Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mbah Kiman Dan Mbah Sutinah, Menjalin Cinta Di Usia Senja (Liputan6.com)
Dream - Cinta tak mengenal usia. Kalimat itu tampaknya tepat disematkan pada dua lansia asal Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kiman Mitro Wiyono atau akrab disapa Mbah Kiman (75) dengan Sutinah (75).
Bak anak muda, keduanya juga terikat hubungan asmara. Uniknya, rasa cinta di antara mereka baru tumbuh ketika sama-sama berusia senja.
Mbah Kiman dan Mbah Sutinah merupakan warga Desa Bendung, Kecamatan Semin. Mereka tinggal di rumah masing-masing yang jaraknya tidak lebih dari 300 meter.
Mbah Kiman tinggal seorang diri setelah istrinya meninggal. Suatu hari, Mbah Sutinah datang ke rumah Mbah Kiman untuk meminta kayu bakar.
Rupanya, Mbah Kiman merasa ada yang berbeda pada dirinya ketika bertemu dengan Mbah Sutinah. Sejak pertemuan itu, Mbah Kiman jadi rajin bekerja, menyiapkan kayu bakar, serta berdandan.
" Piyambake asring mriki. Menawi wonten mriki, raosipun manah kok ayem (Dia sering datang ke sini. Setiap dia di sini, hati rasanya kok adem)," kata Mbah Kiman, dikutip dari Liputan6.com.
Rasa cinta lalu timbul di hati Mbah Kiman dan Mbah Sutinah. Hubungan asmara mereka pun terjalin dengan tulus dengan niatan kuat untuk saling menjaga.
" Enggak tahu kok merasa senang. Saya jatuh cinta sejak dua tahun lalu. Alhamdulillah mendapat balasan," kata Mbah Kiman.
Mbah Kiman sebenarnya sudah tiga kali menikah. Tetapi, pernikahan tersebut tidak memberikannya keturunan.
Demikian pula dengan Mbah Sutinah. Meski pernah menikah, dia tidak juga dianugerahi keturunan.
Meski tinggal berdekatan, selama ini keduanya sama sekali tidak menyimpan rasa suka. Barulah ketika sama-sama hidup sendiri, keduanya menjadi saling suka.
" Setelah kami saling tahu kalau cinta berbalas, saya sering datang berkunjung ke rumahnya," kata Mbah Kiman.
Hubungan antara Mbah Kiman dan Mbah Sutinah juga diketahui warga sekitar. Awalnya, warga memaklumi interaksi yang terjadi antara dua lansia tersebut.
Tetapi, lambat laun kebersamaan keduanya agak membuat gerah. Sebabnya, kunjungan Mbah Kiman ke rumah Mbah Sutinah terkadang tidak mengenal waktu meski tidak sampai larut malam.
" Saya kalau ke rumahnya ya ngobrol. Kami sama-sama butuh teman," kata Mbah Kiman.
Karena sudah cinta, Mbah Kiman pernah menyampaikan niat mengajak Mbah Sutinah menikah. Keduanya pun sadar diri sudah tidak lagi berusia muda.
Rupanya, ikatan cinta keduanya begitu kuat hingga tetap merencanakan pernikahan. Meski begitu, motivasi mereka hanya ingin saling menemani dan mengisi kekosongan batin.
Niat itu akhirnya terwujud. Suatu sore, Mbah Kiman diberitahu tetangga untuk datang ke rumah Mbah Sutinah. Mbah Kiman segera berdandan rapi dan menuju rumah Mbah Sutinah.
Sesampai di sana, ternyata warga sudah berkumpul. Termasuk pula kepala dusun maupun ketua RT dan ketua RW.
" Alhamdulillah, kami disarankan menikah," kata Mbah Kiman.
Akhirnya, warga bergotong royong mempersiapkan pernikahan Mbah Kiman dan Mbah Sutinah. Ijab kabul dilangsungkan di KUA Semin, disaksikan warga sekitar.
Mbah Kiman resmi menikahi Mbah Sutinah dengan mahar Rp150 ribu. Mereka pun sah menjadi pasangan suami istri dan menjalani sisa hidup bersama.
Kasi Pelayanan Desa Bendung, Sukirno, membenarkan pernikahan tersebut. Menurut dia, pernikahan dipasrahkan kepada wali hakim karena tidak ada keluarga yang bisa bertindak sebagai wali nikah untuk Mbah Sutinah.
" Warga juga mendukung sepenuhnya pernikahan ini. Daripada kisah cinta kakek nenek ini tak sah secara agama," ucap Sukirno.
Sumber: Liputan6.com/ Edhie Prayitno Ige
Dream - Pernikahan menggemparkan kembali terjadi. Kali ini berlangsung di Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Pasangan mempelai yang menikah diketahui bernama Hj Astuti dengan pria bernama Muh. Ridwan. Uang panai atau mahar pernikahan tersebut sangat besar.
Akun Instagram @makassar_iinfo mengunggah kabar mengenai pernikahan tersebut. Pada unggahan itu, pernikahan berlangsung di Balang Pasui Kelurahan Tolo Timur, Kecamatan Kelara pada Sabtu, 22 Juni 2019.
" Lagi-lagi, seorang gadis di Jeneponto dilamar dengan uang panaik 500 juta," tulis admin.
Tidak hanya itu, ada sejumlah barang lain yang juga diserahkan mempelai pria kepada wanita. Barang-barang tersebut tidak kalah mewahnya.
" Beras satu ton, satu petak sawah, satu ekor kuda dan satu stell emas," tulis admin.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya