Jerit Pilu Sang Fotografer, Pilih Kemanusiaan Ketimbang Karya

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 20 April 2017 14:35
Jerit Pilu Sang Fotografer, Pilih Kemanusiaan Ketimbang Karya
Serangan di Aleppo, Suriah sangat mengerikan, terutama saat melihat anak-anak mengerang dan sekarat di depan mata.

Dream - Abdulkader Habak sibuk melakukan pekerjaannya sebagai fotografer saat sebuah bom dijatuhkan di Aleppo.

Pria yang juga seorang aktivis oposisi Suriah ini bahkan sempat terlempar oleh ledakan tersebut.

Namun, dia dengan cepat bangkit kembali dan melihat pembantaian di sekitarnya.

Alih-alih mengabadikan pemandangan mengerikan di sekitarnya, Habak memutuskan untuk meletakkan kameranya dan membantu para korban sipil yang terluka.

Korban pertama yang dilihatnya adalah dua anak kecil yang terbaring di tanah penuh luka. Anak pertama ternyata sudah meninggal dunia. Sementara yang kedua masih hidup tapi sekarat.

Habak segera mengangkat anak tersebut dan mulai berlari menuju tempat yang aman

Foto Habak yang sedang menggendong anak laki-laki itu, yang berusia sekitar tujuh tahun, menjadi viral di media sosial.

Foto tersebut dibagikan puluhan ribu kali sejak diunggah pada Sabtu kemarin ketika serangan maut itu terjadi.

1 dari 2 halaman

"Memegang Tangan Saya dengan Kuat"

" Anak itu memegang tangan saya dengan kuat dan menatap saya," ujar Habak, 24 tahun, kepada CNN.

Kata Habak, serangan tersebut sangat mengerikan - terutama saat melihat anak-anak mengerang dan sekarat di depan mata.

" Jadi saya bersama rekan-rekan memutuskan untuk meletakkan kamera kami dan mulai menyelamatkan korban yang terluka," tambahnya.

Serangan tersebut menghantam rombongan warga sipil yang beberapa jam sebelumnya dievakuasi dari kota lain di Suriah yang juga dibombardir rezim pemerintah Bashar al-Assad.

Seorang saksi mengatakan seorang pria mengundang anak-anak datang ke mobilnya untuk membagikan makanan ringan.

Karena sudah dua tahun lebih hidup di bawah tekanan, anak-anak itu sangat senang dan antusia menerima bungkusan berisi aneka makanan ringan.

Namun, setelah banyak yang berkumpul di sekitar mobil tersebut, sebuah ledakan besar menghancurkan mobil itu dan anak-anak malang tersebut.

(Sumber: The Telegraph.co.uk)

2 dari 2 halaman

Air Mata Bocah Ini Mengundang Haru Dunia

Dream - Mata bocah dalam foto itu merona merah. Air matanya tumpah. Menghiasi tatapan yang hampa. Sementara, tangan bocah itu tengah memainkan biola yang pangkalnya dia jepit di dagu.

Bocah itu adalah Diego Frazao Torquato. Pemain biola asal Brasil yang tengah berduka saat prosesi pemakaman sang guru, John Evandro da Silva, yang tewas akibat kekerasan gengster. Melalui tangis dan nada-nada pilu biola itulah doa-doa untuk sang guru dipanjatkan.

Foto itu telah mengundang simpati publik. Tak hanya di Negeri Samba, tapi juga di berbagai belahan dunia. Banyak orang yang memandang foto itu, larut dalam sebuah keharuan. Bahkan tak jarang orang yang menemukan foto itu di dunia maya mencari kisah yang menjadi latarnya.

Wajar saja Diego menangis dalam prosesi pemakaman Oktober 2009 itu. Sebab, ada ikatan batin yang begitu erat di antara keduanya. Bagi bocah kelahiran 1997 ini, Evandro tak hanya sekadar guru, melainkan juga penyelamat hidup.

Masa kecil Diego memang cukup pahit. Dia tinggal di lingkungan yang keras. Kehidupannya sungguh lekat dengan penyakit, termasuk meningitis dan leukemia. Belum lagi kelaparan. Dan Evandro lah orang yang mengentaskan dia dari belitan hidup yang mendera.

Di tangan Evandro, Diego tumbuh menjadi pemain biola jempolan. Dia kemudian tergabung dalam orkestra Afroreggae binaan Evandro. Meski berbalut penyakit ganas, semangatnya berlatih biola tak pernah pudar.

Melalui orkestra itu pula Diego kerap bermain dalam pertunjukan amal untuk memerangi perdagangan anak-anak. Dia berpartisipasi dan menjadi bintang dalam berbagai konser amal, salah satunya pada Parade de Lucas. Pada Desember 2009, dia juga berpartisipasi dalam konser Rede Globo untuk kampanye yang sama.

Karena kisah hidup yang inspiratif dan aktivitas sosial itulah, Diego menerima penghargaan " Make a Difference Award"  dari O Globo pada 2010. Bagi masyarakat Brasil, Diego merupakan " simbol harapan" . Harapan untuk memerangi leukemia. Harapan untuk memerangi kekerasan, seperti yang menimpa guru Evandro da Silva.

Namun pada 2010, kesehatannya menurun. Dia mengalami infeksi setelah menjalani operasi usus buntu. Penyakit yang dia derita semenjak kecil pun semakin mengganas. Yang menyedihkan, dia tak mampu melakukan kemoterapi.

Dalam kondisi parah itu, dia masih memelihara asa. Diego tetap ingin mewujudkan mimpi untuk berkeliling dunia dengan biolanya. Namun sayang, tak lama setelah foto legendaris itu diambil, maut terlebih dulu menjemputnya. Angan itu dia bawa hingga ke liang kubur. (Ism, Dari Berbagai sumber)

Beri Komentar
Reaksi Mainaka yang Bikin Nia Ramadhani Menangis