Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Abier Farhud, Salah Satu Korban Kejahatan Perang Suriah. (Foto: Independent.co.uk)
Dream - Sejumlah eks tahanan wanita Pemerintah Suriah melakukan serangan balik. Penyebabnya, mereka muak dengan perlakuan yang dialami sejumlah tahanan wanita lain, yang kerap diperkosa oleh tentara.
Para eks tahanan ini tengah berusaha mencari dasar hukum untuk menyeret penjahat perang Suriah ke pengadilan internasional.
Zahira (bukan nama sebenarnya) berusia 45 tahun saat dia ditangkap di tempat kerjanya di pinggiran kota Damaskus pada tahun 2013 lalu. Dia lalu dibawa ke Bandara Militer Al Mezzeh.
Begitu sampai di sana, dia diperiksa, diikat ke tempat tidur dan dirudapaksa lima tentara. Selama 14 hari berikutnya, dia mendapat perlakuan tak manusiawi tersebut.
Dalam satu interogasi, seorang tentara merekam apa yang terjadi dan mengancam akan menunjukkannya kepada keluarga dan tetangga Zahira.
Dia pun dipindahkan dari satu fasilitas ke fasilitas lainnya selama lima bulan, selain mengalami kekerasan seksual berulang kali. Tidak hanya itu, Zahira juga kerap dipukuli.
Satu satu kali dia disetrum dan dipukuli dengan pipa. Di lain waktu, dia diikat terbalik selama lebih dari satu jam sambil wajahnya dipukuli.
Di Markas Cabang Intelijen Militer 235, dia tidur di sel berukuran 3 x 4 meter dengan 48 wanita lainnya. Ruangan tersebut sangat sempit sehingga tahanan harus tidur bergantian.
© Dream
Mereka diizinkan untuk menggunakan toilet setiap 12 jam sekali, dan mencuci setiap 40 hari sekali.
Zahira baru dilepaskan dari penjara saat penyiksaan yang dialaminya mempengaruhi kesehatannya. Zahira kehilangan kesadaran dan dibawa ke rumah sakit. Sipir penjara takut telah membunuhnya.
Setibanya di fasilitas medis, dokter mengatakan Zahira menderita hepatitis, pneumonia dan anemia. Dia harus tinggal di rumah sakit selama empat bulan untuk menyembuhkan beragam penyakit yang dideritanya. Kisah yang dialaminya benar-benar sangat mengerikan dan di luar nalar.
Kesempatan di rumah sakit digunakan Zahira dan puluhan wanita pemberani lainnya untuk berbagi cerita dengan jaringan dokter dan pengacara Suriah yang diasingkan Presiden Bashar al-Assad.
Mereka mendokumentasikan apa yang terjadi pada Zahira dan rekan-rekan yang senasib dengannya selama di penjara.
Bekas luka fisik dan mental selama penahanan akan mempengaruhi wanita-wanita ini selama sisa hidup mereka. Banyak yang merasa malu,.
Parahnya, hubungan mereka dengan keluarga dan masyarakat telah berubah karena stigma yang melekat akibat kekerasan seksual dan pemerkosaan.
Mereka berharap dengan mengungkapkan apa yang terjadi di pusat penahanan tersebut akan memberikan tekanan internasional pada pemerintah Suriah. Mereka ingin penyidik internasional datang ke negara tersebut dan menghentikan pemerintah untuk bertindak tanpa proses hukum.
© Dream
Kesaksian mereka akan menyeret banyak pihak. Pejabat, polisi, dan militer Suriah dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka melakukan kejahatan perang.
"Ini mungkin adalah bukti paling kuat yang kita miliki untuk membawa mereka ke hukum internasional," kata seorang ahli bedah saraf dan salah satu pendiri Pengacara dan Dokter untuk Hak Asasi Manusia Suriah (LDHR) di Suriah melalui telepon dari Gaziantep, di perbatasan Turki-Suriah.
"Ini adalah salah satu peluang terbaik kami untuk mendapatkan keadilan atas kejahatan-kejahatan mereka terhadap kemanusiaan," tambah dia.
Sementara itu Carla del Ponte, seorang jaksa penuntut kejahatan perang internasional terkemuka, mengundurkan diri dari jabatannya di panel PBB untuk investigasi pelanggaran hak asasi manusia dalam perang saudara awal bulan ini.
Dia sangat frustrasi karena ketidakmampuannya menahan para pelaku untuk dibawa ke pengadilan kejahatan perang.
"Saya menyerah. Negara-negara di Dewan Keamanan (PBB) tidak menginginkan keadilan," katanya kepada media.
Dewan Keamanan, katanya, seharusnya menunjuk sebuah pengadilan yang serupa dengan konflik Rwanda dan Yugoslavia. PBB seperti tidak berdaya karena selalu diveto oleh anggota tetapnya, Rusia, yang merupakan pendukung utama pemerintahan Assad.
(Sumber: independent.co.uk)
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Apa yang Terjadi Jika Semua Hutan di Bumi Hilang? Bukan Cuma Hewan, Kehidupan Manusia Ikut Terancam

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya
