarno Kasmuri (73) meninggal dunia akibat terpapar Corona Covid-19.

Dokter Soekarno dilaporkan meninggal dunia pada Minggu 28 Juni 2020, pukul 06.30 WIB di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). " Iya ada (dokter RSUD Sidoarjo meninggal dunia) terkait Corona Covid-19, dirawat 15 hari," ujar Juru bicara Tim Satuan Tugas Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya, Alfian Nur Rasyid, Minggu, 28 Juni 2020, dikutip dari Liputan6.com

Alfian menjelaskan saat masuk ke RS, pasien langsung ke IGD dengan keluhan mengalami gejala seperti Covid-19. Kondisinya pun berat ditambah lagi usianya yang sudah lanjut. Setelah dites hasilnya positif Covid-19.

 

1 dari 6 halaman

Pakai Ventilator

Sang dokter bahkan sampai dipasangi ventilator dan menjalani perawatan intensif. Sedihnya, nyawa Soekarno tidak terselamatkan. Berdasarkan informasi, jenazah dokter itu dimakamkan di Keputih.

Kabar meninggalnya Soekarno beredar di media sosial. Tidak hanya Soekarno, seorang dokter lainnya bernama Edy Winarto juga dikabarkan meninggal dunia.

Saat dimintai konfirmasi perihal kabar tersebut, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi tidak membantah kebenaran kabar tersebut. Joni menegaskan dokter Edy Winarto meninggal bukan karena terpapar Corona Covid-19.

Laporan Dian Kurniawan/ Sumber: Liputan6.com

2 dari 6 halaman

Walikota Risma Nangis dan Bersujud di Depan Dokter: Mohon Maaf

Dream - Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menangis saat menggelar audiensi dengan para dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Balai Kota. Tak hanya menangis, wanita yang karib disapa Risma itu juga bersujud di hadapan para dokter tersebut.

 Walikota Risma Nangis dan Bersujud di Depan Dokter: Mohon Maaf© MEN

Menurut Liputan6.com, Senin 29 Juni 2020, dalam audiensi tersebut Risma mendengarkan berbagai keluhan dari para dokter dan para pimpinan rumah sakit rujukan di Surabaya terkait penanganan kesehatan COVID-19.

Risma tiba-tiba menuju kursi yang diduduki oleh para dokter dan kemudian memegang salah satu kaki dokter sambil bersujud dan menyampaikan permintaan maaf.

3 dari 6 halaman

Peristiwa ini terjadi setelah seorang dokter ahli paru senior dari RSUD Dr Soetomo, dr Sudarsono, bercerita tentang penuhnya rumah sakit-rumah sakit karena COVID-19. " Saya mohon maaf Pak, mohon maaf,” kata Risma dengan suara lirih.

Risma menyampaikan, selama ini Pemerintah Kota Surabaya kesulitan berkoordinasi dengan RSUD Dr. Soetomo Surabaya bahkan untuk sekadar komunikasi.

Sembari bersujud, Risma menjelaskan sudah menyediakan 200 tempat tidur di RS Husada Utama jika RS Dr Soetomo penuh. " Kenapa saya selalu disalahkan, padahal bantuan saya ditolak," kata Risma sembari menangis.

4 dari 6 halaman

Protes Keras Risma Soal Mobil PCR, Khofifah Akhirnya Angkat Bicara

Dream - Beberapa hari lalu ramai video Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini 'mengamuk' di telepon dengan seseorang. Hal ini lantaran mobil labolatorium khusus Polymerase Chain Reaction (PCR) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dipindahkan ke Trenggalek dan Sidoarjo.

Akibatnya sejumlah orang menumpuk dan jadwal tes yang sudah dibuat jadi berantakan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa akhirnya angkat berbicara terkait hal ini.

Khofifah menuturkan, Kabupaten Trenggalek memiliki jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 593 orang. Terbanyak kedua setelah Surabaya. Dengan angka kematian PDP yang menyentuh 175 orang.

" Separuhnya (pasien PDP) itu sudah meninggal tapi belum sempat di tes, keburu meninggal," ujar dia dalam konferensi pers di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu malam, 30 Mei 2020.

Sementara untuk Sidoarjo, kata dia, hanya memiliki kapasitas tes swab atau polymerase chain reaction (PCR) 16 spesimen per hari. Sedangkan jumlah pasien positif Covid-19 di tetangga Surabaya itu terbanyak kedua setelah kota pahlawan dengan 632 orang.

" Pasti sangat jauh dari apa yang diharapkan untuk memberikan percepatan penanganan Covid-19," ucap Khofifah.

5 dari 6 halaman

Laboratorium Universitas Airlangga Rehat

Menurut Khofifah, Surabaya memiliki tujuh laboraturium besar. Meski di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga yang masih rehat sejenak, masih ada RSUD Dr Soetomo, RS Premier Surabaya, RS National Hospital, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

 Tes Corona© Shutterstock

Khofifah menuturkan, bila semua laboratorium dimaksimalkan masih bisa membantu penanganan COVID-19. " Jadi kalau ini dimaksimalkan sesungguhnya ini akan bisa memberikan percepatan konfirmasi dari spesimen yang di PCR tes," ucap Khofifah.

Sementara itu, perkembangan jumlah pasien positif Corona COVID-19 di Jawa Timur per Sabtu 30 Mei 2020 ada tambahan 191 orang. Dengan begitu total menjadi 4.600 pasien di Jatim.

 

6 dari 6 halaman

Pasien Covid-19 Terus Meningkat di Jawa Timur

Tambahan paling banyak adalah Surabaya dengan 101 pasien, Sidoarjo 23 pasien, Kabupaten Kediri 10 orang, Lamongan dan Jombang masing-masing delapan pasien. Kemudian Tulungagung dan Ponorogo di tiap kabupaten ada tujuh pasien tambahan.

Lalu Gresik lima orang, Bojonegoro empat orang, Bangkalan tiga orang, Nganjuk dan Kota Mojokerto masing-masing bertambah dua orang. Trenggalek, Banyuwangi, Sumenep, Pacitan, Pamekasan, kota dan kabupaten Probolinggo, Kota Malang, Tuban, serta Jember ditiap daerah bertambah satu pasien.

Tidak hanya pasien positif bertambah, jumlah yang sembuh juga meningkat 20 orang menjadi 609 orang atau setara 13,24 persen. Sedangkan yang meninggal tercatat per hari ini ada 24 orang, sehingga total 396 orang atau setara 8,61 persen.

Untuk PDP tercatat 6.595 orang, dengan yang masih diawasi 3.174 orang. Kemudian Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 24.180 orang, dan yang masih dipantau 4.081 orang.

Laporan Dian Kurniawan/ Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar