Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Imam Prancis, Hassen Chalgoumi, menyatakan seorang guru yang tewas dipenggal akibat menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelas sebagai martir kebebasan bersuara. Dia juga membuat seruan ditujukan kepada masjid di seluruh Prancis untuk mendoakan guru tersebut saat sholat Jumat.
Chalgoumi, imam masjid di Drancy, kawasan sub-urban Paris, memberi peringatan kepada kelompok ekstremis Islam. Dia juga menyeru agar para orangtua tidak menanamkan kebencian terhadap Prancis.
Pernyataan tersebut disampaikan Chalgoumi saat berziarah bersama sejumlah pemimpin Islam Paris ke sekolah yang menjadi lokasi pembunuhan guru tersebut. Usai meletakkan bunga di depan pagar sekolah pada Senin, 19 Oktober 2020, dia mengingatkan umat Islam untuk segera bangun dan tersadar akan bahaya ekstremisme Islam.
" (Guru) adalah martir bagi kebebasan berekspresi, dan orang bijak yang telah mengajarkan toleransi, peradaban, dan rasa hormat kepada orang lain," ujar Chalgoumi.
Dia menegaskan, petinggi Islam harus melihat insiden pemenggalan tersebut sebagai seruan untuk bertindak.
" Rektor (pimpinan) masjid, para imam, para orangtua, kelompok masyarakat sipil, bangun, masa depanmu dipertaruhkan," kata Chalgoumi.
Dia juga mengingatkan ekstremis di Prancis terorganisir dengan baik dan tahu bagaimana memanfaatkan sistem hukum serta seberapa jauh mereka bisa melangkah. Chalgoumi juga menegaskan sudah saatnya umat Islam Prancis mengakhiri diskursus viktimisasi.
" Kita semua punya hak di Prancis, sebagaimana orang lain. Para orangtua seharusnya mengajarkan anak-anak mereka tentang kebaikan di republik ini," ucap dia.
Awal Oktober, guru di Conflans-Sainte-Honorine, teridentifikasi sebagai Samuel Paty, menjadi korban pembunuhan. Pelaku terindentifikasi sebagai Abdoullakh Abouyezidevitch Anzonov, pemuda 18 tahun berdarah Chechen, Rusia.
Insiden pembunuhan ini dipicu aksi guru tersebut menunjukkan karikatur Nabi Muhammad yang dimuat di buletin Charlie Hebdo di dalam kelas. Gambar tersebut merupakan materi untuk pembelajaran mengenai kebebasan berekspresi.
Tetapi, hal itu ditanggapi berbeda oleh Anzonov dan menuding guru tersebut menghina Islam. Anzonov pun tega membunuh gurunya, merekam aksinya dan menyebarkan ke media sosial.
Sumber: National Post.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya