Jawaban Mengejutkan dari Nomor Telepon di Buku Harian Kalijodo

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 25 Februari 2016 07:01
Jawaban Mengejutkan dari Nomor Telepon di Buku Harian Kalijodo
"Ini. Yang dulu dari Kalijodo. Masa lupa sih?," wanita itu dipancing. "Maaf siapa ya? Ini nomor suami saya," jawab perempuan itu.

Dream – Sejumlah pekerja seks komersial di Kalijodo menuliskan kisah hidupnya pada buku harian. Suka dan duka, ratapan dan harapan, tergores di dalam catatan harian itu.

Buku-buku itu bisa ditemukan di kafe-kafe di Kalijodo yang sudah kosong. Catatan itu tercecer bersama barang-barang lain, yang tak sempat dibawa oleh para penulisnya.

Salah satu catatan harian itu berisi angka-angka. Mulai jumlah lelaki hidung belang yang mereka layani, jadwal suntik kontrasepsi, hingga penghasilan mereka.

Selain itu, ada pula catatan nomor telepon. Sama dengan rekap rupiah-rupiah itu, nomor-nomor kontak itu juga tersusun rapi. Jumlahnya banyak.

Sejumlah wartawan yang ingin mewawancara tentang penggusuran Kalijodo menghubungi nomor-nomor telepon itu. Dengan harapan itu adalah nomor salah satu mantan wanita penghibur di Kalijodo.

Nomor dipilih secara acak dari daftar itu. Pilihan pertama, gagal. Nomor tak aktif. Begitu pula pilihan kedua dan ketiga. Baru pada pilihan keempat nomor itu aktif saat dihubungi.

“ Halo,” sapa seseorang di ujung telepon. Sepertinya suara perempuan. “ Halo,” jawab sang wartawan.

“ Ini siapanya?” tanya perempuan itu.

“ Ini. Yang dulu dari Kalijodo. Masa lupa sih,” pancing wartawan itu untuk mendekatkan diri melalui obrolan itu.

“ Maaf siapa ya? Ini nomor suami saya,” jawab perempuan di ujung telepon itu.

Wanita itu menutup telepon. Pembicaraan pun usai.

1 dari 4 halaman

Jerit PSK Kalijodo di Buku Harian yang Tertinggal

Dream - Hingar bingar lokalisasi prostitusi di Kalijodo, ternyata menyimpan curahatan hati para Pekerja Seks Komersial (PSK) di sana yang sangat memilukan.

Berawal dari sebuah bilik kamar berukuran 1 x 2 meter yang berlokasi di Kafe Mega Mas, tertinggal sebuah buku catatan yang diyakini milik seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang tertinggal.

Buku bersampul kotak-kotak merah dengan garis kuning di halaman depan ini tertulis sebuah nama; ‘Dewi.Me:Mas’.

Dalam lembaran pertama buku itu, hanya ada beberapa hitungan, dan setelah dibuka ke halaman berikutnya, si empunya buku ini ternyata menyelipkan sebuah catatan hidupnya yang berisikan bahwa ia sudah tak kuat lagi dengan profesinya saat ini.

" Aa. Allah aku udah gak betah hidup yang ku jalani. Ya Allah bimbinglah aku ke jalan yang benar. Ya Allah... Aku ingin jadi orang yang baik di mata semua orang terutama-Mu. Ya Allah... Kapan semua nich berakihir ya Aallah aku udah cape dengan semua nich," tulis pemilik buku diary.

Tak hanya buku ini, ternyata di kamar lain masih dalam lokasi yang sama yaitu Kafe Mega Mas juga ditemukan buku diary. Kali ini, buku tersebut tanpa sampul dan terlihat usang. Tak ada nama yang menunjukkan siapa pemilik buku ini.

Di dalam buku yang kertasnya sudah mulai terkoyak itu tertulis curahan hati PSK Kalijodo lainnya tentang kisah percintaan yang ia alami.

" Hidup ini begitu indah dan hidup ini pun begitu adil semenjak kenal dirimu walau pun kita hanya sebatas teman tapi suatu saat nanti aku."

" Andai kamu tau betapa ku merindukanmu. Andai saja kamu tau betapa hidup ini indah di saat bersama mu. Walu pun hanya dalam mimpi indahku saja, tapi suatu saat nanti aku percaya mimpi itu menjadi kenyataan untuk bisa hidup bersama mu my love."

Namun, di dalam lembaran buku tersebut tertulis sebuah nama 'Via'. Ia menulis bahwa ia terjerumus ke dunia gelap karena salah pergaulan. Kisah selengkapnya klik di sini.

 

2 dari 4 halaman

'Lorong Neraka' Kalijodo

Dream - Hingar bingar lokalisasi prostitusi di Kalijodo, ternyata menyimpan curahatan hati para Pekerja Seks Komersial (PSK) di sana yang sangat memilukan.

Berawal dari sebuah bilik kamar berukuran 1 x 2 meter yang berlokasi di Kafe Mega Mas, tertinggal sebuah buku catatan yang diyakini milik seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang tertinggal.

Buku bersampul kotak-kotak merah dengan garis kuning di halaman depan ini tertulis sebuah nama; 'Dewi.Me:Mas'.

Dalam lembaran pertama buku itu, hanya ada beberapa hitungan, dan setelah dibuka ke halaman berikutnya, si empunya buku ini ternyata menyelipkan sebuah catatan hidupnya yang berisikan bahwa ia sudah tak kuat lagi dengan profesinya saat ini.

" Aa. Allah aku udah gak betah hidup yang ku jalani. Ya Allah bimbinglah aku ke jalan yang benar. Ya Allah... Aku ingin jadi orang yang baik di mata semua orang terutama-Mu. Ya Allah... Kapan semua nich berakihir ya Aallah aku udah cape dengan semua nich," tulis pemilik buku diary.

Tak hanya buku ini, ternyata di kamar lain masih dalam lokasi yang sama yaitu Kafe Mega Mas juga ditemukan buku diary. Kali ini, buku tersebut tanpa sampul dan terlihat usang. Tak ada nama yang menunjukkan siapa pemilik buku ini.

Di dalam buku yang kertasnya sudah mulai terkoyak itu tertulis curahan hati PSK Kalijodo lainnya tentang kisah percintaan yang ia alami.

" Hidup ini begitu indah dan hidup ini pun begitu adil semenjak kenal dirimu walau pun kita hanya sebatas teman tapi suatu saat nanti aku."

" Andai kamu tau betapa ku merindukanmu. Andai saja kamu tau betapa hidup ini indah di saat bersama mu. Walupun hanya dalam mimpi indahku saja, tapi suatu saat nanti aku percaya mimpi itu menjadi kenyataan untuk bisa hidup bersama mu my love."

Namun, di dalam lembaran buku tersebut tertulis sebuah nama 'Via'. Ia menulis bahwa ia terjerumus ke dunia gelap karena salah pergaulan. 

" Via anak malam. Via gadis lugu yang salah pergaulan. Via anak yang baik tapi salah pergaulan."

" Loh tuh lugu, tapi loh sayang. Lugu loh cuma dimanfaatin orang. Loh tuh sebenarnya anak baik tapi loh salah pergaulan."

Sempit, pengap dan kumuh. Itu tiga kata untuk menggambarkan kamar-kamar para wanita penghibur di Kalijodo.

Untuk mencapai kamar-kamar itu, para pengunjung harus melewati lorong-lorong sempit yang hanya cukup dilalui satu orang. Tak berlebihan jika Kombes Krishna Murti pernah menyebutnya sebagai 'lorong neraka'.

 

3 dari 4 halaman

Jawaban Tukang Bakso di Kalijodo Bikin 'Gubrak!'

Dream - Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti, punya pengalaman menarik saat melakukan pengamanan di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara.

Dalam akun Facebook miliknya, Krisha menceritakan obrolannya dengan tukang bakso yang bikin dia 'gubrak'.

Saat pengamanan di Kalijodo, belum lama ini, Krishna yang kelaparan membeli bakso. Ia iseng-iseng bertanya ke tukang bakso.

" Udah berapa tahun jualan bakso Mas..?" tanya Krishna.

Si tukang bakso jawab; kira-kira 5 tahun lebih.

" Gerobak sama dagangannya udah milik sendiri apa punya orang lain mas..?" tanya mantan Kapolsek Penjaringan itu penasaran.

" Punya majikan saya. Saya tiap hari setoran," jawab si tukang bakso sekenanya.

" Jualan lebih dari 5 tahun harusnya mas udah punya gerobak dan modal sendiri mas (maklum mau ajak dia pindah jualan keluar Kalijodo)," balas Krishna berharap obrolan berlanjut.

Tapi rupanya, si tukang bakso agak jengel digurui Krishna. " Yah beginilah namanya orang kecil... Trus bapak sendiri bekerja jadi polisi ini sudah berapa tahun..?" kata si tukang balik bertanya.

" Udah 25 tahun. Memangnya kenapa..?" jawab Krishna bangga.

" Bapak sudah 25 tahun kerja jadi polisi, harusnya Bapak sudah punya Polsek sendiri..!!!," kata si tukang bakso enteng sambil menuangin kuah ke mangkok. Gubrakkkkkk!

4 dari 4 halaman

MUI: Jangan Kalijodo Saja, Semuanya Juga Dong

Dream - Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menertiban kawasan lokalisasi Kalijodo terus mendapat dukungan. Baru-baru ini dukungan langsung diberikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Ma'ruf Amin.

Kiai Ma'ruf mengatakan tempat-tempat prostitusi semacam Kalijodo harus segera dditertibkan. Sebab, lokaliasasi semacam itu menjadi biang dari kemaksiatan.

" Ya seharusnya dibersihkan karena itu (Kalijodo - red) merusak," kata Kiai Ma'ruf, di Gedung MUI Pusat, Jakarta, kemarin. 

Meski begitu, Kiai Ma'ruf meminta Pemprov DKI Jakarta tak hanya menertibkan kawasan Kalijodo saja. Dia meminta kawasan prostitusi semisal Mangga Besar juga ditertibkan.

" Jangan Kalijodo saja. Semuanya. Kalau hanya Kalijodo tidak adil. Ini soal moralitas bangsa," ucap dia mendesak.

Mengenai pola penertiban yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, Kyai Ma'ruf melemparkan kritik. Menurut Rais A'am Pengurus Besar Nahdatul Utama (PB NU), sikap Pemprov DKI Jakarta dalam menertibkan kawasan lokalisasi seringkali bersifat hanya untuk sementara saja.

" Jadi sifatnya jangan karena ada event baru dibersihkan. Kalau begitukan sifatnya temporary. Kalau ada kepentingan baru dibersihkan," kata dia.

Untuk menghindari merebaknya praktek prostutitusi di Ibukota, MUI telah mempersiapkan beberapa langkah. Salah satunya melalui dakwah. Adapun persoalan ekonomi yang kerap menjadi alasan seseorang melacur, Kyai Ma'ruf menyerahkan persoalan ini kepada pemerintah.

" Kalau urusan ekonomi, itu urusan pemerintah. Supaya ekonominya juga diperbaiki. Tapi itu bukan ranah MUI. Sebab, banyak orang melacur karena alasan ekonomi," ujar dia.

Rencana penggusuran kawasan hiburan Kalijodo sebenarnya dilakukan Pemprov DKI karena warga bermukim di atas tanah negara. (Ism) 

Beri Komentar