6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Sejumlah Jimat Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi Yang Disita MUI (Dream.co.id/Maulana Kautsar)
Dream – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mendapat sejumlah jimat dari para pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Para pengikut Taat Pribadi harus menebus jimat-jimat itu sebagai syarat agar uang mereka bisa digandakan.
Ada Kotak ATM Dapur. Untuk mendapat jimat ini, para pengikut Taat Pribadi harus menyetir duit. Bukan membeli, mereka menggunakan istilah “ mahar” untuk menebus jimat ini.
Di dalam ATM Dapur ini terdapat kertas dengan rajah huruf Arab. Tak diketahui apa isi atau bacaan rajah tersebut. Selain itu, di dalam kantong plastik dalam kotak itu juga terdapat minyak wangi.
“ Di dalam kotak itu nanti ada maharnya sebesar Rp500.000. Setiap hari, katanya bisa mengeluarkan Rp5 juta,” kata Sekretaris Majelis Ulama (MUI) Kabupaten Probolinggo, Yasin, kepada Dream, di Jakarta, Selasa 4 Oktober 2016.
© Dream
Ada juga jimat lain, seperti kartu karomah, batu pancaroba, minyak kantong hijau, minyak pengisian, jimat gelang, dan kertas deklarasi.
Yasin mencoba menjelaskan kegunaan masing-masing jimat itu. Kartu karomah, misalnya, berfungsi sebagai jimat keselamatan.
Di kartu itu ada foto wajah Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang dikelilingi wajah para Wali Songo. " Nggak tahu maksudnya apa," kata Yasin.
Sementara, jimat berupa gelang yang terbuat dari tali berwarna putih berbahan menyerupai wol. Gelang yang kemungkinan besar dipakai seluruh angota padepokan itu juga untuk jimat keselamatan.
© Dream
Selain jimat keselamatan, Taat Pribadi mewajibkan setiap anggota punya Kartu Pencairan. Kartu itu berfungsi untuk 'mencairkan' dana yang digandakan.
" Kalau nggak punya ini nggak bisa. Tapi, nyatanya kan nggak cair-cair," kata dia.
Tetapi, Taat Pribadi tak melulu 'mengobral' jimat. Ada pula pin anggota padepokan sebagai penanda. Pin tersebut ada dua jenis. Pin bertuliskan 'santri' dan 'tim kabupaten'.
" Untuk itu Pak Kiai (Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Abdusshomad Buchori) meminta para anggota Dimas Kanjeng jangan disebut sebagai santri," ujar dia.
© Dream
Yang cukup unik, berbagai jimat dan aksesoris Padepokan Dimas Kanjeng itu memiliki mahar. Untuk pin misalnya, dihargai Rp310.000, jimat Rp250.000, sabuk berwarna merah Rp500.000, kantong hijau (pengganda uang) Rp1 juta, Kartu Karomah Rp1 juta, jimat gelang Rp250.000, Kartu Manfaat Rp1,5 juta, dan lembar deklarasi Rp250.000.
" Masing-masing barang itu bersifat pribadi dan setiap anggota harus punya. Tinggal dikalikan saja dengan jumlah anggotanya," ucap Yasin.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
