Inspiratif (1): Jessica Cox, Wanita Baja dari Arizona

Reporter : Syahid Latif
Senin, 13 Oktober 2014 18:24
Inspiratif (1): Jessica Cox, Wanita Baja dari Arizona
Lahir tanpa tangan. Dikagumi dunia. Keajaiban itu datang dari kakinya.

Dream - Inez Macabare terkulai di atas kasur. Lemas. Wanita yang berprofesi sebagai perawat itu, baru saja melewati garis antara mati dan hidup. Susah payah dia melahirkan seorang bayi perempuan. Hari itu 1 Februari 1983.

Namun, tidak seperti ibu-ibu lain di muka bumi ini, tak ada rona bahagia yang berpendar dari raut ibu muda ini. Dia justru dikurung gundah gulana. Pada kamar Rumah Sakit di kota Sierra Viena, Arizona, Amerika Serikat itu, penantian panjang penuh bahagia itu, menjelma menjadi kenestapaan.   

Inez tak sanggup membuka tirai kamar. Apalagi mengajak handai taulan membezuk.  Himpunan rasa bersalah dan takut berlapis membendung. Dan itu karena buah cintanya dengan seorang guru ini jauh dari bayangan. Bayi itu tanpa tangan. Mimpi buruk bagi orang tua manapun di muka bumi ini.

Mimpi buruk itu tidak saja membangkitkan rasa malu, tapi juga menguncang jiwa. “ Saya sangat depresi. Saya tak mau seorang pun tamu mendekati tirai itu. Biarkan saya sendiri dan memikirkan apa kesalahan yang telah saya lakukan,” kisah Inez mengenang momen memilukan itu, dalam wawancara dengan kantor berita Inggris, BBC.

Batin ibu muda ini terus berkecamuk. Bertanya dan mencari apa yang salah. Dan bayi mungil ini jelas tak bersalah. Yang terjadi adalah salah bunda mengandung. Padahal, sembilan purnama dalam kandungan,  rasanya bayi itu tumbuh sehat. Tak ada keluhan.

Sonogram dan alat tes lain tak pernah menemukan gangguan apapun, apalagi keganjilan. Bukan cuma Inez, para dokter di rumah sakit itu juga dirasuk kebingungan. Hampir tak ada nalar yang sanggup menjelaskan kenyataan ini.

Meski terus dirubung linglung, Inez sudah bersumpah. Pada dirinya sendiri. Membesarkan sang buah hati, meski harus seorang diri. Bayi “ ganjil” itu kemudian diberi nama yang manis: Jessica. Nama itu bisa berarti seseorang yang mampu membaca masa depan. Bisa pula berarti kekayaan. Dibubuhi nama keluarga menjadi Jessica Cox.

Belasan Tahun Kemudian  

Pada sebuah seminar internasional di keramaian Manila. Ribuan mil jauhnya dari Arizon, ribuan anak muda berjubel. Mematut mata pada gadis remaja ini. Meresapi setiap semangat yang mengalir dari kata-katanya.

Dan gadis yang didengar penuh kagum itu adalah Jessica. Terbang jauh dari Arizona menjadi pembicara pada seminar ini.  “ Orang tuaku tidak pernah memberlakukan saya sebagai korban. Mereka tidak pernah melihat saya sebagai orang cacat,” kenang Jessica ketika berbicara di hadapan pelajar SM Nort Edsa, Skydome, di ibu negeri Filipina itu

Ya, Jessica yang lahir tanpa tangan itu, tumbuh menjadi pesohor berkelas internasional. Di hadapan ribuan anak-anak muda di kota Manila itu, dia berbicara soal motivasi. Memberi kiat. Mengubah kekurangan menjadi kekuatan. Dan dia sendiri lebih dari sekedar contoh.

Meski itu tentu saja tidak mudah. Tidak segampang berbicara soal motivasi. Sebagai wanita tanpa tangan, Jessica harus bermental baja. Tidak rontok karena dihina. Juga tidak mengumbar murka. Dihina teman seusia di sekolah.

Meski wajahnya manis, sejumlah teman di sekolah menggelarinya sebagai Putri Bajak Laut. Bersekolah saban hari, Jessica memang harus mengenakan tangan buatan. Satu di antaranya berbentuk pengait, layaknya bajak laut.  Di tengah masyarakat yang menuntut kesempurnaan, “ Sangat sulit menjadi orang yang berbeda,” keluh Jessica.

Dan Jessica tak akan pernah lupa dengan kisah pahit ini. Suatu hari, guru di sekolahnya memaksa Jessica, bersama kawan-kawannya menari di atas panggung. Ditonton ratusan murid dan para orang tua. Jessica, yang saat itu berusia enam tahun, harus memakai jubah ajaib. “ Saya tak mau ikut ambil bagian,” begitu keberatan Jessica kepada gurunya.

Tapi sang guru tidak mengubris. Guru sudah memutuskan. Jessica harus naik panggung. Maka manggunglah dia. Mengenakan baju dansa. Kaki memakai sepatu taps. Matanya tak kuasa memandang ke depan. Hanya tunduk melihat sepatu sepanjang pertunjukan.

“ Kemudian ada momen di mana tepukan pertama membahana di ruangan itu,” kisah Jessica. Tepukan itu bak lentingan bel yang berbunyi nyaring di telinganya. Bel yang membangunkan tak hanya semangatnya, namun juga jiwanya yang hampir padam.

Semenjak tampil perdana di panggung itu, meski dengan perasaan was-was, Jessica beberapa kali tampil menari. Tapi dia selalu memilih posisi aman. Barisan paling belakang.

Sampai suatu hari pada 1995. Di tengah acara menari itu, sang guru naik ke panggung. Sang guru lalu memanggil Jessica yang berdiri paling belakang. Ada apa lagi? Batin gadis kecil ini ingin meronta. Panggilan itu seperti meledek.

“ Dia awalnya ingin menari di deretan belakang. Dia tak yakin apakah cukup bisa tampil optimal. Saat ini dia sudah siap untuk menari dan saya melihat besarnya perubahan pada dirinya,” kata kata sang guru.

Tahun-tahun sesudahnya, semangat Jessica semakin menyala. Keputusan besar diambilnya. Jessica tak lagi mau mengenakan tangan robot. Alat bantu yang sudah menemaninya selama 11 tahun dicopotnya dalam perjalanan ke sekolah. Murid tingkat VIII ini kembali jadi pusat perhatian.

“ Saya berjalan ke perbentian bus tanpa tangan buatan dan saya tahu orang-orang akan meledek, menertawakan, dan menanyakan kemana tangan buatan saya dan bagaimana akan melakukan segala hal,” katanya.

Sindiran dan tatapan aneh sepanjang perjalanan, tidak sedikit pun menyurutkan langkah. Semangatnya malah menyala-nyala. Dia sudah memutuskan: inilah waktu yang tepat untuk mengucapkan selama tinggal tangan palsu. “ Itu merupakan keputusan terbaik yang pernah saya buat,” katanya.

Lepas dari tangan palsu itu, kehidupan Jessica hanya ditopang dua kaki. Dan dua kaki itu harus berfungsi ganda. Jadi kaki dan menjadi tangan.

Siapa nyana. Tekad keras itu membuat Jessica bisa mengubah peran sepasang kaki. “ Syaraf-syarat otak saya seolah mengirim sinyal ke kaki,” ujar Jessica ketika menjadi tamu talkshow Ellen Degeneres.

Kekuatan, lebih tepatnya keajaiban,  dua kaki Jessica melampaui kaki manusia manapun di muka bumi ini.  Menyetir mobil. Memindahkan benda berat. Bermain piano. Dan serangkaian keajaiban yang membuat orang ramai berdecak kagum.

Bukan itu saja. Jessica juga mengantungi sertifikat menyelam. Sesuatu yang tidak mudah dikantungi manusia dengan tangan perkasa sekalipun. Di pinggangnya bahkan melilit sabuk hitam atlet Tae Kwon Do.

Sekolah juga sukses. Wanita yang baru saja menikah ini, berhasil menyelesaikan pendidikan psikologi di Universitas Arizona. Hampir semua aktivitas manusia normal bisa dijalani Jessica. Sebaliknya, kelenturan dan kekuatan kaki Jessica justru takkan bisa diimbangi manusia normal.

Namun semua ini belum membuat Jessica berhenti. Ada mimpi masa kecil yang belum direngkuh. Menjadi Superwomen yang bisa terbang di angkasa. “ Di taman bermain saya seringkali frustasi bahkan marah karena sedikit permainan yang bisa dinikmati. Namun ketika naik ayunan, saya selalu membayangkan menjadi superwomen dimana saya bisa terbang diatas taman bermain,” ujar Jessica.

Pilot Tanpa Tangan

Kesempatan itupun datang. Suatu hari seorang pilot pesawat, Robin Stoddard, menghampiri Jessica. Menawarinya terbang membawa sebuah pesawat. Tawaran itu agak di luar bayangan. Juga di luar nalar. Jessica jelas tak punya tangan.

Tapi sang pilot tidak sedang bergurau. Dan entah kenapa, ayah Jessica mantab merestui. Justru sang ayah yang menjawab sang pilot. “ Dia datang dan langsung mengatakan saya akan menyukainya,” kenang Jessica.
Jawaban sang ayah itu membuka babak baru kehidupan Jessica. Dia lalu berlatih menjadi seorang pilot. Pesawat ringan model Ercoupe tahun 1940-an jadi obyek latihan. Pesawat ini punya sistem terbang sederhana. Sanggup terbang hanya mengandalkan tangan, tanpa pedal. Cocok dengan kondisi Jessica.

Kaki-kaki Jessica lincah bermain dengan kemudi pesawat. Tiga tahun dihabiskannya untuk bisa mengantongi sertifikat pilot pesawat ringan itu. Memang lebih lama dari pilot normal yang cuma butuh waktu enam bulan, tapi Jessica jelas ajaib.

Kini dia sudah maju berlangkah-langkah. Sejak 10 Oktober 2008, Jessica mengantongi izin terbang pesawat sport dari US Federal Aviation Administration. Tak cukup jadi pilot, Jessica menaikkan kelasnya menjadi instruktur.

“ Ketika terbang, saya merasakan perasaan hebat soal kebebasan, kemerdekaan, dan kekuatan,” ujar Jessica yang mengendalikan kemudi dengan kaki kiri dan tuas dengan kaki kanan.

Kisah keajaiban Jessica menyebar ke seluruh dunia. Kelebihannya ditangkap organisasi pencatat rekor-rekor dunia, guinnes world records. Setelah menerbangkan pesawat buatan tahun 1940-an di ketinggian 10 ribu kaki, Jessica didaulat sebagai wanita pertama yang menerbangkan pesawat dengan kaki.

Catatan keajaiban itu sungguh mengagumkan. Bagi warga dunia.  Sindiran kawan-kawan dan ketakutan sang Ibu di kamar bersalin itu, kini menjelma menjadi kekaguman. Menyentuh hati jutaan manusia di muka bumi ini. Mahaguru bagi segenap kekurangan.

Beri Komentar
Ulama Ciamis Tolak Ajakan People Power