Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Basarnas Dalam Operasi Pencarian Sriwijaya Air SJ182 (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Dream - Nanik Mardiyah tidak pernah membayangkan bisa kehilangan anak dan dua cucunya. Kini dia hanya bisa berharap ada keajaiban.
" Saya masih berharap ada keajaiban dari Allah, mudah-mudahan bisa ketemu anak cucu saya," ujar Nanik.
Nanik yang tinggal di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini adalah ibu dari Rahmania Ekananda, 40 tahun, serta nenek dari Fazila Amara, 6 tahun, dan Fatima Asalim, 2,5 tahun.
Ketiganya bersama seorang pengasuh bayi bernama Dinda, 16 tahun, menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada Sabtu, 9 Januari 2021.
Nanik mengaku tak bisa tidur setelah mendengar pesawat Sriwijaya Air hilang kontak. Awal bulan lalu, Nanik sempat ke Jakarta untuk menjenguk cucunya.
Putrinya, Rahmania, menikah dengan anggota TNI AU yang bertugas di Lanud Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. Tetapi, keduanya tidak tinggal serumah.
Rahmania bersama anak-anaknya tinggal di Jakarta. Sedangkan sang suami tinggal di Pontianak karena masa tugas.
Nanik ingat betul senyum anaknya terakhir kali bertemu. Menurut dia, Rahmania memang sempat bilang ingin mengunjungi sang suami mengajak serta kedua anaknya.
" Dua hari lalu kirim foto swab test, dua anak dan satu pengasuh, jadi empat-empatnya negatif. Besoknya (Sabtu) kirim foto sudah di ruang tunggu bandara di Cengkareng (Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta). Foto anaknya di ruang tunggu," kata dia.
Nanik sempat bertanya jadwal keberangkatan pesawat. Dia berencana mengontak sang anak saat tiba di Pontianak.
Tepat sesuai jadwal tiba, Nanik berusaha menghubungi Rahmania namun gagal. Baru pada pukul 16.00 WIB, dia berhasil mengubungi menantunya.
Sang menantu menjawab telepon Nanik sambil menangis. Dari situlah Nanik mendapat kabar hilangnya pesawat yang ditumpangi sang anak.
" Jam 16.00 WIB saya telepon suaminya, karena kan posisi di bandara mau menjemput anak dan istri. Tapi suaminya menerima telepon sambil menangis, saya tanya ada apa, dan dijawab pesawatnya hilang kontak," kata Nanik.
Setelah itu, Nanik langsung memantau siaran televisi. Saat Maghrib, Nanik menyaksikan siaran berita yang mengabarkan SJ182 hilang kontak sembari berdoa dan menunggu perkembangan kabar.
Sumber: Liputan6.com.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya