Indahnya Serba-serbi Ibadah Tarawih di Mesir

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 14 Mei 2019 20:02
Indahnya Serba-serbi Ibadah Tarawih di Mesir
Ada beragam cara umat Islam menjalankan sholat Tarawih.

Dream - Meramaikan malam-malam di Bulan Suci Ramadan dengan sholat Tarawih adalah kebiasaan umat Islam. Tidak hanya di Indonesia namun di seluruh dunia.

Demikian pula dengan umat Islam di Mesir. Mereka mengisi malam-malam Ramadan dengan sholat Tarawih, yang di sana dikenal dengan nama sholat Qiyamul Lail. Secara umum, pelaksanaan sholat sunah malam Ramadan di Mesir tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Tetapi, ada hal yang membedakan antara kebiasaan Tarawih Muslim di Mesir dengan Muslim di Indonesia. Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Muhammad Nur Hayid berkenan membagi pengalamannya kepada Dream.

Saat ini, ulama muda yang akrab disapa Gus Hayid ini tengah memimpin tim dai dan imam LD PBNU untuk menjalani daurah di Universitas Al Azhar Kairo. Selama Ramadan, Gus Hayid menimba ilmu di Negeri Qinanah ini. Berikut penuturan Gus Hayid: 

***

Sholat Tarawih merupakan kegiatan rutin setiap malam di Bulan Suci Ramadan. Sholat ini dilakukan karena merupakan sunah dari Rasulullah SAW dengan harapan agar malam-malam yang diturunkan oleh Allah di malam Bulan Suci Ramadan diisi dengan zikir, ibadah, serta sholat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, bisa jadi dari malam-malam yang kita jalani, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yang sering dikenal dengan malam Lailatul Qadr.

Dengan sholat Tarawih ini diharapkan semoga orang-orang yang beriman yang siang harinya berpuasa, malam harinya qiyamul lail, bisa mendapat kemuliaan Lailatul Qadar karena sudah menyiapkan diri dengan antisipasi sholat setiap malam melalui sholat Tarawih.

Di Mesir, tidak dikenal dengan nama sholat Tarawih tapi Qiyamul Lail. Maka dari awal sang Bilal atau bahkan imam langsung sebelum memulai sholat Tarawih, yang sering kita lakukan di Indonesia, sudah biasa mengumumkan persiapan untuk sholat Qiyamul Lail atau sholat untuk mengisi malam-malam di Bulan Ramadan.

Secara umum tidak berbeda dengan Tarawih di Indonesia yang diawali dengan bilalan, diinformasikan kepada para jemaah untuk mempersiapkan diri dengan sholat Qiyamul Lail. Kalau di Indonesia lebih tegas, shollu sholatat tarawih rokataini asabakumullah. Tapi kalau di Mesir cukup dengan shollu qiyamil lail. Orang-orang Mesir cukup paham dengan sholat Qiyamul Lail di Bulan Suci Ramadan itu maknanya adalah seperti sholat Tarawih di Indonesia.

 

1 dari 3 halaman

Ragam Pilihan Sholat Qiyamul Lail

Mengenai rakaatnya, orang-orang Mesir dalam menjalankan Qiyamul Lail atau sholat Tarawih di Indonesia beragam memilih sholat Tarawih. Tetapi mereka tidak berantem, tidak bertengkar apalagi saling mengusir hanya karena merasa bilangan Tarawihnya lebih baik dan lebih benar menurut pandangannya.

Masjid Al Azhar yang sudah berumur 1.079 tahun misalnya memilih sholat Tarawih dengan 20 rakaat plus tiga witir, dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat salam. Sebagaimana di Indonesia dan umumnya dilakukan oleh warga Nahdlatul Ulama.

Masjid Sayyidina Husain menggunakan pilihan sholat 8 rakaat dengan empat kali salam alias dua rakaat dua rakaat plus satu rakaat witir terakhir sebelum dua rakaat sholat witir. Tidak digabung langsung dengan tiga witir. Dan kesemuanya itu rata-rata dengan menghatamkan satu juz setiap malam.

Di Masjid Zayyidah Zaenab juga di masjid yang lain memilih dengan sholat 23 rakaat, yaitu 20 rakaat sholat Tarawih atau Qiyamul Lail dan 3 rakaat sholat witir. Demikian halnya dengan masjid-masjid yang lain yang ada di Kota Kairo, Alexandria dan beberapa kota lainnya.

Yang 8 rakaat juga demikian. Tidak ada yang 4 rakaat sekali salam seperti di Indonesia tetapi 2 rakaat 2 rakaat. Semua berjalan normal, damai dan tidak ada pertentangan sedikitpun. Karena mereka memahami bahwa perbedaan bilangan itu adalah kesadaran untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.

Yang ingin lebih memaksimalkan ibadah di malam Bulan Suci Ramadan, mereka memilih untuk sholat sebanyak 20 rakaat plus tiga rakaat sholat Witir. Tapi yang merasa cukup dengan 8 rakaat karena bacaannya panjang-panjang, karena sama-sama menghatamkan satu juz dalam setiap putaran sholat Tarawih atau Qiyamul Lailnya, mereka memilih 8 rakaat. Semua berjalan damai, tenteram, tidak ada yang saling menyalahkan. Apalagi saling mengusir seperti yang terjadi di Pasuruan.

Inilah serba-serbi indahnya ibadah di Mesir di malam-malam Bulan Suci Ramadan. Belum lagi, di beberapa zawiyah atau pesantren kalau di Indonesia, menerapkan sholat Tarawih setiap malam lebih dari 23 rakaat dengan 20 sholat Tarawih dan 3 rakaat sholat Witir. Dan bacaan yang dibaca pun lebih dari 1 juz.

Syeikh Yusri misalnya, tiap malam menjaga malam-malam Bulan Suci Ramadan dengan Qiyamul Lail sampai Subuh. Diselingi dengan taklim. Dan beliau bersama murid-muridnya minimal menghatamkan tiga juz. Untuk beliau sendiri bisa lebih dari itu.

 

2 dari 3 halaman

Semua Berjalan Normal dan Damai

Ini adalah amalan-amalan di malam Bulan Suci Ramadan di negeri Mesir, bumi Qinanah. Semua berjalan normal meskipun di tempat ini ada empat mazhab yang berlaku. Mayoritas mazhabnya Imam Malik, diikuti mazhabnya Imam Syafi'i dan mazhabnya Imam Abu Hanifah.

Terakhir mazhabnya Imam Ahmad Ibnu Hanbal. Tetapi tidak ada yang pernah menyalahkan. Bahkan model sholat pun di dalam masjid beragam. Ada yang saat tahiyatnya tidak dalam bentuk duduk istiraz atau duduk tahiyat terakhir, tetapi seperti orang yang jongkok di lututnya dan berdiri begitu saja. Pun tidak ada yang menyalahkan.

Bahkan saat orang Tarawih, ada orang yang tidur di depan orang yang sholat, di depan, bagian shaf pertama, pun tidak ditegur. Tidak diusir. Padahal bershaf-shaf di belakangnya sedang sholat khusyuk menjalani Qiyamul Lail.

Ada yang sholatnya hanya memakai celana pendek persis di bawah lutut, yang kalau untuk ukuran orang Indonesia sangat tidak sopan. Karena menghadap presiden, menghadap gubernur, menghadap bupati saja harus rapi, bagaimana dengan menghadap Allah SWT.

Selain tentu ada dalil dari Alquran maupun sunahnya Rasulullah SAW agar kita menghias diri. Memperbaiki diri saat memasuki masjid. Khudzu ziinatakum inda kulli masjidin. Demikian bunyi ayat Alqurannya. Tetapi, orang Mesir yang ngerti Bahasa Arab, ngerti Alquran, ngerti hadis, tidak menyalahkan.

Karena memang dalam mazhabnya Imam Abu Hanifah, auratnya laki-laki itu bukan baina surrah wa rubbah (dari pusar hingga lutut) tetapi yang penting tertutup. Sehingga untuk kategori aurat mungkin tidak masuk tetapi untuk kategori kepantasan tentu sangat tidak pantas.

Namun aghlabiyah-nya, secara umum, orang-orang Mesir, kaum muslimin di Mesir betul-betul ketika sholat mereka menjaga diri dengan baik. Mereka menggunakan jubah kalau dalam bahasa kita, dan bercelana, meskipun masih ada yang berkaos dan dengan model celana sedikit di bawah lutut. Mungkin kalau bahasa orang Indonesia, ada orang awam yang ikut sholat, yang baru belajar agama. Dan itupun tidak menjadi persoalan dan perdebatan di Mesir.

 

3 dari 3 halaman

Toleransi yang Tinggi

Inilah suasana Ramadan Karim yang ada di Mesir, di Kota Kairo dan kota-kota lainnya di Bumi Qinanah ini. Sungguh semakin orang mengerti agama maka akan semakin toleran. Sebaliknya, semakin orang tidak mengerti agama, hanya sedikit yang dia ketahui, dia akan semakin radikal dan mudah menyalahkan orang lain. Demikian nasihat dari Imam Ghazali dan Imam Syafi'i. Semoga kita terjaga dari sifat-sifat sombong dan angkuh dalam beribadah kepada Allah SWT hanya karena kebodohan kita.

Ibnu Athaillah Al Sakandari dalam kitabnya Al Hikam memberikan wasiat dan nasihat kepada kita, al ibadatu au rosad izzan waz tikbara itu tidak lebih baik daripada al ma'siyyatu au rosad dzullan wal kisara. Atau kalau dibalik, al ma'siyyatu au rosad dzullan wal kisara khoirun minal ibadati au rosad izzan waz tikbara. Kemaksiatan yang melahirkan perasaan rendah, perasaan hina dan perasaan penyesalan dalam diri kita jauh lebih baik daripada ibadah yang melahirkan perasaan sombong, perasaan tinggi hati dan paling hebat serta paling benar.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan pertolongan kepada kita semua. Ya Rabb, jadikanlah Ramadan-Ramadan yang kami jalani Ramadan-Ramadan yang penuh berkah yang kami isi dengan taat dan ibadah dan Engkau terima semua itu di sisi-Mu dan menjadi bekal di kehidupan akhirat kelak. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Sumber: Tausiyah KH Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid)

Beri Komentar
Tips Jitu Menyeimbangkan Karier dan Pendidikan Ala Tiffani Afifa