Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Joko Widodo (Foto: Liputan6.com)
Dream - Presiden Joko Widodo menyoroti pemberitaan media asing terkait penangan Covid-19 di Indonesia. Ia menginstruksikan para menterinya saling berkoordinasi terkait penanganan virus corona dan meminta informasi hanya berasal dari satu sumber.
" Dari yang saya baca dari para jurnalis, terutama asing, komunikasi kita yang tidak firm, tidak gamblang, tidak jelas, sehingga yang mereka tulis yang sering tidak baik," kata JokoWidodo, dikutip dari Liputan6.com, Senin 24 Agustus 2020.
Jokowi menilai penanganan Covid-19 di Indonesia sudah pada jalur yang benar. Hanya saja, berita yang tidak baik itu disebabkan para jajarannya tidak hati-hati dalam menyampaikan pernyataan kepada media.
Untuk itu, presiden yang karib disapa Jokowi tersebut meminta jajarannya berkoordinasi dengan Prof Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara Satgas Penangan Covid-19.
" Hati-hati, tolong satu itu saja. Prof Wiku diajak bicara, kalau memang mau bicara," sambung Jokowi.
Jokowi mengingatkan bahwa pemberitaan di media sangat berpengaruh, khususnya terhadap perekonomian di tanah air yang kini melesu akibat pandemi Covid-19.
Dia meyakini apabila penanganan Covid-19 diberitakan secara positif, maka juga akan berdampak positif terhadap perekonomian. Sehingga, dia meminta para menteri memperbaiki pola komunikasi ke media.
" Kita harapkan nanti dengan perbaikan komunikasi yang baik tadi, confident market, dan confident dunia usaha betul-betul bisa kita berikan," tutur Jokowi.
Dream - Presiden Joko Widodo menilai krisis yang tengah melanda dunia saat ini merupakan momentum untuk berbenah. Krisis ini membuahkan pelajaran berharga.
" Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis," ujar Jokowi dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR, Jumat 14 Agustus 2020.
Jokowi juga mengingatkan agar masyarakat tak lantas pesimis dan membiarkan krisis menyebabkan kemunduran.
" Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan," kata Jokowi.
Jokowi menyebut krisis di tengah pandemi memaksa semua orang mengubah cara kerja dari normal menjadi ekstra normal. Bahkan mengubah prosedur kerja dari berbelit menjadi smart short cut.
" Pola pikir dan etos kerja kita harus berubah. Fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan," ucap dia.
Efisiensi, kolaborasi, serta penggunaan teknologi harus menjadi prioritas dalam segala lini.
" Kedisiplinan nasional dan produktivitas nasional harus ditingkatkan," terang Jokowi.
Dream - Presiden Joko Widodo mengatakan dampak pandemi Covid-19 terutama di bidang ekonomi dirasakan oleh 215 negara dunia. Jokowi bahkan menyebut krisis ekonomi yang terjadi tergolong terparah sepanjang sejarah.
Demikian pula dengan Indonesia, yang mengalami pertumbuhan ekonomi di bawah target bahkan sampai minus.
" Di kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi negara kita masih plus 2,97 persen, tapi di kuartal kedua kita minus 5,32 persen," ujar Jokowi dalam Pidato Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Jumat 14 Agustus 2020.
Ekonomi negara-negara maju memiliki kondisi cenderung lebih parah. Tingkat pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju akibat pandemi Covid-19 bahkan sampai minus 17 persen.
Jokowi menilai hal ini harus dipandang sebagai peluang untuk mengejar ketertinggalan.
" Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini sedang macet, sedang hang. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan re-start, harus melakukan re-booting. Semua negara mempunyai kesempatan men-setting ulang semua sistemnya," kata Jokowi.
Lebih lanjut, Jokowi menyatakan pandemi Covid-19 bisa menjadi momentum untuk melakukan pembenahan secara fundamental. Juga melakukan transformasi besar dan menjalankan strategi besar perubahan di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan.
" Saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar," kata Jokowi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya