Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Siapa yang tak kenal buah Durian? Aromanya yang khas tentu langsung membuat sekitar tepukau. Dalam dunia medis, ternyata kulit durian bisa diolah menjadi suatu yang bermanfaat.
Dilansir lama Channel News Aisa, ilmuan Singapura berhasil mengubah kulit buah yang dijuliki King of Fruit itu, menjadi perban hidrogel antibakteria. Perban buatan ilmuwan Nanyang Technological University (NTU) itu sengaja dikembangkan sebagai upaya Singapura menuju nol limbah.
Menurut Profesor William Chen, Direktur Program Ilmu dan Teknologi Pangan NTU, " 12 juta dikonsumsi tiap tahunnya tapi kebanyakan kulitnya dibuang."
Sekam durian, yang terdiri dari sekitar 60 peren dari durian, biasanya juga dibuang dan dibakar. Sehingga hal ini menimbulkan masalah lingkungan.
Perban hidrogel bersifat bidegradable dan tidak beracun. Berarti memiliki jejak lingkungan lebih kecil, ketimbang perban sintetis konvensional yang biasa dipakai.
Prof Chen dan timnya membuat perban dengan mengekstrasi selulosa berkualitas tinggi dari kulit durian. Lalu, mereka mengubah sekam menjadi bubuk selulusa melalui pemotongan, pengeringan beku, dan penggilingan bila sebelum menghilangkan kotoran.
Menurut pengakuan Prof Chen, penggunaan perban ini menekan biaya yang signifikan dibanding metode tradisional menggunakan enzim.
Metode tradisional bisa mengeluarkan biaya sekira 27.000 dolar Singapura atau setara Rp289 juta per kg, sedangkan hidrogel anti-bakteria Prof Chen hanya memakan biaya 120 dolar Singapura atau setara Rp1,2 juta per kg, untuk mengekstraksi jumlah selulosa yang sama.
Setelah mengekstrasi selulosa, peneliti akan menggabungkan ekstrak dengan gliserol --produk sampingan limbah dari industri biodesel dan sabun-- untuk membuat gel lembut. Gel yang mirip selembarang silikom, dapat dipotong menjadi perban berbagai bentuk dan ukuran.
Tak hanya itu, perban buatan Prof Chen diklaim bisa berfungsi dalam kondisi cuaca ekstrem sekalipun.
Menurut Prof Chen, tambalan hidrogel konvesional yang beredar berbahan dasar sintetis. Sehingga mereka memiliki sifat antimikroba dengan menggunakan senyawa logam seperti ion perak atau tembaga.
Bahan-bahan tersebut menjadi lebih mahal ketimbang buatan Prof Chen yang berasal dari alam.
Menurut Prof Chen, sangat penting untuk menjaga prosesnya tetap sederhana, berbiaya rendah dan ramah lingkungan.
Sumber: channel news asia
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam