Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Siti Nadia Tarmizi mengakui upaya mengubah perilaku masyarakat agar disiplin protokol kesehatan membutuhkan perjuangan ekstra. Terlebih adanya informasi sesat yang masih menyebar di masyarakat.
Upaya itu semakin berat karena penerapan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan menggunakan sabun (3M) oleh masyarakat mulai mengendur. Faktor lelah dengan kondisi pandemi ini menjadi salah satu pemicunya.
" Penerapan 3M ini sedikit melemah, mungkin karena masyarakat sudah agak lelah," katanya di Jakarta, Jumat 11 Desember 2020.
Libur panjang pada 28 Oktober hingga 1 November 2020, kata dia, berdampak pada peningkatan kasus di 8 hingga 22 November. Hal tersebut juga bisa terjadi karena masyarakat mulai lengah dengan penerapan protokol kesehatan.
Lebih lanjut ia menerangkan, penerapan 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) mulai membuat masyarakat mulai jenuh.
Apalagi, masyarakat Indonesia bersifat komunal sehingga sosialisasi dan interaksi dengan banyak orang sulit dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, ujar juru bicara vaksinasi Covid-19 tersebut.
" Jadi, dari sifat masyarakat ini kita lihat terutama saat libur panjang ada penurunan penerapan 3M," ujarnya seperti dilansir dari Merdeka.com, Jumat 11 Desember 2020.
Siti tidak menampik penerapan 3M tersebut belum menjadi sebuah kebiasaan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, upaya ekstra misalnya sosialisasi dari pemerintah dan duta adaptasi kebiasaan baru perlu lebih maksimal lagi.
Selain alasan-alasan tersebut, Siti Nadia mengatakan mulai turunnya penerapan 3M dikarenakan masih banyak individu-individu yang tidak memercayai Covid-19.
Bahkan, kondisi itu diperparah dengan adanya sejumlah berita atau informasi hoaks yang sengaja disebarluaskan sehingga membuat masyarakat semakin tidak percaya dengan Covid-19.
Tidak hanya itu, faktor psikologis juga membawa pengaruh kepada masyarakat sehingga penerapan 3M mulai agak menurun, ujarnya.
" Ini kan termasuk perubahan perilaku ya, jadi masyarakat kita itu harus terus diingatkan soal 3M agar menjadi sebuah kebiasaan dan bagian dari gaya hidup," tutup Siti.
Sumber: merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya