Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Siti Rahmani Rauf, Pencipta Alat Peraga 'Ini Budi' (masshar2000.com)
Dream - Pencipta alat peraga 'Ini Budi' pada pelajaran Bahasa Indonesia dasar, Siti Rahmani binti Abdurahman tutup usia sekitar pukul 21.20 WIB, Selasa, 10 Mei 2016. Perempuan yang akrab disapa Nenek Rauf ini meninggal di usia 97 tahun setelah berjuang melawan penyakit komplikasi.
" Sudah sakit tua sejak 2009. Ginjal beliau juga sudah tidak berfungsi," kata putri keempat Siti, Kamerni Rauf, di rumah duka Jalan Jati Petamburan I Nomor 8, RT/RW 002/01 Jakarta Pusat, Rabu, 11 Mei 2016.
Nenek Rauf dikenal sebagai pencipta alat peraga untuk pelajaran mengeja bahasa Indonesia tingkat Sekolah Dasar pada 1984. Menurut penuturan Kamerni, alat peraga itu berupa papan karton dengan karakter Budi dan lima anggota keluarganya dengan nama yang tertera pada kartu.
" Dengan alat peraga itu, siswa dan guru diajak sama-sama aktif dalam belajar huruf dan kalimat. Ini disebut metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)," ucap dia kepada Dream.
Alat peraga itu kemudian diringkas di dalam koper berukuran 60 x 60 centimeter dengan tebal 15 centimeter. Alat peraga itu dilirik oleh PT Yudi Kiki Kencana, kemudian diproduksi secara massal.
Meski begitu, perempuan kelahiran Padang, 5 Juni 1919 itu tidak mau alat peraganya itu ditukar dengan uang atau royalti. Dia hanya meminta syarat sederhana kepada produsen alat peraga.
" Mami hanya minta diberangkatkan haji. Alhamdulillah, itu terlaksana pada 1986," ucap sang putri.
Alat peraga itu sempat menyebar Jawa dan Sumatera. Tetapi, penggunaan alat peraga itu tak bertahan lama dan berganti dengan yang baru.
Menurut Karmeni, sejak tahun 1992 alat peraga itu tak lagi digunakan. Karmeni sempat menemukan sisa-sisa alat peraga itu pada 1994 di beberapa Sekolah Dasar di Jakarta.
Kini, penggunaan alat peraga belajar mengeja bahasa Indonesia itu sudah menghilang. Sebab, pergantian kurikulum dan metode belajar telah menghilangkan penggunaan alat peraga.
Karmeni mengaku cukup sedih dengan kondisi tersebut. Ini karena alat peraga itu sejatinya menjadi alat bantu mengajar yang menyenangkan.
" Meski guru capek, namun anak-anak dapat lebih 'hidup'," kata dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang