Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Letusan Gunung Anak Krakatau Pada 21 Juni 2018 (Foto: BNPB)
Dream - Gunung Anak Krakatau meletus pada pukul 07.14 WIB, Senin 25 Juni 2018. Menurut Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kolom abu letusan gunung yang terletak di Lampung itu setinggi 1.000 meter di atas puncak kawah atau pada ketinggian 1.305 meter di atas permukaan laut.
Erupsi melontarkan abu vulkanik dan pasir, namun tidak membahayakan penerbangan pesawat selama berada di luar radius satu kilometer dari puncak kawah.
"Selain itu, erupsi juga tidak membahayakan pelayaran di Selat Sunda," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.
Status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada. Sama dengan level yang ditetapkan sejak 26 Januari 2012. "Tidak ada perubahan status Gunung Anak Krakatau," ujar dia.
Sutopo mengatakan, erupsi Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Gunung ini masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi.
"Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun," ucap dia.
Menurut Sutopo, sejak 18 hingga 21 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Ada pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi erupsi.
"Secara visual terlihat erupsi mengeluarkan abu dan pasir. Tipe letusannya strombolian yang terjadi erupsi secara berkala pada saat itu," ucap dia.
Advertisement

Memahami Apa Itu MSCI dan Dampak Klasifikasi Indonesia Sebagai Standalone Market

Danantara Itu Apa Sih? Kenali Superholding dan Negara yang Sudah Duluan Mencobanya


Shopee 11.11 Big sale Hadir dengan Beragam Keseruan, Ini 5 Cara Menikmatinya


Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?
